Oleh : Idris Chalik
Tidak setiap pasangan usia subur (PUS) yang dapat ber-KB steril baik jenis metode operasi pria (MOP) maupun Metode Operasi Wanita (MOW). Untuk mendapat layanan KB steril PUS atau calon akseptor terlebih awal perlu memenuhi syarat-syarat. MOW atau tubektomi harus memenuhi syarat sukarela, medis, dan paritas (jumlah anak) untuk memastikan kesiapan menjalani prosedur kontrasepsi permanen ini.
Syarat mendapat pelayanan KB steril, dimana calon peserta memahami dan menyetujui prosedur ini tanpa paksaan dari pihak mana pun. Calon akseptor perlu adanya persetujuan dari pasangan (suami/isteri). Selain paritas memiliki minimal 2 anak yang sehat, usia calon akseptor pun menjadi priortas. Calon minimal berusia 25-30 tahun, sangat disarankan tidak lebih dari 45 tahun.
Dari banyak persyaratan itu, keputusan pun diambil dengan matang oleh Nopita S (nama samaran) warga Kota Bengkulu yang berusia 37 tahun bersama pasangannya Ferry B (44) untuk ber-KB dengan metode steril wanita atau yang dikenal dengan tubektomi.
Keputusan untuk tidak lagi menambah momongan bukanlah perkara mudah bagi setiap pasangan. Ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan, mulai dari kondisi kesehatan, kemampuan ekonomi, hingga kesiapan dalam memberikan pendidikan dan pengasuhan terbaik bagi anak-anak. Bagi sebagian keluarga di Bengkulu, MOW menjadi pilihan yang diambil setelah melalui proses pertimbangan yang matang.
Salah satunya adalah Nopita S seorang ibu yang telah dikaruniai tiga orang anak. Setelah berdiskusi panjang dengan suami, keluarga dan mendapatkan penjelasan dari tenaga kesehatan, ia akhirnya memutuskan menjadi akseptor MOW.
Menurutnya, keputusan tersebut bukan semata-mata untuk membatasi jumlah anak, melainkan sebagai langkah untuk memastikan setiap anak mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan kesempatan yang lebih baik dalam meraih masa depan.
"Kami sudah merasa cukup. Sekarang yang paling penting adalah bagaimana anak-anak bisa tumbuh sehat, mendapatkan pendidikan yang baik, dan kami orang tua fokus mendorong anak-anak untuk mengejar harapan masa depannya yang lebih baik," ungkapnya.
Nopita mengaku, awalnya sempat merasa ragu dengan banyak hal . Namun setelah mengikuti konseling dan memahami manfaat serta prosedur MOW, keraguan itu perlahan hilang. Kami semakin yakin bahwa keputusan yang diambil merupakan bagian dari perencanaan keluarga yang bertanggung jawab.
Baginya, keluarga yang berkualitas tidak hanya diukur dari jumlah anggota keluarga, tetapi juga dari kemampuan orang tua dalam memenuhi kebutuhan anak-anak secara optimal. Dengan jumlah anak yang sudah ideal, ia dan suami dapat lebih fokus menyiapkan masa depan keluarga.
Perasaan lega pun dirasakan setelah menjalani prosedur MOW. Tidak ada lagi kekhawatiran terhadap kehamilan yang tidak direncanakan. Sebaliknya, muncul ketenangan karena dapat lebih fokus menjaga kesehatan, mendampingi tumbuh kembang anak, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga," hal itu diakui Nopita usai menjalani operasi MOW di Bengkulu, moment peringatan Harganas ke 33/2026.
Fenomena ini juga menjadi gambaran meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya perencanaan keluarga. Melalui pelayanan keluarga berencana, pasangan usia subur diberikan kesempatan untuk memilih metode kontrasepsi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Terlihat dari bulan bakti KB harganas ke-33 tahun 2026 antusias PUS muda untuk mendapat pelayanan MOW cukup menggembirakan yang mencapai 10 orang akseptor," ujar Herlianti PKB Kota Bengkulu.
Dia menilai bahwa setiap keputusan menjadi akseptor MOW merupakan bentuk tanggung jawab pasangan dalam merencanakan kehidupan keluarga. Sebelum tindakan dilakukan, calon akseptor terlebih dahulu mendapatkan konseling menyeluruh agar memahami manfaat, risiko, serta konsekuensi dari metode kontrasepsi mantap tersebut.
MOW sendiri diperuntukkan bagi perempuan yang telah memutuskan tidak ingin memiliki anak lagi. Karena bersifat permanen, keputusan tersebut harus diambil secara sadar dan berdasarkan pertimbangan yang matang bersama pasangan.
Di balik setiap keputusan menjadi akseptor MOW, tersimpan harapan besar dari para orang tua. Harapan agar anak-anak tumbuh sehat, berpendidikan, dan memiliki masa depan yang lebih baik. Sebab pada akhirnya, ketika keluarga menjadi prioritas, setiap keputusan yang diambil adalah bentuk cinta dan tanggung jawab untuk menghadirkan kehidupan yang lebih berkualitas bagi generasi penerus.(***)