×

Pencarian

Menjaga Kualitas Sejak 1979, Intip Perjalanan Toko Sapu Legendaris 'Karya Kreatif' di Bengkulu

IKOBENGKULU – Di tengah pesatnya modernisasi, kisah ketekunan dan ikhtiar hidup terus dirawat oleh Rasno Sukarno (67). Bersama sang istri, ia konsisten menjalankan Usaha Kerajinan Sapu Karya Kreatif, sebuah toko alat kebersihan tradisional yang berlokasi di Jalan Mayjen Sutoyo No. 7, Kelurahan Tanah Patah, Kota Bengkulu.

Usaha yang berfokus pada produksi kerajinan sapu lidi ini merupakan warisan turun-temurun dari orang tuanya. Perjalanan panjang usaha ini dimulai sejak tahun 1979 di kawasan depan kampus Unihaz (dekat kantor bersama Samsat saat itu), lalu berpindah ke belakang kantor Telkom pada 1980, hingga akhirnya menetap di lokasi Tanah Patah sejak tahun 1983.

"Dulu kebetulan kan orang tua perantau, bikin itu. Terus karena udah enggak ada, dilanjutkan sama anaknya, meneruskan," ujar Rasno saat diwawancarai, senin (10/8/26)

Di toko ini, sapu lidi yang menjadi produk unggulan dianyam langsung oleh tangan Pak Rasno. Selain itu, tersedia pula kerajinan berbahan bambu, rotan, kayu, hingga sapu ijuk. Bahan baku pembuatan kerajinan didapatkan dari wilayah lokal Bengkulu maupun dipasok dari luar daerah seperti Palembang, Lubuklinggau, hingga Pulau Jawa.

Untuk harga, sapu lidi buatan Rasno dibanderol Rp15.000 hingga Rp20.000 per buah tergantung ketebalan dan kerumitannya, sementara sapu ijuk dijual berkisar Rp25.000 hingga Rp50.000.

Seiring bertambahnya usia, pola pemasaran usaha ini pun berubah. Jika dulu ia memiliki banyak karyawan untuk memasarkan produk secara door-to-door, kini Rasno mengelolanya secara mandiri dan melayani pembeli atau pedagang perantara yang datang langsung ke tokonya untuk didistribusikan ke warung-warung.

"Kalau dulu waktu masih muda-muda ya banyak karyawan yang memasarkan. Seiring perjalanan waktu, tenaga, umur, udah enggak ini lagi. Sekarang prinsipnya di masa tua itu ada kegiatan, sambil nunggu orang beli kita sambil bikin, sejalannya aja untuk mengisi waktu biar enggak stres," ungkapnya.

Memasuki usia kepala tujuh, Rasno menegaskan bahwa ia tidak lagi memikirkan perhitungan omset atau target keuntungan yang muluk-muluk.

"Bagi kami enggak ada hitungan pemasokan, omset, untung rugi, enggak ada diperhitungkan. Yang penting kita usaha, produksi, laku di pasaran, itu aja. Harapan kami udah tua jadi enggak ada yang muluk-muluk, yang penting berjalan aja," pungkas Rasno.

Penulis: Shabrina Putri