Bagi banyak mahasiswa, media sosial kini bukan lagi sekadar tempat untuk mencari hiburan. TikTok, Instagram, Twitter, YouTube dan berbagai platform lainnya juga menjadi tempat untuk mendapatkan informasi. Mulai dari berita terkini, tips belajar, informasi kesehatan, hingga berbagai isu sosial.
Semuanya bisa muncul begitu saja di halaman For You Page (FYP). Bahkan, tidak jarang kita lebih dulu mengetahui suatu informasi yang sedang ramai di bicarakan dari FYP daripada dari media berita.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di kalangan mahasiswa. Survei Asosiasi Penyelenggaraan Jasa Internet Indonesia (APJII) 2025 mencatat penetrasi internet di Indonesia mencapai 80,66 persen. Media sosial menjadi salah satu alasan utama masyarakat terhubung ke internet, yaitu 24,80 persen, lebih tinggi daripada akses berita atau informasi yang sebesar 15,04 persen.
Bagi banyak orang, media sosial bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan pintu utama untuk mendapat informasi. Kemudahan ini tentu memberikan banyak manfaat. Algoritma menampilkan konten yang sesuai dengan minat kita, sehingga dalam waktu singkat kita bisa mengetahui banyak hal.
Namun, di balik kemudahan tersebut, ada pertanyaan yang perlu kita pikirkan: apakah sering mendapatkan informasi dari FYP berarti kita sudah cakap bermedia digital? Menurut saya, jawabannya belum tentu.
Mendapatkan informasi yang cepat tidak selalu berarti kita memahami informasi tersebut dengan benar. Salah satu persoalan yang sering terjadi di media sosial adalah informasi disajikan dalam bentuk yang sangat singkat.
Persoalan yang sebenarnya rumit bisa dirangkum menjadi video berdurasi kurang dari satu menit. Agar menarik perhatian, pembuat konten kerap memakai judul provokatif atau pernyataan yang memancing rasa penasaran.
Akibatnya, seseorang bisa saja langsung percaya hanya karena informasi tersebut disampaikan dengan meyakinkan dan telah ditonton oleh banyak orang.
Padahal, banyaknya penonton atau likes bukanlah jaminan bahwa sebuah informasi dapat dipercaya. Informasi yang viral tetap bisa salah, tidak lengkap, atau bahkan sengaja dibuat untuk menarik perhatian. Di sinilah kemampuan untuk memeriksa kembali informasi menjadi penting.
Cakap bermedia digital tidak cukup diukur dari kemahiran memakai media sosial, membuat konten, atau mengikuti tren. Kita juga perlu mampu memahami informasi, menilai sumbernya, membandingkannya dengan sumber lain, dan mempertimbangkan apakah informasi itu layak dipercaya atau tidak.
Mahasiswa sebagai salah satu kelompok yang aktif menggunakan media sosial seharusnya memiliki kemampuan tersebut. Jangan sampai kita hanya menjadi pengguna yang rajin scroll, tetapi malas melakukan verifikasi.
Ketika menemukan informasi yang menarik, kita seharusnya tidak langsung percaya atau membagikannya. Ada baiknya kita berhenti sebentar dan bertanya: siapa yang membuat informasi ini? Dari mana sumbernya? Adakah sumber lain yang membahas hal yang serupa? Kapan informasi itu dibuat?
Kebiasaan sederhana seperti melakukan pengecekan ulang sebenarnya merupakan bagian dari literasi digital. Kita tidak harus menjadi ahli teknologi untuk melakukannya. Membandingkan informasi dari beberapa sumber, membaca artikel secara utuh, memeriksa tanggal publikasi, dan melihat siapa yang menyampaikan informasi sudah menjadi langkah sederhana untuk menggunakan media sosial dengan lebih bijak.
Selain kemampuan memeriksa informasi, kita juga perlu menyadari bahwa FYP setiap orang tidak selalu sama. Apa yang muncul di halaman kita dipengaruhi oleh aktivitas dan interaksi yang kita lakukan sebelumnya. Ketika kita sering menonton jenis konten tertentu, algoritma akan cenderung menampilkan konten yang serupa.
Akibatnya, kita bisa merasa bahwa apa yang muncul di FYP adalah gambaran dari kenyataan secara keseluruhan, padahal sebenarnya kita hanya melihat sebagian informasi.
Hal ini membuat kemampuan berpikir kritis semakin penting. Jangan sampai karena terus-menerus melihat konten dengan pendapat yang sama, kita menganggap pendapat tersebut sebagai satu-satunya kebenaran.
Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk mendapatkan berbagai perspektif, bukan ruang yang membuat kita hanya melihat informasi yang sesuai dengan apa yang sudah kita percaya.
Dalam kerangka literasi digital C.A.B.E (Cakap, Aman, Budaya, dan Etika), kecakapan menjadi salah satu kemampuan dasar yang perlu dimiliki pengguna media digital. Namun, kecakapan tersebut juga tidak bisa dipisahkan dari aspek aman, budaya, dan etika.
Ketika mendapatkan informasi, kita perlu menjaga keamanan data pribadi, memahami budaya dan norma yang berlaku di ruang digital, serta memiliki etika untuk tidak sembarangan menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya.
FYP memang dapat menjadi sumber informasi yang praktis, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya sumber kita mencari kebenaran. Kita tetap perlu membaca, mencari sumber lain, dan melakukan verifikasi sebelum mempercayai atau membagikan sesuatu.
Menjadi pengguna digital yang cakap bukan berarti harus menjauhi media sosial, melainkan menggunakannya dengan lebih sadar. Jangan hanya bertanya, “Apa yang sedang viral di FYP saya?”, tetapi juga, “Apakah informasi yang saya lihat ini benar?”
Sebab, di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan untuk berhenti sejenak, berpikir kritis, dan memeriksa kembali mungkin jauh lebih penting daripada kemampuan untuk terus scroll.
Oleh: Revi Yunita (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Bengkulu)
