×

Pencarian

Petani di Kota Bengkulu Bersyukur, Bantuan Benih Padi Bantu Tekan Biaya Produksi

IKOBENGKULU — Memasuki awal Juli 2026, aktivitas pertanian di kawasan Danau Dendam Tak Sudah, Kota Bengkulu, kembali bergairah. Para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sekotong Jaya kini tengah disibukkan dengan fase persiapan lahan jelang musim tanam. 

Muhammad Hardi Gunawan (42), salah satu petani lokal, menuturkan beban biaya tanam pada musim ini berhasil ditekan dibandingkan periode sebelumnya. Para petani mengaku bisa sedikit bernapas lega karena adanya efisiensi biaya produksi yang didorong oleh ketersediaan bantuan benih dari pemerintah.

Kunci utamanya terletak pada distribusi benih padi varietas Inpari 32 yang rutin diterima oleh kelompok tani di hampir seluruh wilayah Bengkulu.

"Alhamdulillah, bantuan bibit yang datang hampir tiap musim ini sangat membantu kami. Ini menjadi penyelamat, sehingga modal awal petani tidak terlalu berat meskipun komponen biaya lainnya masih cukup tinggi," ujar Hardi saat ditemui di kawasan Danau Dendam, Selasa (7/7/2026).

Meski demikian, Hardi mengakui bertani bukanlah perkara murah. Ia merinci, untuk satu musim tanam, petani harus mengeluarkan biaya untuk membajak lahan sebesar Rp45.000 per patok. Belum lagi upah buruh tanam yang mencapai Rp1.000.000 per musim.

Tantangan yang tak kalah menguras anggaran adalah pengendalian hama. Serangan tikus, ular, dan burung pipit memaksa petani harus mengeluarkan modal ekstra untuk pestisida.

"Untuk racun saja, satu botol kecil harganya Rp45.000. Dalam satu kali musim, untuk satu hamparan sawah rata-rata kami butuh sekitar 6 botol agar tanaman terlindungi. Ini biaya rutin yang memang harus disiapkan agar panen tidak gagal," tambah Hardi.

Terkait teknis budidaya, Hardi menjelaskan bahwa siklus pertanian di wilayahnya mengikuti ritme yang disiplin. Saat ini, para petani sedang memasuki masa pengolahan lahan selama dua bulan, disusul dengan masa tunggu dua bulan lagi sebelum masuk ke tahap penanaman. 

Varietas Inpari 32 yang digunakan dikenal memiliki masa tanam yang cukup efisien, yakni sekitar 85 hari hingga siap panen. Padi yang dihasilkan pun memiliki kualitas unggul yang dikenal sebagai Beras Pandan Wangi.

Pada musim panen, petani menerapkan sistem bagi hasil yang jadi traisi turun-temurun.  Untuk sewa lahan, petani menerapkan sistem bagi hasil yang adil, yakni setiap 10 karung hasil panen, pemilik lahan mendapatkan 6 karung, 2 karung untuk pemilik lahan, 1 untuk perontok serta 1 karung untuk buruh panen.

Begitu pula dengan sistem upah saat panen, di mana hasil dibagi secara proporsional antara tenaga perontok dan tenaga pengarit.

Terkait distribusi hasil panen, para petani di kawasan Danau Dendam sejauh ini tidak mengalami hambatan berarti. Pola pemasaran yang terjalin erat dengan kios-kios beras lokal dan pelanggan setia membuat seluruh hasil panen terserap dengan cepat oleh pasar.

Dengan adanya bantuan bibit, Hardi dan para petani lainnya optimis hasil panen mampu memberikan kesejahteraan bagi mereka.

Penulis : Shabrina Putri