×

Pencarian

Wangi Sambal Langat Gurita Kaur yang Membidik Pasar Dunia

KAUR – Aroma khas sambal langat gurita menyeruak dari deretan stan di pesisir Kabupaten Kaur, Jumat (22/5/2026). Kuliner tradisional yang memadukan kenyalnya daging gurita dengan rempah pedas asam itu sengaja dikondisikan untuk menggoyang lidah para pemburu takjil kuliner nusantara. Lewat ajang Festival Gurita 2026, menu rumahan ini sedang dipersiapkan untuk melompat kelas: menembus restoran bintang lima hingga pasar ekspor.

Ajang tahunan yang dikemas bersamaan dengan HUT ke-23 Kabupaten Kaur itu memang bukan sekadar panggung seremonial potong tumpeng. Ada misi ekonomi besar yang ditiupkan dari wilayah paling selatan Provinsi Bengkulu ini.

Bupati Kaur Gusril Pausi (tengah) mengamati dengan saksama produk Sambal Langat Gurita kemasan yang dipamerkan dalam Festival Gurita 2026 di Kabupaten Kaur, Bengkulu, Jumat (22/5/2026)./ist

Bupati Kaur Gusril Pausi tidak memungkiri bahwa selama ini kekayaan laut Kaur yang melimpah ruah sering kali menguap tanpa nilai tambah. Nelayan kerap terbentur rantai pasar tradisional yang pendek. Hasil tangkapan melimpah, tapi kantong nelayan begitu-begitu saja.

"Kami tidak ingin gurita Kaur ini nasibnya berakhir di pasar tradisional dengan harga murah. Harus ada lompatan inovasi. Sambal langat kemasan, sate gurita instan, sampai kerupuk gurita harus bisa masuk ke supermarket, hotel berbintang, bahkan memenuhi ceruk pasar internasional," tegas Gusril setelah membuka festival.

Bagi Pemkab Kaur, festival ini adalah maklumat keberpihakan kepada para nelayan dan pelaku UMKM. Karena itu, panggung festival dijejali dengan agenda konkret. Mulai dari adu kreatif memasak gurita, pameran produk turunan UMKM, hingga sesi makan gurita massal yang melibatkan masyarakat. Targetnya satu: menaikkan status gurita dari sekadar komoditas mentah menjadi produk industri kreatif berdaya saing global.

Menjaga Laut dengan Kearifan Lokal

Bupati Kaur Gusril Pausi (tengah) mengamati dengan saksama produk Sambal Langat Gurita kemasan yang dipamerkan dalam Festival Gurita 2026 di Kabupaten Kaur, Bengkulu, Jumat (22/5/2026)./ist

Namun, ambisi mengeksplorasi "emas tentakel" ini tidak dilakukan secara serampangan. Pemkab Kaur sadar betul, isi laut ada batasnya jika terus dikuras. Maka, sebuah langkah berani diambil dengan menggandeng organisasi non-pemerintah (NGO) Yayasan Akar untuk menerapkan sistem konservasi berbasis komunitas.

Modelnya mengadopsi kearifan lokal yang terukur, yakni sistem buka-tutup kawasan tangkap (temporary closure). Pada periode tertentu, koordinat laut yang menjadi rumah gurita dipasang "garis polisi" ekologi. Nelayan dilarang keras memancing di sana demi memberikan waktu bagi gurita untuk kawin, memijah, dan tumbuh besar.

Setelah masa rehat laut selesai, barulah wilayah tersebut dibuka. Nelayan boleh memanennya bersama-sama. Strategi ekologis ini memastikan industri kuliner gurita di Kaur tidak akan kehabisan bahan baku sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

Magnet Turis Berburu Kuliner

Langkah apik ini terbukti ampuh mendongkrak sektor lain: pariwisata. Festival Gurita sukses menjadi magnet yang menarik minat pelancong regional. Roberto Miko, seorang wisatawan asal Kota Bengkulu, mengaku selalu menandai kalendernya setiap bulan Mei demi bisa datang ke Kaur.

Bagi Miko dan keluarganya, berburu kuliner gurita di festival ini hanyalah pembuka. Efek dominonya, mereka ikut membelanjakan uang di destinasi wisata alam sekitar Kaur.

"Ini paket lengkap. Setelah kenyang makan gurita, kami langsung geser menikmati panorama pantai, keunikan Danau Kembar, hingga menjelajahi air terjun dan goa yang ada di sini. Liburan yang memuaskan," tutur Miko sembari menunjukkan produk olahan gurita yang dibelinya untuk oleh-oleh.