×

Pencarian

Buka Rakerwil Kemenag Bengkulu, Menag: Kita Bukan Malaikat, Tapi Jangan Bekerja Seperti Iblis

Bengkulu (Humas) — Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., membuka secara resmi Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bengkulu, Jumat (24/4). Kegiatan ini menjadi titik konsolidasi arah kebijakan sekaligus refleksi mendalam bagi jajaran Kementerian Agama di daerah.

Didampingi Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu, Dr. H. Saefudin, S.Ag., M.Si., Menteri Agama tidak sekadar membuka forum, tetapi menyampaikan pesan yang tegas, bahkan cenderung mengoreksi tentang cara pandang dan etos kerja aparatur Kementerian Agama.

Ia memulai dengan menegaskan posisi strategis institusi yang dipimpinnya. Selama Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 tetap menjadi fondasi negara, menurutnya, Kementerian Agama akan terus memiliki peran yang tidak tergantikan. Selama Pancasila dan UUD 1945 masih menjadi dasar negara, selama itu pula Kementerian Agama akan tetap berdiri. 

Namun, di balik posisi strategis itu, ekspektasi publik terhadap Kementerian Agama juga, kata dia, sangat tinggi, bahkan tidak realistis. Masyarakat, lanjutnya, kerap menuntut aparatur Kemenag bekerja tanpa cela.

“Ekspektasi masyarakat kepada Kementerian Agama itu seperti kepada malaikat. Tidak boleh salah. Sekali salah, langsung sensitif,” katanya.

Di titik inilah ia menyisipkan peringatan yang keras namun jernih: aparatur Kemenag memang bukan malaikat, tetapi tidak boleh kehilangan arah.

“Kita memang bukan malaikat. Tapi jangan sampai kita bekerja seperti iblis,” tegasnya, disambut hening para peserta.

Bagi Menag, bekerja di Kementerian Agama bukan sekadar menjalankan tugas administratif pemerintahan. Ada dimensi moral dan spiritual yang melekat, yang tidak dimiliki banyak institusi lain.

“Risiko kita bukan hanya mempertanggungjawabkan pekerjaan kepada Presiden, tetapi juga kepada Allah SWT. Tugas kita adalah mendekatkan manusia kepada agamanya,” ujarnya.

Karena itu, ia mengingatkan agar setiap capaian tidak membuat aparatur terlena. Pemberitaan positif, menurutnya, tidak boleh menjadi alasan untuk berpuas diri. Jangan sampai berita baik membuat kita lengah. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Dalam kesempatan tersebut, Menag juga menyoroti kembali jargon lama Kementerian Agama "Ikhlas Beramal". Ia menegaskan bahwa dua kata itu bukan slogan kosong, melainkan fondasi etos kerja.

Ikhlas, menurutnya, berarti bekerja tanpa bergantung pada pujian, tanpa dorongan popularitas, dan tanpa motif semata-mata jabatan.I khlas itu ketika tangan kanan bekerja, tangan kiri tidak perlu tahu. Tidak perlu diumumkan, tidak perlu dipuji. 

Sementara “beramal” ia maknai sebagai kerja yang terukur dan terencana bukan sekadar aktivitas rutin. Amal itu kerja yang punya perhitungan: ada input, output, dan outcome. Dan dalam Al-Qur’an, setiap kata ‘amal’ selalu bermakna positif. 

Menag juga menekankan pentingnya menjaga integritas. Ia mengingatkan secara gamblang tentang bahaya praktik-praktik kecil yang kerap dianggap sepele, seperti gratifikasi.

“Jangan tergoda dengan amplop yang tipis. Itu yang bisa menjerumuskan kita. Apa pun yang haram masuk ke dalam tubuh kita, hanya api neraka yang bisa membersihkannya,” ujarnya tegas.

Dalam nada yang sama, ia mengingatkan agar aparatur tidak terjebak dalam hasrat popularitas. Jangan mabuk pujian. Jangan mengejar popularitas. Itu pintu masuknya godaan setan. 

Mengangkat tema Rakerwil tahun ini, “Mempersiapkan Umat Masa Depan Provinsi Bengkulu,” Menag kemudian mengaitkannya dengan tantangan zaman. Ia menyebut, masa depan kini tidak lagi jauh, melainkan sudah hadir melalui teknologi yang berada di genggaman.

Kondisi ini, menurutnya, melahirkan fenomena multiple shock kejutan berlapis akibat cepatnya perubahan. Di sinilah muncul jurang antara teks dan konteks: apa yang dipahami secara normatif seringkali berbeda dengan realitas di lapangan.

“Kementerian Agama harus hadir untuk mendekatkan jarak antara teks dan konteks itu,” ujarnya.

Ia juga menyinggung fenomena distorsi informasi di ruang publik, di mana yang salah bisa terlihat benar, dan yang benar justru disalahpahami. Faktor media, uang, hingga kepentingan politik disebutnya sebagai variabel yang memperkeruh keadaan. 

“Lalu bagaimana menegakkan kebenaran di tengah situasi itu? Dengan seni. Hidup itu senikemampuan kita bermanuver dengan bijak di tengah situasi,” katanya.

Ia menutup arahannya dengan refleksi yang tajam: Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi masih membutuhkan lebih banyak sosok arif.

“Kita kaya orang pintar, tapi masih kurang orang arif. Jangan sampai pendidikan melahirkan orang pintar yang justru menjadi masalah,” ujarnya.

Selain itu, Menag juga menegaskan pentingnya pendekatan ekoteologi bahwa tanggung jawab keagamaan tidak hanya menyentuh manusia, tetapi juga lingkungan karena agama tidak hanya bicara manusia, tapi juga alam. Kalau ini dijaga, Indonesia bisa menjadi tempat yang nyaman, bahkan seperti surga. 

Rakerwil ini dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu Dr. H. Herwan Antoni, S.K.M., M.Kes., M.Si., para pimpinan perguruan tinggi keagamaan, tokoh agama, pimpinan lembaga keagamaan, jajaran Forkopimda, hingga peserta dari seluruh satuan kerja Kementerian Agama se-Provinsi Bengkulu, baik yang hadir langsung maupun mengikuti secara daring.(Rls/Hms)