×

Pencarian

Menghapus Jejak Karbon di Jalur Energi, Elnusa Petrofin Sulap Ban Bekas Jadi Benteng Pesisir

POSO,- Di pesisir Desa Tokorondo, Kecamatan Poso Pesisir, Sulawesi Tengah, deburan ombak Selat Makassar tak lagi langsung menghempas dinding rumah warga. Di batas air itu, ratusan ban bekas berwarna hitam legam tersusun rapi, terikat kokoh membentuk barikade. Ban-ban jompo yang dulunya menempuh ribuan kilometer membelah aspal Nusantara sebagai roda mobil tangki pengangkut bahan bakar minyak (BBM), kini mengemban tugas baru: menjadi benteng peredam abrasi.

Struktur penahan ombak berbasis ban bekas yang dinamai Appostraps (Alat Pemecah, Peredam Ombak, dan Sedimen Traps) ini merupakan salah satu fragmen kecil dari upaya menjinakkan paradoks di industri energi fosil. Adalah PT Elnusa Petrofin (EPN), ujung tombak distribusi energi Pertamina, yang mencoba merajut kembali robekan ekologis akibat aktivitas bisnisnya.

Setiap liter BBM yang tiba tepat waktu di stasiun pengisian hingga pelosok Nusantara menyisakan jejak karbon yang nyata di atmosfer. Kesadaran atas ironi inilah yang mendorong korporasi tersebut mengintegrasikan strategi ekonomi sirkular ke dalam urusan rantai pasok mereka melalui payung kebijakan #PetrofinResik.

Mitigasi Berbasis Data
 

Program Hutan Petrofin untuk Net Zero Emission melalui penanaman 100 pohon mangrove di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat/foto/dok/elnusa

Komitmen memitigasi dampak lingkungan ini bukan sekadar aktivitas filantropi tanpa arah. Di sektor kehutanan dan pesisir, langkah EPN bertumpu pada Program Hutan Petrofin yang diluncurkan sebagai program CSR flagship pada tahun 2025.

Sejak diinisiasi secara bertahap pada 2022 hingga kuartal pertama 2025, perusahaan mencatat telah menanam 13.023 bibit pohon produktif. Berdasarkan data yang dirilis pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 2 Juni 2025, laju penanaman menunjukkan grafik yang terukur:

Perkembangan Penanaman Pohon Hutan Petrofin (2023–2025)

 2023    : 2.532 pohon (Fokus penyerapan karbon)
 2024    : 5.295 pohon (Fokus penahan erosi)
 Q1 2025 : 1.465 pohon (Fokus ekosistem karbon biru)

Pemilihan vegetasi tidak dilakukan secara acak. Trembesi dipilih karena kapasitasnya yang tinggi dalam menjerat karbondioksida di udara. Bambu ditanam untuk menjaga struktur tanah dari erosi. Sementara mangrove difungsikan sebagai benteng alami garis pantai sekaligus pembentuk ekosistem karbon biru (blue carbon) yang potensial.

Secara akumulatif, seluruh pohon yang tertanam diestimasi mampu mereduksi emisi hingga 127,6 ton CO2 ekivalen. Meski angka ini terhitung kecil dibandingkan total emisi operasional distribusi energi skala nasional, langkah tersebut menjadi penting sebagai sebuah komitmen yang dapat diaudit secara ilmiah.

Siklus Hidup Produk

Lebih dari sekadar menanam pohon, pendekatan yang dilakukan EPN menjadi menarik ketika menyentuh prinsip cradle-to-grave atau pengelolaan produk dari hulu hingga hilir. Program Appostraps adalah contoh bagaimana limbah operasional—berupa ban luar mobil tangki yang aus—diperpanjang siklus hidupnya sebelum benar-benar menjadi sampah yang mencemari lingkungan.

Hingga akhir tahun 2025, inovasi ini telah diterapkan di tiga lokasi kritis. Pertama di Teluk Kabung Tengah, Kota Padang, Sumatera Barat pada Juli 2025 dengan menyalurkan 100 unit ban bekas. Wilayah ini lama didera abrasi yang mengancam ruang hidup nelayan. Struktur ban tersebut terbukti mampu memperlambat laju hantaman ombak sekaligus menjebak sedimen laut secara alami dan hemat biaya.

Replikasi serupa kemudian dilanjutkan di Balikpapan, Kalimantan Timur, dan memuncak pada akhir Oktober 2025 di Desa Tokorondo, Poso. Di Poso, dengan menggandeng kepolisian daerah setempat, sebanyak 367 unit ban bekas dipasang untuk melindungi kawasan pesisir dari kerusakan yang lebih masif.

"Limbah dari satu siklus industri kini bertransformasi menjadi solusi ekologis bagi ekosistem yang rapuh. Ini adalah bentuk konkret penghentian mata rantai perusakan lingkungan," tulis laporan evaluasi lingkungan triwulan perusahaan.

Konsistensi Sehari-hari

Ujian terberat dari sebuah komitmen keberlanjutan sebuah korporasi sering kali terletak pada konsistensi hal-hal mikro. Integrasi nilai-nilai ramah lingkungan ini lambat laun merembet ke aktivitas sosial dan tradisi perusahaan.

Pada Agustus 2025, dalam Gerakan Wisata Bersih yang diinisiasi Kementerian Pariwisata di Pantai Karang Ria, Manado, EPN menguji coba program ASIAP (Armada Transportasi Sampah Desa Sapa Raya). Sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas di Kecamatan Tenga, Minahasa Selatan ini berhasil memilah dan mengonversi sampah anorganik pedesaan menjadi material yang memiliki nilai ekonomi. Langkah ini disaksikan langsung oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana sebagai bentuk nyata kolaborasi publik-swasta.

Bahkan, pada dimensi ritual keagamaan seperti ibadah kurban, prinsip pengurangan plastik sekali pakai (Beat Plastic Pollution) mulai diadopsi. Saat mendistribusikan daging kurban dari 44 ekor sapi dan 105 ekor kambing kepada belasan ribu penerima di 125 titik di Indonesia, perusahaan mengganti kantong plastik konvensional dengan wadah yang dapat digunakan kembali (reusable).

Upaya-upaya berlapis yang dilakukan oleh Elnusa Petrofin ini seakan menegaskan tesis baru di dunia industri: korporasi energi masa kini tidak bisa lagi sekadar bertumpu pada sumbangan pertumbuhan ekonomi atau pemenuhan pasokan pasar untuk melegitimasi dampak lingkungan yang mereka timbulkan.

Di tengah desakan global menuju target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 yang semakin mengikat, apa yang dirajut di sepanjang jalur distribusi EPN bukan lagi sekadar program pemanis laporan tahunan. Ia adalah prasyarat mutlak bagi keberlanjutan bisnis itu sendiri di masa depan. ***