×

Pencarian

INKINDO Bengkulu Pacu Konsultan Kuasai AI dan Baca Arah Baru Pembangunan

BENGKULU — Dunia konsultansi menghadapi perubahan besar. Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat hingga bergesernya prioritas pembangunan pemerintah menuntut para konsultan untuk tidak lagi bekerja dengan pola lama.

Situasi tersebut menjadi perhatian Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) Provinsi Bengkulu dalam Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) DPP INKINDO Bengkulu Tahun 2026 yang digelar di Hotel Santika Bengkulu, Senin (31/8/2026).

Mengusung tema “Membangun Kebersamaan dan Keakraban serta Profesionalisme Konsultan untuk Mewujudkan INKINDO Bengkulu yang Adaptif, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan”, Rakerprov menjadi momentum menyatukan langkah pengurus dan anggota sekaligus menyusun program kerja organisasi untuk empat tahun mendatang.

Ketua DPP INKINDO Provinsi Bengkulu, Ir. Dwi Oktarini, ST., MM., MT., mengatakan perubahan teknologi dan kebutuhan pembangunan menjadi tantangan yang harus dijawab dengan peningkatan kompetensi.

Menurutnya, Rakerprov bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan ruang untuk memastikan seluruh anggota memiliki arah yang sama dalam menghadapi dinamika dunia usaha dan pembangunan.

“Rapat kerja ini penting agar seluruh anggota mengetahui apa yang akan dilakukan pengurus selama empat tahun ke depan. Salah satu fokus kita adalah meningkatkan kemampuan dan daya saing anggota, sekaligus mendorong anggota agar mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi saat ini,” ujar Dwi.

Konsultan Bengkulu Didorong Kuasai Teknologi AI

Salah satu perubahan yang tidak bisa dihindari adalah perkembangan AI. Teknologi ini dinilai akan semakin memengaruhi berbagai sektor pekerjaan, termasuk jasa konsultansi.

Dwi menilai AI tidak boleh hanya dipandang sebagai tren teknologi. Bagi konsultan, teknologi tersebut justru dapat menjadi alat untuk meningkatkan efisiensi sekaligus kualitas pekerjaan.

Karena itu, INKINDO Bengkulu berencana mendorong pelaksanaan workshop dan pelatihan AI bagi anggota.

“Perkembangan AI hari ini sangat cepat dan luar biasa. Ini tidak boleh kita tinggalkan. Karena itu, DPP mendorong adanya workshop dan pelatihan AI bagi anggota,” katanya.

Pemanfaatan AI nantinya dapat diarahkan untuk mendukung berbagai pekerjaan konsultan, mulai dari kajian, analisis dan perencanaan hingga pekerjaan yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur serta penyusunan kebijakan daerah.

Untuk mempercepat peningkatan kapasitas tersebut, INKINDO Bengkulu juga membuka peluang kolaborasi dengan DPP INKINDO dari daerah lain. Salah satunya DKI Jakarta yang dinilai lebih intensif mengembangkan program peningkatan kapasitas dan pemanfaatan teknologi.

“Kita berharap Bengkulu juga bisa melakukan hal yang sama. Jangan sampai kita tertinggal. Kita harus terus meningkatkan kemampuan anggota agar mampu mengikuti perkembangan teknologi,” jelas Dwi.

Jangan Hanya Terpaku pada Proyek Konstruksi

Selain teknologi, tantangan lain yang harus dibaca konsultan adalah perubahan arah pembangunan pemerintah.

Dwi mengingatkan para konsultan agar tidak melihat peluang pekerjaan hanya dari sektor konstruksi. Ketika pemerintah mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap pertanian, pemberdayaan masyarakat hingga program sosial, kebutuhan terhadap jasa konsultansi tetap terbuka.

Salah satu contohnya adalah program pengembangan pertanian, seperti penanaman jagung. Program tersebut tetap membutuhkan dukungan infrastruktur, termasuk sistem irigasi, perencanaan dan kajian teknis.

“Kalau pemerintah mendorong program pertanian, tentu tetap membutuhkan infrastruktur, termasuk irigasi. Di situlah konsultan dapat mengambil peran. Jadi, kita jangan melihat konstruksi secara terlalu kaku hanya pada dunia konstruksi, tetapi harus melihat ke mana arah kebijakan pemerintah dan kebutuhan pembangunan,” ungkapnya.

Menurut Dwi, konsultan ke depan harus mampu memberikan gagasan dan pemikiran strategis, bukan sekadar menjadi penyedia jasa.

INKINDO Bengkulu juga mendorong hubungan yang lebih erat dengan pemerintah daerah. Ruang jasa konsultansi dinilai tidak hanya berada pada bidang konstruksi, tetapi juga sektor nonkonstruksi, seperti kajian, analisis hingga penyusunan arah kebijakan pembangunan.

“Sebagai konsultan, kita harus adaptif dan mampu menjadi mitra pemerintah dalam menyukseskan pembangunan. Karena itu, peningkatan kapasitas dan kompetensi anggota menjadi sangat penting,” ujarnya.

SDM Lokal Harus Mampu Jadi Tuan Rumah

Penguatan tenaga profesional lokal juga menjadi salah satu perhatian dalam Rakerprov 2026.

Dwi menilai Bengkulu membutuhkan lebih banyak tenaga ahli yang kompeten dan memiliki daya saing, sehingga ketergantungan terhadap tenaga profesional dari luar daerah dapat dikurangi.

Menurutnya, tenaga ahli dari luar daerah tetap memiliki peran, terutama pada tahap awal untuk memberikan pengalaman dan transfer pengetahuan. Namun, dalam jangka panjang, tenaga profesional Bengkulu harus mampu mengambil peran yang lebih besar.

“Tenaga kerja jangan terus-menerus diimpor. Pada awalnya mungkin kita masih membutuhkan tenaga dari luar untuk belajar, tetapi ke depan kita harus mampu menjadi tuan rumah di daerah sendiri. Kita harus memiliki tenaga profesional yang kompeten dan berdaya saing,” tegasnya.

Komitmen tersebut mulai terlihat dari keterlibatan tenaga profesional lokal dalam berbagai program pembangunan.

Tenaga ahli dari INKINDO Bengkulu, misalnya, telah ikut mendukung program Sekolah Rakyat, termasuk dalam pengawasan pelaksanaan pembangunan agar berjalan sesuai ketentuan dan menghasilkan fasilitas yang layak.

Tidak hanya berkarya di daerah sendiri, sejumlah anggota INKINDO Bengkulu juga telah mengerjakan proyek konsultansi di sejumlah provinsi lain.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tenaga konsultan asal Bengkulu memiliki peluang untuk bersaing di tingkat nasional.

Vendor Tak Sekadar Jual Produk

Rakerprov juga menyoroti hubungan antara konsultan dan vendor. INKINDO Bengkulu mendorong vendor tidak sekadar datang menawarkan produk, tetapi juga memberikan edukasi kepada konsultan.

Edukasi tersebut mencakup fungsi, keunggulan hingga penerapan produk dalam pekerjaan profesional.

Dengan pemahaman yang lebih baik, konsultan dapat menentukan produk yang sesuai dengan kebutuhan perencanaan maupun pembangunan, dengan tetap memperhatikan kualitas, efektivitas dan kemampuan anggaran.

Pola kerja sama tersebut dinilai penting untuk memperluas wawasan anggota sekaligus memberikan referensi yang memadai ketika konsultan menyusun rekomendasi dalam pekerjaan profesional.

Menuju INKINDO Bengkulu yang Lebih Kompetitif

Seluruh agenda yang dibahas dalam Rakerprov 2026 pada akhirnya diarahkan untuk memperkuat posisi INKINDO Bengkulu sebagai organisasi profesi yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah.

Dwi berharap program kerja yang disepakati tidak berhenti sebagai dokumen organisasi, tetapi benar-benar diterapkan untuk meningkatkan kebersamaan, profesionalisme, kompetensi dan daya saing anggota.

“Kita ingin INKINDO Bengkulu menjadi organisasi yang adaptif, berdaya saing, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah,” pungkas Dwi.

*BENGKULU** — Dunia konsultansi menghadapi perubahan besar. Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat hingga bergesernya prioritas pembangunan pemerintah menuntut para konsultan untuk tidak lagi bekerja dengan pola lama.

Situasi tersebut menjadi perhatian Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) Provinsi Bengkulu dalam Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) DPP INKINDO Bengkulu Tahun 2026 yang digelar di Hotel Santika Bengkulu, Senin (31/8/2026).

Mengusung tema **“Membangun Kebersamaan dan Keakraban serta Profesionalisme Konsultan untuk Mewujudkan INKINDO Bengkulu yang Adaptif, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan”**, Rakerprov menjadi momentum menyatukan langkah pengurus dan anggota sekaligus menyusun program kerja organisasi untuk empat tahun mendatang.

Ketua DPP INKINDO Provinsi Bengkulu, Ir. Dwi Oktarini, ST., MM., MT., mengatakan perubahan teknologi dan kebutuhan pembangunan menjadi tantangan yang harus dijawab dengan peningkatan kompetensi.

Menurutnya, Rakerprov bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan ruang untuk memastikan seluruh anggota memiliki arah yang sama dalam menghadapi dinamika dunia usaha dan pembangunan.

> “Rapat kerja ini penting agar seluruh anggota mengetahui apa yang akan dilakukan pengurus selama empat tahun ke depan. Salah satu fokus kita adalah meningkatkan kemampuan dan daya saing anggota, sekaligus mendorong anggota agar mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi saat ini,” ujar Dwi.

### Konsultan Bengkulu Didorong Kuasai Teknologi AI

Salah satu perubahan yang tidak bisa dihindari adalah perkembangan AI. Teknologi ini dinilai akan semakin memengaruhi berbagai sektor pekerjaan, termasuk jasa konsultansi.

Dwi menilai AI tidak boleh hanya dipandang sebagai tren teknologi. Bagi konsultan, teknologi tersebut justru dapat menjadi alat untuk meningkatkan efisiensi sekaligus kualitas pekerjaan.

Karena itu, INKINDO Bengkulu berencana mendorong pelaksanaan workshop dan pelatihan AI bagi anggota.

> “Perkembangan AI hari ini sangat cepat dan luar biasa. Ini tidak boleh kita tinggalkan. Karena itu, DPP mendorong adanya workshop dan pelatihan AI bagi anggota,” katanya.

Pemanfaatan AI nantinya dapat diarahkan untuk mendukung berbagai pekerjaan konsultan, mulai dari kajian, analisis dan perencanaan hingga pekerjaan yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur serta penyusunan kebijakan daerah.

Untuk mempercepat peningkatan kapasitas tersebut, INKINDO Bengkulu juga membuka peluang kolaborasi dengan DPP INKINDO dari daerah lain. Salah satunya DKI Jakarta yang dinilai lebih intensif mengembangkan program peningkatan kapasitas dan pemanfaatan teknologi.

> “Kita berharap Bengkulu juga bisa melakukan hal yang sama. Jangan sampai kita tertinggal. Kita harus terus meningkatkan kemampuan anggota agar mampu mengikuti perkembangan teknologi,” jelas Dwi.

### Jangan Hanya Terpaku pada Proyek Konstruksi

Selain teknologi, tantangan lain yang harus dibaca konsultan adalah perubahan arah pembangunan pemerintah.

Dwi mengingatkan para konsultan agar tidak melihat peluang pekerjaan hanya dari sektor konstruksi. Ketika pemerintah mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap pertanian, pemberdayaan masyarakat hingga program sosial, kebutuhan terhadap jasa konsultansi tetap terbuka.

Salah satu contohnya adalah program pengembangan pertanian, seperti penanaman jagung. Program tersebut tetap membutuhkan dukungan infrastruktur, termasuk sistem irigasi, perencanaan dan kajian teknis.

> “Kalau pemerintah mendorong program pertanian, tentu tetap membutuhkan infrastruktur, termasuk irigasi. Di situlah konsultan dapat mengambil peran. Jadi, kita jangan melihat konstruksi secara terlalu kaku hanya pada dunia konstruksi, tetapi harus melihat ke mana arah kebijakan pemerintah dan kebutuhan pembangunan,” ungkapnya.

Menurut Dwi, konsultan ke depan harus mampu memberikan gagasan dan pemikiran strategis, bukan sekadar menjadi penyedia jasa.

INKINDO Bengkulu juga mendorong hubungan yang lebih erat dengan pemerintah daerah. Ruang jasa konsultansi dinilai tidak hanya berada pada bidang konstruksi, tetapi juga sektor nonkonstruksi, seperti kajian, analisis hingga penyusunan arah kebijakan pembangunan.

> “Sebagai konsultan, kita harus adaptif dan mampu menjadi mitra pemerintah dalam menyukseskan pembangunan. Karena itu, peningkatan kapasitas dan kompetensi anggota menjadi sangat penting,” ujarnya.

### SDM Lokal Harus Mampu Jadi Tuan Rumah

Penguatan tenaga profesional lokal juga menjadi salah satu perhatian dalam Rakerprov 2026.

Dwi menilai Bengkulu membutuhkan lebih banyak tenaga ahli yang kompeten dan memiliki daya saing, sehingga ketergantungan terhadap tenaga profesional dari luar daerah dapat dikurangi.

Menurutnya, tenaga ahli dari luar daerah tetap memiliki peran, terutama pada tahap awal untuk memberikan pengalaman dan transfer pengetahuan. Namun, dalam jangka panjang, tenaga profesional Bengkulu harus mampu mengambil peran yang lebih besar.

> “Tenaga kerja jangan terus-menerus diimpor. Pada awalnya mungkin kita masih membutuhkan tenaga dari luar untuk belajar, tetapi ke depan kita harus mampu menjadi tuan rumah di daerah sendiri. Kita harus memiliki tenaga profesional yang kompeten dan berdaya saing,” tegasnya.

Komitmen tersebut mulai terlihat dari keterlibatan tenaga profesional lokal dalam berbagai program pembangunan.

Tenaga ahli dari INKINDO Bengkulu, misalnya, telah ikut mendukung program Sekolah Rakyat, termasuk dalam pengawasan pelaksanaan pembangunan agar berjalan sesuai ketentuan dan menghasilkan fasilitas yang layak.

Tidak hanya berkarya di daerah sendiri, sejumlah anggota INKINDO Bengkulu juga telah mengerjakan proyek konsultansi di sejumlah provinsi lain.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tenaga konsultan asal Bengkulu memiliki peluang untuk bersaing di tingkat nasional.

### Vendor Tak Sekadar Jual Produk

Rakerprov juga menyoroti hubungan antara konsultan dan vendor. INKINDO Bengkulu mendorong vendor tidak sekadar datang menawarkan produk, tetapi juga memberikan edukasi kepada konsultan.

Edukasi tersebut mencakup fungsi, keunggulan hingga penerapan produk dalam pekerjaan profesional.

Dengan pemahaman yang lebih baik, konsultan dapat menentukan produk yang sesuai dengan kebutuhan perencanaan maupun pembangunan, dengan tetap memperhatikan kualitas, efektivitas dan kemampuan anggaran.

Pola kerja sama tersebut dinilai penting untuk memperluas wawasan anggota sekaligus memberikan referensi yang memadai ketika konsultan menyusun rekomendasi dalam pekerjaan profesional.

### Menuju INKINDO Bengkulu yang Lebih Kompetitif

Seluruh agenda yang dibahas dalam Rakerprov 2026 pada akhirnya diarahkan untuk memperkuat posisi INKINDO Bengkulu sebagai organisasi profesi yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah.

Dwi berharap program kerja yang disepakati tidak berhenti sebagai dokumen organisasi, tetapi benar-benar diterapkan untuk meningkatkan kebersamaan, profesionalisme, kompetensi dan daya saing anggota.

> “Kita ingin INKINDO Bengkulu menjadi organisasi yang adaptif, berdaya saing, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah,” pungkas Dwi.