×

Pencarian

Penjual Tanaman Antisipasi Dampak Musim Kemarau

IKOBENGKULU — Musim kemarau membuat penjual tanaman di Kota Bengkulu harus meningkatkan perawatan agar tanaman tetap tumbuh dengan baik. Penyiraman dilakukan lebih rutin, sementara pemupukan disesuaikan dengan kondisi cuaca dan kebutuhan setiap jenis tanaman.

Pemilik Depot Bunga Prima Florist, Dedi Prasetyo, 42 tahun, mengatakan penyiraman tanaman selama musim kemarau dilakukan dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari. Beberapa jenis tanaman membutuhkan perhatian lebih karena mudah layu apabila kekurangan air.

Menurut Dedi, tanaman nusa indah menjadi salah satu tanaman yang membutuhkan kecukupan air selama musim kemarau. Jika kebutuhan air tidak terpenuhi, tanaman dapat mengalami kelayuan. Selain itu, bugenvil juga membutuhkan perawatan lebih agar tetap tumbuh dengan baik selama cuaca panas.

“Kalau musim kemarau seperti sekarang ini memang harus ekstra dalam perawatannya. Penyiraman dilakukan pagi dan sore. Ada tanaman yang kalau kekurangan air akan cepat layu, seperti nusa indah. Bugenvil juga harus lebih diperhatikan,” kata Dedi Prasetyo, Selasa (28/7/2026).

Selain penyiraman, pemupukan juga dilakukan untuk menjaga nutrisi tanaman. Dedi mengatakan pemupukan cair dapat dilakukan sekitar satu bulan sekali, terutama untuk tanaman yang berada di dalam polibag karena kebutuhan air dan nutrisinya lebih terbatas. Sementara tanaman seperti kamboja dan beringin yang ditanam langsung di tanah dapat disiram dua hari sekali karena akarnya telah menyatu dengan tanah.

Dari sisi penjualan, Dedi mengatakan minat konsumen selama musim kemarau cenderung berkurang. Sebagian pembeli lebih memilih tanaman yang dinilai tahan terhadap cuaca panas, seperti bugenvil, serta bibit tanaman buah seperti alpukat, kelengkeng, dan jambu air.

Untuk harga, bugenvil original dijual sekitar Rp300 ribu, sedangkan bugenvil sambung dengan variasi warna dapat mencapai Rp350 ribu. Sementara harga tanaman seperti beringin dan anting putri disesuaikan dengan jenis dan ukurannya.

Sementara itu, pemilik Lusy Flower di Jalan Padang Kemiling, Pekan Sabtu, Ali Mundar, 74 tahun, mengatakan penyiraman saat musim kemarau membutuhkan waktu lebih lama dan dilakukan dua kali sehari.

“Kalau musim kemarau penyiramannya lebih banyak dan lebih lama. Kita siram pagi dan sore, dua kali sehari,” ujar Ali.

Ali mengatakan pemupukan lebih baik dilakukan saat musim hujan karena kondisi tanah lebih lembap. Sementara pada musim kemarau, pemupukan dilakukan sekitar tiga bulan sekali dengan mempertimbangkan kondisi tanaman.

“Kalau pemupukan yang bagus itu di musim hujan karena tanahnya lembap. Kalau musim kemarau paling tiga bulan sekali,” katanya.

Menurut Ali, musim kemarau juga berdampak terhadap jumlah konsumen. Penjualan tanaman cenderung berkurang karena sebagian masyarakat mempertimbangkan perawatan tanaman yang membutuhkan penyiraman lebih rutin.

“Konsumen juga lebih berkurang karena melihat kondisi seperti ini. Mungkin orang malas menyiram tanaman,” ujarnya.

Meski menghadapi tantangan dalam perawatan dan penurunan konsumen, Ali mengaku tetap menikmati pekerjaannya karena menanam tanaman merupakan hobinya. Ia telah menjalankan usaha tanaman selama 14 tahun.

Kondisi musim kemarau di Bengkulu yang sulit dipastikan membuat penjual tanaman harus menyesuaikan perawatan dengan keadaan cuaca. Penyiraman dan pemberian nutrisi dilakukan secara rutin untuk menjaga tanaman tetap sehat dan tidak mudah layu hingga mati.

Penulis: Shabrina Putri Zakirah