TUBAN – Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi lahirnya berbagai inovasi lokal di sektor pangan dan energi yang dinilai mampu memperkuat ketahanan nasional di tengah ancaman krisis global. Dua terobosan yang disoroti Kepala Negara adalah konversi tongkol jagung menjadi briket arang serta pemanfaatan batu bara kalori rendah sebagai bahan baku pupuk mandiri.
Apresiasi tersebut disampaikan Presiden di sela agenda groundbreaking 10 Gudang Ketahanan Pangan Polri dan peluncuran 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Sabtu (16/5).
Presiden tidak dapat menyembunyikan rasa puasnya saat mengetahui limbah pertanian seperti tongkol jagung kini memiliki nilai guna yang tinggi sebagai sumber energi alternatif.
"Saya gembira, saya lega. Mengapa? Karena dunia sedang krisis energi dan negara-negara luar panik. Tapi sekarang saya diberi tahu, 'Pak tenang, kita bisa bikin briket arang dari tongkol jagung.' Waduh, luar biasa. Tadinya tongkol itu dibuang, sekarang bisa jadi sumber energi," ujar Presiden Prabowo dengan nada optimis.
SDM Inovatif di Garis Depan
Menurut Kepala Negara, lahirnya terobosan ini menjadi bukti sahih bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia yang kreatif dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan zaman. Sinergi antara aparat di lapangan, masyarakat, dan kaum akademisi dinilai menjadi kunci utama lahirnya inovasi tapak tersebut.
"Di tengah krisis, Indonesia punya putra-putri yang inovatif, yang tidak menyerah, dan berani mencari ilmu. Karena kalian dekat dengan rakyat, dekat dengan kampus, dan dekat dengan para insinyur serta sarjana, makanya kalian tahu solusi ini," lanjutnya.
Presiden kembali mengingatkan bahwa sektor pangan merupakan pilar kedaulatan yang paling strategis bagi masa depan bangsa. Oleh karena itu, segala upaya untuk mengamankan dan meningkatkan produksi pangan sama saja dengan mengamankan kedaulatan negara.
Lepas dari Ketergantungan Impor
Selain briket tongkol jagung, Presiden Prabowo juga menaruh perhatian besar pada pengembangan pupuk berbahan batu bara kalori rendah. Inovasi ini dinilai menjadi jawaban konkret untuk memutus ketergantungan sektor pertanian Indonesia terhadap pupuk impor.
"Begitu kita lepas dari ketergantungan pupuk dari luar negeri, kita menjadi sangat kuat. Saya minta ini segera diimplementasikan, ini konsep dan temuan yang sangat bagus," tegas Presiden.
Sebagai langkah hilirisasi agar berdampak langsung pada ekonomi arus bawah, Kepala Negara menginstruksikan agar produk-produk inovasi pangan dan energi ini nantinya didistribusikan secara luas melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Langkah ini diharapkan mampu memotong rantai distribusi, sehingga kebutuhan dasar pertanian dan energi dapat dinikmati masyarakat dengan harga semurah-murahnya, sekaligus mendongkrak daya beli dan kualitas hidup masyarakat di perdesaan.
