IKOBENGKULU — Berlokasi di Desa Panca Mukti, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah, Kampung Batik Panca Mukti menjadi wadah masyarakat untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya batik. Selain memproduksi batik, masyarakat juga mengajarkan keterampilan membatik kepada warga agar tradisi tersebut tetap hidup dan dapat diwariskan.
Kampung Batik Panca Mukti berdiri sejak 2020. Gagasan ini muncul dari masyarakat yang mayoritas merupakan warga transmigrasi dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan telah lama mengenal budaya batik.
Ketua Kelompok Batik Desa Panca Mukti, Nanik, mengatakan kedekatan masyarakat dengan budaya batik mendorong mereka untuk mengembangkan batik sebagai warisan budaya.
“Karena kami berasal dari Jawa dan sejak dulu sudah mengenal batik, kami punya gagasan untuk mengembangkan warisan budaya ini. Batik juga merupakan salah satu warisan budaya yang harus kita jaga,” ujar Nanik saat diwawancarai Selasa (11/08/26).
Kegiatan membatik mulai dikembangkan pada 2020, bertepatan dengan masa pandemi Covid-19. Saat berbagai aktivitas masyarakat mengalami keterbatasan, warga Panca Mukti justru mengumpulkan ide dan mengajak masyarakat untuk menghidupkan kegiatan membatik.
Pelatihan kemudian diberikan kepada ibu-ibu di Desa Panca Mukti sebagai langkah awal untuk mengenalkan keterampilan membatik sekaligus memperbanyak pengrajin di desa tersebut.
Dari kegiatan itu, lahirlah Batik Sungai Lemau yang kemudian menjadi batik khas Kabupaten Bengkulu Tengah. Nama tersebut diambil dari nama Kerajaan Sungai Lemau yang pernah berjaya di wilayah Bengkulu Tengah dan ditetapkan oleh pemerintah daerah pada 2023.
Rumah Batik Panca Mukti menjadi salah satu tempat produksinya. Batik Sungai Lemau memiliki ciri khas motif Gunung Bungkuk yang menjadi karakteristik pada kain tersebut.
Upaya pelestarian juga mendapat dukungan pemerintah desa melalui pelatihan bagi masyarakat. Sementara Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah mendukung penggunaan Batik Sungai Lemau melalui surat edaran yang mewajibkan ASN dan dinas mengenakannya setiap Kamis pada minggu ketiga setiap bulan.
Bagi Nanik, keberadaan Kampung Batik Panca Mukti bukan hanya untuk menghasilkan produk, tetapi juga memastikan warisan budaya tersebut tetap terjaga.
“Kami tidak hanya sekadar memproduksi, tetapi yang paling penting adalah menjaga warisan itu sendiri agar tidak musnah,” katanya.
Ke depan, Nanik berharap Panca Mukti dapat berkembang menjadi sentra batik dengan semakin banyak pengrajin dari masyarakat setempat. Ia juga berharap pemasaran Batik Sungai Lemau dapat menjangkau pasar nasional hingga internasional.
Penulis: Fiza Pratisya Zuinara

