IKOBENGKULU – Balai Adat Rajo Penghulu menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Kota Bengkulu yang menghadirkan berbagai koleksi benda-benda antik dan peninggalan masa lampau. Selain menjadi tempat pelestarian budaya, balai adat ini juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat, mulai dari anak-anak hingga mahasiswa.
Pengelola Balai Adat Rajo Penghulu, Asi (46), mengatakan balai adat ini didirikan pada tahun 2019. Awalnya, bangunan tersebut digunakan sebagai tempat berkumpul para pemangku adat untuk melaksanakan musyawarah adat, kegiatan seni bela diri, seni tari, serta berbagai kegiatan adat lainnya.
"Balai ini didirikan pada tahun 2019. Pertamanya kami jadikan tempat para pemangku adat untuk bermusyawarah adat, seperti kegiatan seni bela diri, seni tari, dan kegiatan nusyawarah adat," ujarnya, Kamis (2/7).
Seiring berjalannya waktu, Balai Adat Rajo Penghulu mulai diisi dengan berbagai koleksi benda-benda bersejarah dan barang antik yang dikumpulkan dari berbagai daerah, termasuk Pulau Jawa. Menurut Asi, koleksi tersebut bertujuan agar masyarakat, khususnya generasi muda, dapat mengenal kehidupan masyarakat pada masa lalu.
"Kami mencoba mengisi rumah ini dengan benda-benda bersejarah, benda-benda zaman dulu, benda-benda jadul, dan benda-benda antik. Supaya masyarakat, terutama remaja, tahu kalau nenek moyang mereka dulu memakai barang-barang seperti ini. Orang-orang tuajuga bisa bernostalgia," katanya.
Balai Adat Rajo Penghulu kini juga menjadi tempat wisata edukasi yang menerima kunjungan dari berbagai kalangan. Untuk mendukung operasional dan perawatan koleksi, sejak pertengahan tahun 2025 pengelola mulai memberlakukan tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang. Sebelumnya, pengunjung dapat masuk secara gratis. Menurut pengelola, pendapatan dari tiket masuk pada akhir pekan dapat mencapai sekitar Rp150.000 per hari, sedangkan pada hari biasa berkisar Rp50.000 per hari.
Asi berharap keberadaan Balai Adat Rajo Penghulu terus mendapat dukungan dari pemerintah agar koleksi bersejarah tetap terawat dan dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat.
Sementara itu, salah seorang pengunjung, Liza (20), mengaku memanfaatkan waktu libur kuliahnya untuk berkunjung ke Balai Adat Rajo Penghulu karena ingin melihat langsung koleksi benda-benda antik yang kini sudah jarang ditemukan.
"Saya datang kesini karena ingin melihat barang-barang zaman dulu. Saya memang suka lihat barang-barang yang unik. Selain jalan-jalan, disini juga bisa menambah ilmu dan wawasan. Ada uang lama dan berbagai perabotan rumah tangga zaman dulu," ungkap Liza.
Dengan memadukan fungsi sebagai pusat pelestarian budaya dan destinasi wisata edukasi, Balai Adat Rajo Penghulu diharapkan terus menjadi ruang pembelajaran sejarah yang mampu menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya Bengkulu sekaligus memperkenalkannya kepada generasi mendatang.
Penulis : Yeyen Andiska
