×

Pencarian

Ketika Belajar Tak Lagi Sekadar Menghafal, Kisah Guru dan Anak Anak yang Menemukan Kegembiraan di Ruang Kelas

Bengkulu – Setiap anak datang ke sekolah dengan rasa ingin tahu yang begitu besar. Mereka ingin menyentuh, melihat, bertanya, mencoba, lalu menemukan jawaban sendiri. Namun dalam perjalanan belajar, tidak sedikit anak yang perlahan kehilangan rasa penasaran itu. Buku pelajaran menjadi rutinitas, sementara belajar berubah menjadi sekadar menghafal agar bisa menjawab soal.

Pemandangan seperti itulah yang pernah sering disaksikan Linda Komalasari saat mengajar murid kelas I di SD Negeri 61 Kota Bengkulu. Anak anak memang duduk rapi di bangkunya. Mereka mendengarkan penjelasan guru dan menyalin apa yang tertulis di papan. Namun di balik ketenangan itu, Linda melihat sesuatu yang berbeda. Semangat belajar mereka perlahan memudar. Tatapan kosong dan wajah yang mulai bosan menjadi isyarat bahwa ada cara belajar yang perlu diubah.  

Sebagai seorang guru, Linda percaya anak usia sekolah dasar tidak seharusnya hanya mengenal pelajaran dari buku. Mereka membutuhkan pengalaman yang membuat ilmu terasa dekat dengan kehidupan sehari hari. Mereka perlu merasakan bahwa belajar bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Dari keyakinan itu, Linda mulai mencoba pendekatan yang sederhana. Ia tidak membawa peralatan laboratorium atau teknologi yang rumit. Ia hanya mengajak murid muridnya keluar kelas.


Di halaman sekolah, anak anak memetik daun pepaya, daun mangga, daun singkong, daun jagung hingga daun sirih. Setiap anak memegang daun yang berbeda. Mereka mengamati bentuknya, merasakan teksturnya, lalu mulai saling bertanya mengapa tidak semua daun memiliki bentuk yang sama. Dari pertanyaan pertanyaan sederhana itulah proses belajar dimulai.  

Suasana kelas pun berubah. Anak anak yang sebelumnya hanya mendengarkan kini mulai aktif berbicara. Mereka saling menunjukkan hasil pengamatan, berdiskusi dengan teman, bahkan mencoba mencari jawaban bersama guru. Rasa ingin tahu yang selama ini tersembunyi perlahan muncul kembali.

Bagi Linda, perubahan itu jauh lebih berharga dibanding sekadar melihat anak mampu menghafal materi pelajaran. Ia merasa setiap pertanyaan yang muncul dari murid merupakan tanda bahwa mereka sedang belajar memahami dunia disekitarnya, bukan hanya mengingat isi buku.  

Pengalaman tersebut juga mengubah cara Linda memandang profesinya sebagai guru. Ia menyadari bahwa tugas seorang pendidik bukan hanya menyampaikan materi, melainkan membantu anak menemukan alasan mengapa mereka ingin belajar. Ketika rasa penasaran tumbuh, proses belajar akan berjalan dengan sendirinya.

Dari pengalaman itu, Linda kemudian merangkum cara sederhana yang selalu ia terapkan dalam pembelajaran. Ia mengajak murid untuk mengamati, kemudian bertanya, mencari jawaban, berdiskusi, lalu mengevaluasi hasil yang mereka temukan bersama. Bagi anak anak kelas satu sekolah dasar, langkah langkah itu menjadi cara alami untuk mengenal sains tanpa merasa sedang mempelajari sesuatu yang sulit.  

Perjalanan Linda ternyata tidak berlangsung sendirian. Di Bengkulu, ada sejumlah guru lain yang memiliki semangat serupa. Mereka tergabung dalam komunitas Science Heroes, saling berbagi pengalaman tentang bagaimana menghadirkan pembelajaran yang lebih hidup, lebih dekat dengan keseharian anak, dan mampu membangkitkan rasa ingin tahu mereka.  

Bagi para guru tersebut, keberhasilan mengajar bukan semata ketika seluruh materi selesai disampaikan. Keberhasilan justru hadir ketika seorang anak pulang membawa pertanyaan baru yang ingin ia cari jawabannya di rumah, atau datang ke sekolah keesokan harinya dengan cerita tentang apa yang ia temukan.

Semangat itulah yang kemudian mendapat pendampingan melalui Program Sekolah Bakti BCA. Program tersebut hadir untuk memperkuat kapasitas para tenaga pendidik agar mampu menghadirkan proses belajar yang lebih kreatif, terutama melalui pendekatan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika atau STEM. Di Bengkulu, pendampingan berlangsung di empat sekolah, yakni SD Negeri 61, SD Negeri 73, SD Negeri 40, dan SD Negeri 36.  

Pendampingan tersebut tidak berhenti pada pelatihan guru. Sekolah juga diberi ruang untuk menampilkan hasil belajar para siswa melalui berbagai kegiatan seperti Gelar Karya. Dalam kegiatan itu, anak anak tidak hanya memperlihatkan hasil pekerjaan mereka, tetapi juga belajar menjelaskan proses berpikir di balik karya yang dibuat.  

Dibalik berbagai metode pembelajaran dan program pendampingan, tersimpan pesan yang sederhana. Bahwa setiap anak memiliki rasa ingin tahu yang perlu dijaga. Ketika mereka diberi kesempatan untuk bertanya, mencoba, dan menemukan sendiri jawaban atas berbagai hal disekitarnya, belajar tidak lagi menjadi beban, melainkan petualangan yang menyenangkan.

Mungkin itulah pelajaran paling berharga yang lahir dari sebuah ruang kelas sederhana di Bengkulu. Bahwa perubahan besar dalam pendidikan tidak selalu dimulai dari fasilitas yang mewah. Kadang perubahan justru berawal dari seorang guru yang memilih mengajak muridnya berjalan keluar kelas, memegang sehelai daun, lalu bertanya, “Mengapa bentuknya berbeda?”

Dari pertanyaan yang tampak sederhana itu, tumbuh keberanian untuk berpikir, rasa percaya diri untuk berbicara, dan harapan bahwa anak anak akan terus memandang dunia dengan rasa ingin tahu yang tidak pernah padam. (Cik)