×

Pencarian

Pakar Chulalongkorn University: Penggunaan AI Harus Tetap Menjaga Kreativitas Manusia

BENGKULU – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam industri kreatif perlu diimbangi dengan upaya mempertahankan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan orisinalitas manusia.

Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan Dr. ShawHong Ser dari Chulalongkorn University, Thailand, dalam materi International Conference on Social and Political Sciences (ICSOPOLIS) 2026, Rabu (28/10/2026).

ShawHong merupakan Wakil Ketua International School of Communication Management, Faculty of Communication Arts, Chulalongkorn University.

Dalam presentasi berjudul Designer as Cultural and Social Mediator, ia membahas tantangan dan peluang perkembangan teknologi bagi dunia desain dan industri kreatif pada era Society 5.0.

“Society 5.0 membutuhkan keseimbangan antara inovasi teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan,” ujar ShawHong.

Menurut materi tersebut, tantangan utama Society 5.0 bukan sekadar kemampuan masyarakat mengadopsi teknologi canggih, melainkan bagaimana teknologi dikembangkan dan diterapkan secara bertanggung jawab.

Pengembangan teknologi perlu mendukung kebutuhan manusia, keberagaman budaya, serta pembangunan berkelanjutan.

AI dan Tantangan Industri Kreatif

Dalam paparannya, ShawHong mengidentifikasi lima peluang perkembangan Society 5.0, yakni peningkatan kualitas hidup, inovasi pendidikan, pengembangan industri kreatif dan inovasi digital, pembangunan berkelanjutan, serta pelestarian budaya dan konektivitas global.

Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan sejumlah tantangan.

Tujuh tantangan yang diidentifikasi dalam materi presentasi meliputi kesenjangan digital, privasi dan keamanan siber, transformasi pekerjaan, penggunaan AI secara etis, interaksi antarmanusia, identitas budaya, serta dampak lingkungan.

Dalam bidang desain dan industri kreatif, penggunaan AI menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian.

“Mengintegrasikan AI ke dalam proses kreatif dengan tetap mempertahankan kreativitas manusia, penilaian kritis, dan orisinalitas,” ucapnya.

Poin itu menekankan pentingnya mempertahankan peran manusia dalam proses kreatif meskipun teknologi semakin banyak digunakan.

Desain Berpusat pada Manusia

ShawHong juga mengangkat pentingnya pendekatan desain yang berpusat pada manusia atau human-centred design.

Pendekatan tersebut menekankan pengembangan solusi desain yang inklusif, mudah diakses, serta mampu merespons kebutuhan sosial yang beragam.

“Mengembangkan solusi desain yang inklusif dan mudah diakses untuk menjawab beragam kebutuhan sosial,” ujarnya.

Selain desain yang berpusat pada manusia, ShawHong membahas penggunaan AI dalam praktik kreatif dan penerapan prinsip desain yang beretika.

Dalam materi tersebut, desain yang beretika mencakup pertimbangan terhadap privasi, representasi, aksesibilitas, dan tanggung jawab sosial dalam pengambilan keputusan desain.

Ketiga pendekatan tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai implikasi Society 5.0 terhadap dunia desain dan industri kreatif.

Perubahan Peran Desainer

ShawHong turut menguraikan perubahan orientasi dalam bidang desain komunikasi dan industri kreatif.

Perubahan tersebut mencakup pergeseran dari estetika visual menuju pengalaman yang berpusat pada manusia, serta dari produksi desain menuju kemampuan melakukan penilaian kreatif.

Selain itu, orientasi desain juga bergeser dari tren visual global menuju identitas budaya dan dari identitas visual statis menuju komunikasi yang adaptif.

Perubahan lainnya adalah pergeseran dari keterampilan teknis menuju kemampuan berpikir kritis dan reflektif.

“Dari keterampilan teknis menuju pemikiran kritis dan reflektif,”  kata ShawHong.

Melalui pembahasan tersebut, peran desainer ditempatkan tidak hanya dalam proses menghasilkan karya visual, tetapi juga dalam mempertimbangkan kebutuhan manusia, identitas budaya, dan tanggung jawab sosial. ***