Oleh: Solehatun Waqiah, Mahasiswa Jurnalistik Universitas Bengkulu
Banjir yang terus berulang di Kota Bengkulu, termasuk di kawasan Rawa Makmur, kini menjadi perhatian serius karena tidak lagi dianggap sebagai bencana musiman semata. Peristiwa banjir yang terjadi pada awal April 2026 menunjukkan pola yang sama seperti tahun- tahun sebelumnya, di mana hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan air meluap dan merendam permukiman warga di berbagai titik kota.
Data dari laporan kebencanaan menyebutkan bahwa banjir melanda puluhan kelurahan di delapan kecamatan dengan ketinggian air mencapai 30 hingga 100 sentimeter. Kondisi ini memperlihatkan bahwa sistem pengendalian banjir di Kota Bengkulu masih belum mampu menahan peningkatan debit air saat hujan deras terjadi.
Sejumlah faktor menjadi penyebab utama banjir yang terus berulang ini. Selain curah hujan tinggi, kondisi drainase yang kurang optimal serta pendangkalan sungai akibat sedimentasi turut memperparah genangan. Tidak hanya itu, kerusakan daerah aliran sungai di bagian hulu juga menyebabkan air hujan tidak terserap dengan baik dan langsung mengalir ke kawasan permukiman di hilir.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh warga yang tinggal di Rawa Makmur. Anna (21), salah satu penduduk setempat, mengatakan bahwa banjir sudah menjadi kejadian yang sering
terjadi setiap musim hujan. Ia menyebutkan bahwa air dengan cepat masuk ke rumah warga ketika hujan turun dalam waktu lama. “Kalau hujan deras beberapa jam saja, air sudah mulai naik. Kadang masuk ke dalam rumah, jadi kami harus siap-siap dari awal,” ujarnya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Vely (21), seorang anak kos yang tinggal di kawasan tersebut. Ia mengaku cukup kesulitan saat banjir datang karena akses jalan menjadi terganggu. “Kalau banjir, susah keluar masuk. Air di jalan tinggi, jadi aktivitas jadi terhambat, apalagi kalau harus pergi kuliah atau kerja,” katanya.
Dari sisi penanganan, pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya seperti pendataan korban, perbaikan drainase, serta rencana normalisasi sungai. Namun, sejumlah pihak menilai bahwa langkah tersebut masih perlu ditingkatkan, terutama dalam jangka panjang.
Solusi yang saat ini didorong tidak hanya berfokus pada penanganan di wilayah kota, tetapi juga mencakup perbaikan lingkungan di daerah hulu. Rehabilitasi hutan, pengendalian aktivitas yang merusak daerah aliran sungai, serta pembangunan kolam retensi dinilai penting untuk mengurangi risiko banjir di masa mendatang.
Selain itu, penataan ulang sistem drainase perkotaan dan pengendalian pembangunan di kawasan rawan banjir juga menjadi bagian dari solusi yang perlu diperhatikan. Tanpa perbaikan yang menyeluruh dan berkelanjutan, banjir di kawasan seperti Rawa Makmur diperkirakan akan terus terjadi setiap musim hujan.
Dengan berbagai faktor penyebab yang saling berkaitan, banjir di Kota Bengkulu tidak bisa diselesaikan dengan satu cara saja. Diperlukan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat agar penanganan yang dilakukan tidak hanya bersifat sementara, tetapi mampu memberikan solusi jangka panjang bagi warga yang selama ini terdampak. ***
