IKOBENGKULU — Usaha budidaya ikan lele menjadi salah satu pilihan usaha yang terus ditekuni masyarakat di Kota Bengkulu. Salah satunya dilakukan Marjono di Kelurahan Lempuing, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu, yang telah menjalankan usaha budidaya lele sejak 2007.
Selama hampir dua dekade, usaha tersebut terus berkembang. Saat ini, Marjono memiliki sekitar 50 kolam dengan luas lahan kurang lebih 5.000 meter persegi. Selain menghasilkan lele konsumsi, usaha tersebut juga menyediakan bibit bagi pembudidaya lainnya.
Marjono mengatakan, lele dipilih karena kondisi air di lokasi yang tidak mengalir. Menurutnya, kondisi tersebut lebih sesuai untuk budidaya ikan seperti lele dan patin.
Dalam satu bulan, kebutuhan benih di tempatnya dapat mencapai sekitar 300 ribu ekor. Sementara itu, proses pembesaran lele hingga siap dipanen membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Panen awal biasanya dapat dilakukan sekitar 2,5 bulan setelah pemeliharaan.
“Kalau untuk panen awal itu sekitar 2,5 bulan, kemudian tiga bulan sudah bisa panen semuanya,” ujar Marjono saat diwawancarai Jum'at (21/8/2026).
Menurut Marjono, salah satu faktor penting dalam budidaya lele adalah perawatan dan pemberian pakan. Namun, harga pakan yang terus meningkat menjadi salah satu kendala yang dihadapi dalam menjalankan usaha tersebut.
Lele membutuhkan pakan khusus dengan kandungan protein sekitar 32 hingga 34 persen. Kondisi tersebut membuat kenaikan harga pakan turut memengaruhi biaya produksi.
“Kendalanya sekarang pakan, karena harga pakan terus naik. Lele ini membutuhkan pakan dengan protein sekitar 32 sampai 34 persen,” katanya.
Meski demikian, pemasaran hasil panen masih berjalan cukup lancar. Lele konsumsi dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan warung, rumah makan pecel lele, rumah tangga hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Untuk konsumen yang membeli langsung untuk kebutuhan konsumsi, harga lele berada di kisaran Rp25 ribu per kilogram. Sementara harga untuk pedagang pasar dapat berbeda karena ikan tersebut akan kembali dijual kepada konsumen.
Dari sisi ukuran, lele yang dipasarkan kepada pedagang memiliki ukuran sekitar enam hingga 12 ekor per kilogram. Sementara untuk kebutuhan MBG dan konsumsi langsung, ukuran yang diminta biasanya lebih seragam, yakni sekitar delapan hingga sembilan ekor per kilogram.
Dalam sehari, lele konsumsi yang dikeluarkan dari kolam rata-rata mencapai 200 hingga 300 kilogram.
Salah satu pembeli, Ade, mengatakan dirinya membeli bibit lele dari tempat Marjono untuk kembali dibudidayakan hingga mencapai ukuran konsumsi. Dalam satu kali pembelian, ia membeli sekitar 5.000 ekor bibit.
“Ini sekitar 2,5 bulan sudah besar, tinggal persiapan. Panen awal 2,5 bulan, kemudian tiga bulan panen semuanya,” ujar Ade.
Meski masih menghadapi tantangan dari sisi biaya pakan, usaha budidaya lele tersebut tetap berjalan dengan pemasaran yang cukup baik. Marjono berharap harga pakan dapat lebih stabil sehingga biaya produksi bisa ditekan dan usaha yang telah dirintis sejak 2007 itu dapat terus berkembang.
Penulis: Fiza Pratisya Zuinara

