BENGKULU – Komoditas gaharu asal Provinsi Bengkulu memiliki potensi ekonomi menjanjikan dengan nilai jual sekitar Rp100 juta per ton untuk jenis tertentu. Namun, keterbatasan fasilitas pengolahan membuat sebagian hasil produksi masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku maupun setengah jadi ke luar daerah.
Pelaku usaha gaharu Bengkulu, Ali Batubara, mengungkapkan bahwa tanaman gaharu banyak ditemukan di Kabupaten Bengkulu Tengah, Seluma, dan Bengkulu Utara. Potensi tersebut diperkenalkan dalam kegiatan Bencoolen Regional Investment and Economic Forum (BRIEF) 2026 bertajuk “Connecting Opportunities, Driving Economic Transformation” di Hotel Mercure Bengkulu, Senin (12/10/2026).
Menurut Ali, gaharu Bengkulu telah memiliki jaringan pemasaran hingga Jakarta dan Malaysia. Bahkan, pengiriman komoditas tersebut ke Jakarta disebut telah mencapai puluhan ton. Melalui forum investasi BRIEF 2026, pelaku usaha berharap dapat menjalin kerja sama dengan investor untuk mengembangkan industri pengolahan gaharu di Bengkulu.
“Di Bengkulu tumbuh banyak, terutama di Bengkulu Tengah, Seluma, dan Bengkulu Utara. Kita sudah kirim ke Jakarta, bahkan sebelumnya mencapai puluhan ton,” ujar Ali saat ditemui di sela kegiatan.
Ali menjelaskan, gaharu memiliki nilai ekonomi tinggi karena dapat diolah menjadi berbagai produk turunan, seperti dupa, buhur, resin, hingga minyak gaharu yang digunakan sebagai bahan baku industri wewangian dan parfum.
“Macam-macam turunannya. Bisa buhur, bisa dupa, terus bisa kita ambil resinnya, minyak,” jelasnya.
Menurutnya, harga jual gaharu sangat bergantung pada jenis, kualitas, kandungan resin, serta permintaan pembeli. Untuk jenis tertentu, harga komoditas tersebut berada di kisaran Rp100 juta per ton.
Sementara itu, gaharu dengan kualitas dan kandungan resin berbeda dapat memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Ali mengatakan, tanaman gaharu di Bengkulu tidak hanya tumbuh secara alami, tetapi juga telah dibudidayakan oleh masyarakat.
Dalam pengelolaannya, petani dapat melakukan proses inokulasi untuk merangsang pembentukan resin pada batang pohon. Teknik tersebut memungkinkan tanaman menghasilkan bagian kayu yang memiliki nilai ekonomi.
“Satu batang ini bisa sampai empat kali panen. Satu kali panen sekitar enam bulan,” katanya.
Meski demikian, hasil panen tetap bergantung pada kondisi tanaman, keberhasilan proses inokulasi, serta kualitas gaharu yang dihasilkan.
Industri Pengolahan Gaharu Masih Terkendala Mesin
Ali mengungkapkan, salah satu tantangan terbesar pengembangan komoditas gaharu di Bengkulu adalah keterbatasan teknologi pengolahan, terutama mesin distilasi untuk menghasilkan minyak gaharu.
Selama ini, sebagian bahan baku gaharu dikirim ke Jakarta untuk diproses lebih lanjut oleh mitra usaha yang telah memiliki fasilitas dan perizinan.
Menurutnya, pengadaan mesin distilasi membutuhkan investasi besar, bahkan dapat mencapai miliaran rupiah.
“Distilasinya di Jakarta. Kita mesinnya belum punya, mahal, bisa miliaran,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat potensi nilai tambah dari pengolahan gaharu belum sepenuhnya dinikmati pelaku usaha di Bengkulu.
Padahal, jika fasilitas pengolahan tersedia di daerah, gaharu berpeluang dikembangkan menjadi produk jadi yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan penjualan bahan mentah.
Selain persoalan mesin, Ali menyebutkan pengembangan produk turunan gaharu juga menghadapi tantangan perizinan.
Sejumlah produk berbahan gaharu mulai dikembangkan, termasuk minyak oles. Namun, produk yang dipasarkan dengan klaim manfaat kesehatan memerlukan pengujian serta perizinan sesuai ketentuan sebelum dapat diedarkan secara luas.
Berharap Investor Bangun Industri Gaharu di Bengkulu
Melalui kegiatan BRIEF 2026, Ali berharap potensi gaharu Bengkulu dapat menarik perhatian investor, baik dari dalam maupun luar negeri.
Menurutnya, investasi tidak hanya dibutuhkan untuk pengadaan mesin, tetapi juga pengembangan kapasitas produksi, peningkatan kualitas produk, serta perluasan jaringan pemasaran.
“Dengan ikut di event BRIEF ini, mudah-mudahan dapat investor,” ujarnya.
Ali menilai Bengkulu memiliki potensi bahan baku untuk mendukung pengembangan industri gaharu. Apalagi, komoditas tersebut telah memiliki jaringan perdagangan ke luar daerah dan peluang pasar internasional.
Selain Malaysia, kawasan Timur Tengah juga disebut sebagai salah satu pasar potensial untuk produk gaharu, khususnya bahan pewangi dan dupa.
Namun, pengembangan pasar ekspor membutuhkan kesiapan produksi, standar kualitas, legalitas perdagangan, serta kepastian pasokan.
Ali berharap ke depan gaharu Bengkulu tidak lagi hanya dipasarkan sebagai bahan baku, melainkan dapat diolah langsung di daerah menjadi produk bernilai tambah.
Dengan demikian, pengembangan industri gaharu diharapkan mampu memperluas peluang usaha, meningkatkan pendapatan petani, sekaligus memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Bengkulu.
Kehadiran BRIEF 2026 menjadi salah satu kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan potensi tersebut kepada calon investor dan membuka peluang kerja sama pengembangan industri hilir berbasis komoditas unggulan daerah.
