×

Pencarian

Peluit Tua di Balik Debu Panorama

Pasar Panorama di pagi hari adalah sebuah simfoni kekacauan yang teratur. Suara klakson motor, teriakan pedagang sayur, dan deru mesin angkot warna merah saling bersahutan di bawah langit Bengkulu yang mulai memanas. Di tengah kepulan asap knalpot dan aroma khas pasar yang menyengat, sosok pria paruh baya dengan rompi oranye yang sudah memudar warnanya berdiri tegap.

Namanya Pak Syarif (52), namun orang-orang di sekitar Jalan panorama lebih mengenalnya dengan sebutan "Pak Cik". Tangannya yang legam dimakan matahari tak henti-hentinya bergerak, mengarahkan stang motor agar berderet rapi bak barisan prajurit.

"Kiri sedikit, Mas! Yak, terus, tahan!" teriaknya sambil meniup peluit perak yang tergantung di lehernya. Bunyinya nyaring, menembus kebisingan pasar.

Bagi sebagian orang, kehadiran Pak Syarif mungkin hanya dianggap sebagai "pelengkap" jalanan yang meminta recehan. Namun bagi pria yang sudah dua puluh tahun menggantungkan hidup di aspal Panorama ini, setiap jengkel lahan parkir adalah panggung perjuangannya.

"Orang lihatnya cuma tarik motor, terima uang. Tapi di sini, kami ini penjaga amanah," ujar Pak Syarif saat beristirahat sejenak di bawah payung pedagang buah yang sedang kosong.

"Helm yang ditinggal, belanjaan yang digantung di motor, sampai motornya sendiri, itu semua tanggung jawab saya. Kalau ada yang hilang, bukan cuma uang yang melayang, tapi nama baik."

Pasar Panorama bukan tempat yang ramah. Seringkali ia harus berhadapan dengan pengendara yang temperamental, yang enggan membayar seribu-dua ribu rupiah, atau mereka yang memarkirkan kendaraan seenaknya hingga memacetkan arus lalu lintas.

Namun, Pak Syarif selalu menghadapinya dengan senyum khas orang Bengkulu yang ramah namun tegas. Ia bercerita bahwa dari recehan yang dikumpulkannya di tengah debu pasar ini, ia berhasil menyekolahkan ketiga anaknya.

Salah satunya bahkan kini tengah menempuh pendidikan di universitas lokal, tak jauh dari tempatnya bekerja. "Kadang pinggang rasanya mau patah, apalagi kalau hari hujan dan pasar makin semrawut. Tapi kalau ingat anak di rumah lagi belajar, rasa capek itu kalah sendiri," tambahnya sambil menyeka keringat dengan handuk kecil di lehernya.

Saat matahari tepat di atas kepala, suhu di Panorama bisa menjadi sangat menyengat. Debu jalanan beterbangan setiap kali angkot melintas kencang. Namun, peluit Pak Syarif tidak berhenti berbunyi.

Baginya, setiap motor yang keluar-masuk adalah napas bagi dapurnya di rumah. Di balik rompi oranye yang lusuh itu, ada dedikasi yang seringkali luput dari pandangan mata.

Pak Syarif adalah salah satu denyut nadi tersembunyi yang menjaga agar jantung Pasar Panorama tetap berdetak, memastikan setiap orang yang datang berbelanja bisa pulang dengan tenang, membawa barang bawaan dan kendaraan yang aman.

Ketika senja mulai turun dan pasar perlahan mereda, Pak Syarif mulai merapikan sisa-sisa tenaga. Esok subuh, sebelum ayam berkokok, ia akan kembali lagi ke sana—ke dunianya yang penuh debu, suara peluit, dan deretan motor yang tak pernah habis.  (Yepi Lia Sasta)