Bengkuluikobengkulu.com,- Pencegahan stunting tidak semata-mata berbicara tentang kesehatan dan gizi anak. Di balik tumbuh kembang anak yang optimal, ada keluarga yang harus memiliki ketahanan ekonomi, pengetahuan, serta kemampuan memenuhi kebutuhan pangan bergizi anak. Di sinilah kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA) memiliki peran penting. Kelompok kegiatan (poktan) binaan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN ini tidak hanya menjadi ruang bagi keluarga untuk mengembangkan usaha, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kesejahteraan keluarga hingga penurunan stunting.
Bagi keluarga, penghasilan tambahan dari usaha kecil dapat memiliki arti besar. Dari usaha makanan, kerajinan, perdagangan hingga berbagai produk rumah tangga, UPPKA mendorong keluarga agar mampu memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitar menjadi sumber pendapatan. Ketika ekonomi keluarga semakin kuat, peluang keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasar, termasuk pangan bergizi bagi ibu dan anak, juga semakin terbuka.
“UPPKA bukan hanya berbicara tentang usaha dan pendapatan. Lebih jauh, bagaimana keluarga bisa berdaya, mandiri dan memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya,” demikian semangat penguatan kelompok UPPKA dalam pembangunan keluarga. UPPKA adalah wadah pemberdayaan ekonomi mikro akar rumput yang dikelola oleh keluarga akseptor KB dan masyarakat. Kelompok ini menjalankan kegiatan ekonomi produktif skala mikro untuk meningkatkan pendapatan, membangun kemandirian finansial, serta memperkuat ketahanan ekonomi keluarga. Melalui keluarga memiliki ketahanan ekonomi maka hadir perannya dalam penurunan stunting.
dr. H. Zamhir Setiawan., M.Epid menekankan pentingnya peran kelompok UPPKA sebagai motor penggerak mandiri dalam membangun ketahanan ekonomi keluarga, keluarga berketahanan modal utama dalam mensonsong masyarakat mandiri sejahtera hingga mengentaskan stunting," hal itu disampaikannya ketika mengunjungi kelompok UPPKA Barokah di Kelurahan Mubai, Kecamatan Lebong Selatan, Kabupaten Lebong, Bengkulu, Selasa,(11/8/2026).
Kelompok pejuang ekonomi akar rumut itu telah dikembangkan oleh BKKBN di sejumlah daerah di tanah air. Di Bengkulu terdapat sebanyak 932 UPPKA, kelompok pelaku ekonomi mikro ini juga berkembang di Bumi Merah Putih tersebar di sejumlah daerah kabupaten dan kota di Bengkulu. Hingga Agustus tahun ini terdapat sebanyak 151 di Kabupaten Bengkulu Selatan, Rejang Lebong 54 kelompok, Bengkulu Utara sebanyak 131 kelompok KAbupaten Kaur sebanyak 162 UPPKA, Seluma terdapat 80 kelompok, Mukomuko 133, Lebong 76 kelompok, Kepahiang 57 UPPKA, Bengkulu Tengah terdapat 32 dan Kota Bengkulu 56 kelompok.
Harapan besar keluarga terhadap puluhan UPPKA di daerah itu mempu bersinergi dalam menekan persoalan kependudukan di Lebong untuk mengintervensi 407 keluarga berisiko stunting (KRS).
Stunting merupakan persoalan yang berkaitan erat dengan berbagai aspek kehidupan keluarga. Asupan gizi, pola pengasuhan, sanitasi, kesehatan ibu dan anak serta kondisi sosial ekonomi saling berkaitan. Karena itu, intervensi stunting membutuhkan pendekatan yang menyentuh akar persoalan. Penguatan ekonomi keluarga menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ketahanan keluarga.(***)
