×

Pencarian

Refleksi Tempur Prabowo di Tuban, Sebut Tentara Tak Bisa Perang Tanpa Beras dan Tiwul Rakyat

TUBAN – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan pilar absolut bagi keamanan dan keberlangsungan sebuah negara. Belajar dari hukum sejarah dunia, Kepala Negara menyebut tidak ada satu pun bangsa di bumi yang mampu bertahan hidup (survive) tanpa adanya jaminan produksi pangan yang lancar, aman, dan berkesinambungan.

Pernyataan filosofis tersebut disampaikan Presiden dalam pidato kebangsaannya di hadapan para petani, nelayan, dan jajaran aparat di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Sabtu (16/5).

"Saya belajar sejarah, saya belajar bernegara. Hal fundamental yang saya dapatkan adalah tidak mungkin suatu negara bisa bertahan tanpa produksi pangan yang lancar, aman, dan berkesinambungan," ujar Presiden Prabowo.

Petani dan Nelayan Penjaga Peradaban

Dari kedekatan emosional yang telah lama terbangun sejak memimpin organisasi tani nasional, Kepala Negara mengaku sangat memahami betapa krusialnya posisi para pekerja agraria di tingkat tapak. Bagi Presiden, petani dan nelayan bukanlah profesi pelengkap, melainkan produsen utama yang menyambung nyawa seluruh rakyat Indonesia.

"Itulah mengapa dari sejarah saya makin sadar, betapa pentingnya para petani dan nelayan. Mereka adalah produsen makanan untuk seluruh bangsa dan negara," tuturnya.

Untuk menggambarkan betapa vitalnya urusan logistik, Presiden Prabowo membagikan sekelumit pengalamannya semasa aktif menjadi komandan pasukan tempur di medan operasi. Dari sana, beliau menekankan bahwa pangan bukan sekadar urusan kalkulasi ekonomi, melainkan instrumen pertahanan negara yang paling menentukan hidup dan mati.

"Dulu, kalau ada beras, kita hitung kuat untuk berapa hari. Kalau berasnya cukup untuk lima hari, ya lima hari kita operasi tempur. Kalau berasnya ada untuk 14 hari, berarti 14 hari kita bergerak. Bayangkan saudara-saudara jika tidak ada beras, tentara sehebat apa pun akan sulit untuk beroperasi," kenang mantan Danjen Kopassus tersebut.

Memori Perjuangan dan Sinergi Bangsa

Lebih lanjut, Presiden mengajak pembaca bernostalgia dengan mengenang kembali masa-masa perang kemerdekaan. Sejarah mencatat bahwa kekuatan utama tentara dan aparat negara saat itu bukan terletak pada canggihnya persenjataan, melainkan pada ketulusan masyarakat desa yang menjadi penopang logistik gerilya.

Presiden menceritakan bagaimana setiap kali pasukan melakukan latihan atau pergerakan di pelosok daerah, masyarakat kampung selalu menyambut dengan tangan terbuka, meskipun kondisi ekonomi mereka sendiri berada dalam keterbatasan.

"Rakyat desa keluar memberi kita makan dan minum, walaupun hidup mereka sendiri sangat susah. Mereka punya pisang, pisang dikasih. Mereka punya ubi, ubi diberikan. Bahkan mereka punya tiwul, tiwul pun dikasih untuk tentara," ungkap Presiden dengan nada haru.

Menutup arahannya, Kepala Negara menegaskan bahwa swasembada pangan yang mandiri tidak akan pernah terwujud jika elemen bangsa bergerak sendiri-sendiri. Diperlukan sinergi total dari hulu hingga hilir demi menjaga eksistensi Indonesia di masa depan.

"Setiap orang yang ingin melihat negara dan bangsa kita ini langgeng, wajib hukumnya untuk fokus dan menaruh perhatian besar pada masalah pangan. Saya berterima kasih karena tim pertanian dan tim pangan saya saat ini bekerja dengan sangat baik dan kuat," pungkas Presiden Prabowo.