Bengkulu - Peringatan Hari Oeang Republik Indonesia (HORI) ke-80 di Provinsi Bengkulu tidak hanya menjadi ajang refleksi pengelolaan keuangan negara, tetapi juga dimanfaatkan untuk memperkuat perekonomian masyarakat melalui pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Bengkulu menggelar bazar UMKM dengan melibatkan sejumlah pelaku usaha lokal. Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen jajaran Kemenkeu dalam mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat sekaligus membuka ruang promosi bagi produk lokal agar lebih dikenal luas.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Bengkulu, Zaid Burhan Ibrahim, mengatakan peringatan HORI ke-80 harus menjadi momentum untuk menegaskan kembali komitmen pemerintah dalam mengelola keuangan negara agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat.
“Pengelolaan keuangan negara memiliki dua aspek penting. Pertama, mengoptimalkan penerimaan negara. Kedua, memastikan anggaran belanja negara digunakan secara efektif, efisien, serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Zaid, Kamis (30/10/2026).
Ia menambahkan, tanggung jawab Kementerian Keuangan tidak hanya soal penerimaan dan pengeluaran negara, namun juga mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya sektor UMKM.
Menurut Zaid, UMKM memiliki peluang besar untuk berkembang jika mendapat ruang pemasaran, pendampingan, dan dukungan berkelanjutan. Oleh karena itu, bazar HORI ke-80 diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi pintu masuk bagi pelaku usaha lokal untuk memperluas jaringan konsumen.
“Harapan kita, UMKM ini bisa naik kelas. Usaha yang sebelumnya masih kecil dapat berkembang menjadi menengah, kemudian tumbuh lebih besar lagi,” kata Zaid.
Bazar ini melibatkan seluruh unit kerja di lingkungan Kementerian Keuangan Provinsi Bengkulu, mulai dari Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Direktorat Jenderal Perbendaharaan, hingga Direktorat Jenderal Kekayaan Negara. Masing-masing unit memberi ruang bagi UMKM binaan untuk memperkenalkan produknya.
Dari jajaran Perbendaharaan sendiri, tercatat sekitar 11 UMKM telah mendapatkan pembinaan secara berkelanjutan, baik dari sisi kualitas produk maupun kapasitas bisnis.
Zaid menilai, keberhasilan UMKM tidak cukup hanya diukur dari kemampuan menghasilkan produk. Pelaku usaha juga harus memperhatikan cita rasa, kemasan, daya tarik produk, hingga pelayanan kepada konsumen.
“Ketika masyarakat merasa puas, mereka berpotensi kembali membeli sekaligus merekomendasikannya kepada orang lain. Promosi dari mulut ke mulut ini sangat efektif,” jelasnya.
Ia pun mengajak masyarakat Bengkulu untuk mendukung pertumbuhan usaha lokal dengan membeli produk UMKM peserta bazar. Selain itu, peran media massa juga dinilai penting dalam memperluas jangkauan promosi UMKM.
“Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan media harus terus terbangun. Jika usaha masyarakat maju, maka akan membuka lapangan kerja dan mendorong perekonomian daerah,” pungkas Zaid.
Melalui peringatan HORI ke-80, Kemenkeu Bengkulu ingin menegaskan bahwa keberpihakan terhadap UMKM harus diwujudkan melalui langkah konkret dan berkesinambungan, bukan sekadar kegiatan sesaat.
