KEPAHIANG – Pemerintah Kabupaten Kepahiang kian agresif dalam menekan angka stunting. Melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A), sebanyak 399 personel tim pendamping diterjunkan langsung ke lini lapangan.
Tim yang menjadi ujung tombak ini disebar secara merata di seluruh kecamatan serta 117 desa dan kelurahan di Kabupaten Kepahiang.
Kepala DPPKBP3A Kabupaten Kepahiang, Linda Rospita, MH, menegaskan bahwa penanganan stunting kini menjadi prioritas utama instansinya. Dalam bergerak, tim di lapangan tidak bekerja sendiri, melainkan berkolaborasi dengan kader Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan bidan desa.
"Tim pendamping yang berjumlah 399 orang ini sudah masuk dalam tim percepatan penurunan stunting. Mereka mengemban amanah sebagai ujung tombak kita di lapangan," ujar Linda.
Kawal Calon Pengantin hingga Melahirkan
Menurut Linda, pola kerja tim pendamping kali ini jauh lebih spesifik dan preventif (pencegahan). Selain memberikan penyuluhan program Keluarga Berencana (KB) seperti biasanya, mereka kini fokus melakukan pendampingan intensif pada keluarga yang masuk kategori berisiko stunting.

Bahkan, pengawasan sudah dimulai sejak hulu, yakni sebelum ikatan pernikahan terjadi.
"Tim pendamping keluarga ini ikut mengawal calon pengantin sebelum mereka menikah. Setelah itu, pengawasan berlanjut secara ketat kepada ibu hamil, mulai dari awal masa kehamilan hingga proses melahirkan," jelas Linda.
Keroyokan Antar-OPD
Linda menyadari bahwa persoalan stunting tidak bisa diselesaikan oleh satu instansi saja. Oleh karena itu, DPPKBP3A terus memperkuat sinergi dan koordinasi lintas sektor dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya di lingkungan Pemkab Kepahiang.
"Kami terus berkoordinasi dengan instansi terkait, seperti Dinas Kesehatan dan dinas lainnya. Ini adalah kerja keroyokan untuk memperkuat peran dan tugas masing-masing OPD demi memastikan angka stunting di Kepahiang bisa turun drastis," pungkasnya.(adv)
