IKOBENGKULU – Di balik tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sebakul, Kota Bengkulu, terdapat kehidupan para pemulung yang menggantungkan penghasilan dari barang-barang bekas yang masih memiliki nilai jual. Salah satunya adalah Mariama, seorang pemulung yang telah bekerja di TPA Sebakul selama lebih dari 20 tahun.
Salah seorang Pemulung Marima, (66) Setiap hari, Mariama berangkat dari rumahnya di kawasan Taba Penanjung menuju TPA Sebakul sejak pukul 06.00 WIB. Ia bekerja hingga sekitar pukul 15.30 WIB dengan mengumpulkan berbagai jenis barang bekas seperti kaleng, botol plastik, dan barang daur ulang lainnya untuk dijual kepada pengepul.
Menurut Mariama, penghasilannya sebagai pemulung tidak menentu dan bergantung pada banyaknya barang yang berhasil dikumpulkan. Dalam sehari, ia biasanya memperoleh sekitar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu, sedangkan pendapatan tertinggi yang pernah diperolehnya mencapai Rp100 ribu saat sampah yang masuk ke TPA lebih banyak dari biasanya.
"Kalau ramai barang, bisa sampai seratus ribu. Tapi biasanya paling lima puluh sampai tujuh puluh ribu sehari," ujarnya saat di wawancarai pada (14/7/26).
Namun, pekerjaan tersebut bukan tanpa risiko. Mariama mengaku harus menghadapi cuaca panas setiap hari serta kondisi fisik yang semakin menurun. Ia sering merasakan sakit pinggang akibat aktivitas mengangkat dan memilah sampah, bahkan terkadang mengalami demam setelah bekerja seharian di lokasi pembuangan sampah.
Selain menghadapi risiko kesehatan, Mariama mengatakan dirinya belum pernah menemukan barang berharga seperti emas maupun uang saat bekerja. Meski demikian, ia mengaku pernah mendengar ada pemulung lain yang beruntung menemukan barang bernilai di antara tumpukan sampah.
Terkait perhatian pemerintah, Mariama mengungkapkan bahwa dirinya pernah menerima bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup, namun bantuan tersebut diberikan dalam waktu yang cukup lama dan tidak rutin. Ia berharap perhatian terhadap kesejahteraan para pemulung dapat terus ditingkatkan.
Selain itu, Mariama juga menyampaikan harapannya agar akses jalan menuju TPA Sebakul dapat diperbaiki. Menurutnya, kondisi jalan yang lebih baik akan memudahkan aktivitas para pemulung maupun kendaraan yang keluar masuk ke lokasi TPA.
Keberadaan para pemulung seperti Mariama menjadi bagian penting dalam pengelolaan sampah di TPA Sebakul. Meski bekerja di tengah berbagai keterbatasan dan risiko, mereka turut membantu mengurangi volume sampah melalui pemilahan barang-barang yang masih dapat didaur ulang. Mereka berharap pemerintah tidak hanya memperhatikan pengelolaan sampah, tetapi juga kesejahteraan para pemulung yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup di TPA tersebut.
Penulis: Yeyen

