Bengkulu,ikobengkulu.com,-KB Pasca Persalinan merupakan salah satu program strategis dalam mendukung Agenda Pembangunan Nasional yang dinilai mampu menekan angka kematian ibu dan bayi (AKI-B) serta penurunan stunting. Atas manfaat tersebut, pemerintah menetapkannya sebagai salah satu program prioritas nasional. Penetapan itu diperkuat dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN 2025–2029. " Pelayanan KB Pasca Persalinan menjadi salah satu indikator utama untuk mendukung pencapaian prioritas pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing".
Guna mewujudkan RPJMN 2025–2029 pemerintah pun menetapkan target sasaran KB Pasca Persalinan secara bertahap hingga 2029. Pada 2025 lalu pemerintah tetapkan sasaran sebesar 57 persen, tahun 2026 meningkat hingga pada angka 60 persen, pada 2027 meningkat menjadi sebesar 64 persen, tahun 2028 meningkat lagi menjadi sebesar 69 persen dan pada tahun 2029 terus meningkat menjadi 75 persen.
Target ini tidak hanya menjadi target sektor KB semata, tetapi menjadi indikator yang akan dipantau secara nasional dan dilaporkan secara berkala. Ini menunjukkan bahwa KBPP adalah program yang memiliki nilai strategis dalam mendukung penurunan angka kematian ibu, angka kematian bayi, serta mempercepat pencapaian keluarga berkualitas.
Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu dr. H. Zamhir Setiawan., M.Epid pada Focus Group Discussion (FGD) yang mengangkat tema " Penguatan Kebijakan dan Strategi KB Pasca Persalinan yang berlangsung di kantor BKKBN Bengkulu, Rabu,(20/5/2026).
Dia menyampaikan bahwa KB PP bukan sekedar pelayanan kontrasepsi, melainkan bagian dari pelayanan kesehatan reproduksi yang menyeluruh."KB PP merupakan pelayanan KB yang diberikan setelah persalinan sampai dengan kurun waktu 42 hari pasca melahirkan. Dengan tujuan agar mengatur jarak kelahiran dan jarak kehamilan yang aman, mencegah terjadinya kehamilan tidak diinginkan".
Tak hanya itu tujuan dari pelayanan KB pasca persalinan dapat menurunkan risiko kehamilan “4 Terlalu” yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, dan terlalu banyak. Menurunkan unmet need , mendukung pemberian ASI eksklusif dan tumbuh kembang anak, menurunkan risiko stunting serta menekan angka kematian ibu dan bayi," kata Zamhir di depan puluhan peserta Forum Group Discussion.
Di Provinsi Bengkulu, kata Zamhir, capaiannya menunjukkan perkembangan, namun masih terdapat kesenjangan yang perlu diperbaiki. " Berdasarkan laporan SIGA pada Desember 2025, capaian tercatat 12.080 dari target 16.373, atau sekitar 73 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa capaian kita masih perlu tingkatkan, baik dari sisi pelayanan langsung di fasilitas kesehatan maupun dari sisi penggerakan dan pendampingan di masyarakat," ujarnya.(***)
