×

Pencarian

Kemarau Dongkrak Penjualan Depot Air Isi Ulang

IKOBENGKULU – Musim kemarau yang melanda Kota Bengkulu membawa dampak berbeda bagi pelaku usaha depot air minum isi ulang. Di satu sisi, permintaan air galon meningkat karena kebutuhan masyarakat terhadap air bersih semakin tinggi. Namun di sisi lain, sebagian pelaku usaha justru harus berjuang mendapatkan pasokan air akibat debit sumur yang menurun.

Pemilik depot air isi ulang, Deva (35), mengatakan jumlah pelanggan mengalami peningkatan selama musim kemarau. Menurutnya, banyak masyarakat memilih membeli air galon ketika pasokan air dari PAM mengalami gangguan atau bahkan mati.

"Kalau ramai bisa sampai sekitar 120 galon per hari, sedangkan paling sedikit sekitar 60 galon. Kalau air PAM mati, biasanya masyarakat langsung beli air galon," ujarnya saat diwawancarai Senin (27/7/26).

Deva menjelaskan depot miliknya tidak mengalami kendala berarti meski kemarau berlangsung cukup lama. Hal itu karena sumber air yang digunakan berasal dari mata air, sehingga pasokan masih tetap tersedia meskipun debitnya sedikit berkurang.

"Kalau di tempat saya tidak terlalu terdampak karena pakai air sumber. Memang saat kemarau debit mata air bisa mengecil, tapi masih aman. Kalaupun airnya agak keruh, kami punya mesin penyaringan sehingga tetap bersih dan layak digunakan," jelasnya.

Sementara itu, kondisi berbeda dialami Mei (22), pemilik depot air isi ulang yang mengandalkan pasokan dari sumur bor sedalam 90 meter. Ia mengaku musim kemarau membuat proses pengambilan air menjadi jauh lebih lama karena debit air menurun drastis.

"Saat kemarau mengisi satu tangki berkapasitas 1.000 liter bisa sampai lima jam. Padahal kalau tidak kemarau, paling lama dua sampai tiga jam sudah penuh," ungkapnya.

Meski menghadapi keterbatasan pasokan air, Mei mengaku penjualan justru mengalami peningkatan karena tingginya kebutuhan masyarakat terhadap air bersih selama cuaca panas. Omzet hariannya pun ikut naik dari sekitar Rp500 ribu menjadi mencapai Rp700 ribu per hari.

Musim kemarau memberikan dampak yang berbeda bagi pelaku usaha depot air isi ulang di Kota Bengkulu. Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap air bersih, depot yang memiliki sumber pasokan air yang stabil dapat memenuhi tingginya permintaan pelanggan. 

Sementara itu, depot yang mengandalkan sumur bor harus menghadapi penurunan debit air yang membuat proses produksi menjadi lebih lama. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemarau tidak hanya meningkatkan permintaan air galon, tetapi juga menjadi tantangan dalam menjaga ketersediaan pasokan air bersih bagi masyarakat.

Penulis: Fiza Pratisya Zuinara