×

Pencarian

Percepat Penurunan Stunting, 260 PKB/PLKB Bengkulu Perkuat Kompetensi Pendampingan Konsumsi Pangan Sehat

Bengkulu,ikobengkulu.com,– Percepatan penurunan stunting di Provinsi Bengkulu, tahun ini Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) setempat turunkan tenaga penyuluh dan petugas KB di daerah itu untuk mengikuti pelatihan teknis pendampingan makan bergizi dan edukasi pola konsumsi pangan sehat keluarga. Pelatihan tersebut diarahkan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan PKB/PLKB dalam memberikan pendampingan kepada keluarga, khususnya terkait pemenuhan kebutuhan gizi dan edukasi pola konsumsi pangan sehat.

Pelatihan yang akan digelar secara virtual pada akhir Agustus -2026 itu melibatkan sebanyak 260 PKB/PLKB di Provinsi Bengkulu. Ini bagian dari upaya memperkuat kapasitas tenaga lini lapangan dalam mendorong percepatan penurunan stunting di Bengkulu melalui penerapan pola konsumsi yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman. Melalui penguatan kapasitas tersebut, PKB/PLKB diharapkan mampu menjadi penggerak edukasi di tengah masyarakat dalam pendampingan MBG 3B. Pendampingan tidak hanya menyasar keluarga yang memiliki balita, tetapi juga keluarga pada kelompok sasaran ibu hamil, ibu menyusui yang memiliki peran penting dalam pencegahan stunting.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu, dr. H. Zamhir Setiawan, M.Epid., mengatakan, penanganan stunting membutuhkan pendekatan yang menyentuh langsung kehidupan keluarga. Karena itu, kemampuan tenaga lini lapangan dalam memberikan edukasi gizi menjadi sangat penting dalam program percepatan penurunan stunting di Bengkulu," ujarnya Rabu, (19/8/2026)

Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat angka stunting bertengger pada angka 18,8 persen tersebar di sejumlah daerah kabupaten dan kota di Bengkulu.

“PKB/PLKB merupakan tenaga yang berhadapan langsung dengan keluarga. Karena itu, pemahaman tentang makanan bergizi dan pola konsumsi pangan sehat harus diperkuat agar edukasi yang diberikan kepada masyarakat benar-benar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

dr. H. Zamhir menambahkan, pemenuhan gizi keluarga, terutama pada kelompok sasaran ibu hamil, ibu menyusui dan balita non PAUD hingga pada kelompok remaja merupakan salah satu pilar penting dalam peningkatan kesehatan dan pencegahan masalah gizi. Kelompok sasaran tersebut berada pada fase kritis siklus kehidupan, di mana asupan gizi yang tidak memadai akan berdampak jangka panjang terhadap kualitas kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak.

Selain itu, pola konsumsi lansia perlu juga mendapat perhatian dalam keluarga mengingat meningkatnya  risiko penyalit degeneratif yang disebabkan oleh pola makan yang tidak tepat di kalangan lanjut usia. Oleh sebab itu Kemendukbangga/BKKBN perlu adanya pelatihan tehnis makan bergizi dan pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman (B2SA) menjadi strategi kunci dalam menerapkan keluarga perilaku makan sehat di tingkat keluarga.

Pelatihan teknis ini sekaligus menjadi langkah penguatan peran PKB/PLKB dalam mendukung program pembangunan keluarga dan percepatan penurunan stunting di Provinsi Bengkulu. Pendampingan berbasis keluarga diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku konsumsi pangan yang lebih sehat dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.(***)