×

Pencarian

Penguatan Penyuluh KB Yang Transformatif Gender, BKKBN Gandeng Kapal Perempuan

Bengkuluikobengkulu.com,-Penyuluh program Keluarga Berencana (KB) tidak hanya bertanggungjawab menginformasikan tentang pengaturan jarak kehamilan dan kelahiran. Namun jauh dari itu, tenaga penyuluh sebagai insan edukator harus memiliki kemampuan edukasi untuk dapat mendorong perubahan pola pikir, perubahan perilaku, dan perubahan relasi di dalam keluarga. Melihat dari kebutuhan demikian itu Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Naslional (BKKBN) Provinsi Bengkulu menggandeng organisasi perempuan " Kapal Perempuan "dalam penguatan tenaga penyuluh yang bertranspormatif gender melalui Pelatihan Penguatan Kapasitas Bagi PKB/PLKB Untuk Pembangunan Keluarga Yang Transformatif Gender.

Pelatihan tersebut digelar selama tiga hari pada pekan ke-tiga Agustus 19 hingga 21/8/2026 di Kantor BKKBN Bengkulu itu melibatkan sebanyak 25 PKB/PLKB perwakilan dari sejumlah daerah kabupaten  dan kota di Bumi Merah Putih (BMP). Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi memperkuat peran PKB/PLKB sebagai ujung tombak program Bangga Kencana, khususnya dalam menjangkau masyarakat yang berada di kawasan pesisir dan wilayah dengan tantangan akses pelayanan pembangunan keluarga.

Kemendukbangga/BKKBN mengurus bidang kependudukan, pembangunan keluarga, pengendalian penduduk, serta program keluarga berencana (KB) di Indonesia. Dan, KAPAL Perempuan sebuah organisasi masyarakat sipil yang berfokus untuk mendukung kepemimpinan perempuan dan bekerja untuk memberdayakan perempuan, khususnya perempuan dalam komunitas miskin dan terpinggirkan, dan memastikan kebutuhan mereka dipertimbangkan dalam perencanaan pembangunan. Yang sejalan dengan program Pembangunan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

BKKBN (Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga) dan Institut KAPAL Perempuan memiliki kesamaan fokus pada peningkatan kualitas keluarga, perlindungan sosial, dan pemberdayaan masyarakat akar rumput guna mendukung pembangunan kependudukan yang inklusif di Indonesia. Kolaborasi dua institusi, BKKBN Provinsi Bengkulu dengan Kapal Perempuan dalam rangka meningkatkan kapasitas Penyuluh KB, khususnya dalam memahami dan menerapkan perspektif gender dalam pembangunan keluarga untuk menjawab tantangan pembangunan keluarga pada yang kian kompleks.

Kepala Perwakilan BKKBN Provisi Bengkulu dr. H. Zamhir Setiawan., M.Epid mengatakan, BKKBN mendorong isu-isu gender melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Kelas Ayah Idaman (AMAN) dan Kesehatan Reproduksi," hal itu sejalan dengan program kerja Kapal Perempuan dalam peningkatan kualiatas SDM," disampaikan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu dr. H. Zamhir Setiawan., M.Epid dalam sambutannya pada pembukaan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Bagi PKB/PLKB Untuk Pembangunan keluarga Yang Transpormatif Gender,"Rabu,(19/8/2026).

" BKKBN bersama Kapal Perempuan memiliki visi yang sama dalam studi demografi yaitu Kelahiran (Fertilitas), Kematian (Mortalitas) dan sebaran penduduk(Mobilitas/Migrasi). Melalui tiga program GATI, AMAN dan Kespro dapat meningkatkan Age Specific Fertility Rate (ASFR)  usia 15–19 tahun, meningkatkan Media Usia Kawin Pertama (MUKP) 21 tahun, dapat menekan angka Kehamilan Tidak Diinginkan serta menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Teranyar ASFR usia 15–19 tahun di Provinsi Bengkulu 31 per 1.000 perempuan, menunjukkan tren penurunan dari periode Sensus Penduduk sebelumnya (38,17) -(BPS)."

dr. H.Zamhir menambahkan, GATI, AMAN dikembangkan untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada anak yang sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam menekan pernikahan pada usia anak yang berdampak pada kematian ibu dan anak. Tidak kalah penting, Kemendukbangga memalui penerapan delapan fungsi keluarga membimbing orang tua dan anak untuk membentuk generasi yang kuat, cerdas, serta terhindar dari berbagai masalah sosial," ujar dr. Zamhir Setiawan.

Menekan AKI dan AKB perlu adanya peran ayah /suami memberikan pendampingan kepad aistri dalam memilih kontrasepsi pascapersalinan  dan pengasuhan pada anak sejak bayi hingga usia sekolah melalui program "Ayah Wajib Hadir" dalam mengantar hari pertama anak sekolah "

Melalui pelatihan tersebut, kapasitas PKB/PLKB diperkuat agar mampu melakukan pendampingan, komunikasi, edukasi, serta advokasi program Bangga Kencana secara lebih efektif di tengah masyarakat. Kehadiran Kapal Perempuan dalam kegiatan ini juga menjadi bagian dari penguatan kolaborasi untuk membuka akses pengetahuan dan layanan pembangunan keluarga, sekaligus meretas sekat kependudukan yang selama ini menjadi tantangan dalam menjangkau masyarakat.

Direktur Kapal Perempuan Budhis Utami., M.Hum memiliki tujuan dan visiuntuk membangun kesetaraan gender, yang sejalan dengan BKKBN yaitu dengan peningkatan median usia kawin pertama 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun laki-laki. " Kita komitmen terus membangun isu ini untuk terus disosialisasikan batas usia kawin pertama pada usia 21-25 tahun," kata Budhis Utami di Bengkulu, Rabu, (19.8.2026).

Kolaborasi ini semata untuk bersama-sama dalam membangun keluarga Indonesia dengan menghadirkan isu-isu kesetaraan gender  dalam keluarga, karena isu tersebut dapat membantu percepatan pembangunan keluatas SDM. Dan kerjasama ini dapat membantu tenaga penyuluh untuk lebih edukatif pada hal-hal yang bersifat membangun," ujar Budhis.

Ketua IPeKB Daerah Provinsi Bengkulu Helmi Suanda,S.Sos menyebutkan, penguatan kapasitas penyuluh KB bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Penyuluh KB dalam memahami dan menerapkan pendekatan gender transformatif dalam pembangunan keluarga. Sehingga kehadiran tenaga penyuluh prorgam Bangga Kencana dapat mengisi ruang yang sangat besar untuk menjadi agen perubahan sosial di tingkat keluarga dan masyarakat.

Disebutkan Helmi, ada beberapa tujuan krusial dalam penguatan kapasitas penyuluh bersama Kapal Perempuan yaitu, agar penyuluh dapat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai konsep gender, kesetaraan gender, dan pembangunan keluarga yang transformatif gender. Mampu mengidentifikasi berbagai persoalan dan ketimpangan gender yang terjadi di tingkat keluarga maupun masyarakat.
Serta mampu mengintegrasikan perspektif gender dalam pelaksanaan penyuluhan dan pendampingan keluarga.
Dan mampu mengembangkan pendekatan komunikasi yang lebih partisipatif, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan laki-laki maupun perempuan. (***)