×

Pencarian

Warga Sekitar TPA Air Sebakul Soroti Masalah Limbah Hingga Ketergantungan Ekonomi

IKOBENGKULU — Keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Air Sebakul, Kota Bengkulu, menghadirkan kondisi yang kompleks bagi warga pemukiman sekitar. Di satu sisi, warga mengeluhkan dampak lingkungan dan infrastruktur yang buruk, namun di sisi lain keberadaan TPA menjadi tumpuan ekonomi harian.

Dina (47), warga yang telah menetap selama 15 tahun di kawasan TPA Air Sebakul, mengungkapkan bahwa buruknya saluran drainase (siring) membuat air limbah sampah (leachate) meluap ke pemukiman saat musim hujan. Kondisi ini diperparah oleh bau menyengat dan serbuan lalat.

"Kalau hujan jalanan becek dan baunya makin menyengat. Selain itu ada musim lalat, sampai-sampai pintu rumah tidak bisa dibuka. Memang ada penyemprotan, tapi cuma enam bulan sekali," kata Dina saat ditemui di kediamannya, Selasa (14/7/2026) pukul 10.55 WIB.

Dina mendesak Pemerintah Kota Bengkulu untuk segera turun tangan membenahi tiga hal utama yaitu perbaikan akses jalan, pembenahan siring agar limbah tidak meluap, serta perbaikan alat berat pengolah sampah yang sering rusak.

"Harapan kami jalannya diperbaiki, alat berat jangan sering rusak, dan siring dibenahi biar air limbah tidak meluap ke rumah warga. Pemerintah harus turun langsung," tegasnya.

Namun, sudut pandang berbeda disampaikan Rusmaila (45). Warga yang sudah 20 tahun tinggal di kawasan TPA ini mengaku sudah terbiasa dan tidak lagi merasa terganggu oleh bau sampah maupun masalah lingkungan di sekitarnya.

Bagi Rusmaila, TPA Air Sebakul justru menjadi sumber mata pencaharian utama untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya dari mengumpulkan sampah.

"Alhamdulillah sehat-sehat saja kami di sini. Bau juga tidak terasa lagi karena sudah biasa tinggal di sini sekitar 20 tahun. Kami juga mengumpulkan sampah di sini untuk mencukupi kebutuhan," tutur Rusmaila.

Kehidupan warga di sekitar TPA Air Sebakul pun terus berjalan. Di tengah bau sampah dan luapan limbah yang mengganggu, kawasan ini tetap jadi tempat mereka mencari nafkah untuk menyambung hidup.

Penulis: Shabrina Putri zakirah