×

Pencarian

“Air Itu Datang Pelan, Tapi Cepat Naik” Cerita Ibu Evi Saat Banjir Melanda Ratu Agung

Oleh: Aisyah Rahmadani**

Pagi di kawasan Ratu Agung, Kota Bengkulu, tidak langsung kembali normal setelah hujan deras mengguyur semalaman. Beberapa titik masih menyisakan genangan, sementara di depan rumah-rumah warga terlihat aktivitas yang hampir sama: membersihkan. Ember, sapu, dan kain pel berjejer di depan pintu, menjadi tanda bahwa banjir semalam masih meninggalkan jejak.

Di salah satu rumah sederhana, pintu terbuka lebar. Lantai masih basah, dan beberapa perabot tampak diletakkan di tempat yang lebih tinggi dari biasanya. Di dalam, seorang perempuan paruh baya terlihat sibuk membereskan rumahnya. Ia bergerak cepat dari ruang depan ke dapur, sesekali berhenti untuk mengelap lantai. Perempuan itu adalah Ibu Evi (50), warga Ratu Agung yang rumahnya ikut terdampak banjir.

“Semalam hujannya lama sekali,” katanya sambil tetap melanjutkan pekerjaannya. Suaranya terdengar lelah, tapi tetap tenang. Menurutnya, air tidak langsung masuk dalam jumlah besar. Awalnya hanya terlihat seperti genangan biasa di luar rumah. Namun, perlahan air mulai naik dan akhirnya masuk ke dalam. “Awalnya cuma di halaman, terus masuk sedikit-sedikit. Nggak lama, sudah sampai dalam rumah,” ujarnya.

Ia mengaku tidak terlalu terkejut dengan kejadian tersebut. Bukan karena sudah terbiasa, tetapi karena setiap kali hujan deras turun dalam waktu lama, rasa khawatir itu selalu muncul. “Kalau hujan dari malam sampai pagi, kami di sini pasti sudah waspada,” katanya. Malam itu, ia tidak benar-benar tidur. Sesekali ia bangun untuk mengecek kondisi di luar. Ketika melihat air mulai naik, ia langsung membangunkan anggota keluarga lainnya.

Tanpa banyak bicara, mereka langsung bergerak. Barang-barang yang ada di lantai segera diangkat ke tempat yang lebih tinggi. Kasur dilipat, peralatan dapur dipindahkan, dan beberapa barang penting dimasukkan ke dalam tas. “Yang penting diselamatkan dulu yang bisa,” katanya singkat. Dalam situasi seperti itu, tidak ada waktu untuk berpikir panjang. Semua dilakukan dengan cepat dan seadanya, meski tidak semua barang bisa diselamatkan. “Pasti ada saja yang kena air. Namanya juga datangnya cepat,” ujarnya.

Saat air mulai menggenang lebih tinggi, ia hanya bisa berhenti sejenak dan melihat kondisi rumahnya. Tidak banyak yang bisa dilakukan selain menunggu air surut. “Kalau sudah begitu, ya cuma bisa nunggu,” katanya.

Pagi harinya, ketika air mulai berkurang, pekerjaan yang lebih berat justru dimulai. Lantai rumah dipenuhi lumpur, dinding bagian bawah kotor, dan beberapa barang masih dalam kondisi basah. Ibu Evi mulai membersihkan dari bagian depan rumah. Ia menyapu air keluar, lalu mengepel lantai berulang kali. Setiap sudut dibersihkan perlahan, meskipun tenaganya sudah cukup terkuras sejak malam. “Capeknya itu bukan pas banjirnya, tapi setelahnya,” katanya sambil berhenti sejenak.

Menurutnya, proses membersihkan rumah bisa memakan waktu lama. Tidak hanya lantai, tetapi juga barang-barang yang terkena air harus dicuci ulang. “Semua harus dibersihkan lagi. Nyuci, beresin, kadang ada yang rusak juga,” ujarnya. Di luar rumah, beberapa tetangga terlihat melakukan hal yang sama—menyiram halaman, menjemur barang, hingga saling membantu.

Ibu Evi mengatakan bahwa dalam kondisi seperti ini, warga biasanya saling mengandalkan satu sama lain. Saat air mulai naik, mereka saling memberi tahu dan membantu mengangkat barang. “Kalau ada yang butuh bantuan, ya dibantu saja. Di sini memang sudah biasa begitu,” katanya. Kebersamaan seperti itu terasa kuat saat banjir datang. “Kita di sini saling jaga saja,” tambahnya.

Namun, di balik itu semua, ada rasa lelah yang tidak selalu terlihat. Banjir yang datang berulang membuat warga harus terus beradaptasi dengan kondisi yang ada. Setiap musim hujan tiba, kekhawatiran selalu muncul. Bukan lagi soal apakah banjir akan terjadi, tetapi kapan dan seberapa parah dampaknya. “Kalau hujan lagi, pasti kepikiran,” katanya pelan.

Meski begitu, ia tetap berusaha menjalani keadaan dengan apa adanya. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan selain bersiap dan berusaha mengurangi dampaknya. “Sekarang ya paling siap-siap saja. Kalau hujan, langsung jaga-jaga,” ujarnya.

Di tengah rumah yang perlahan kembali dibersihkan, Ibu Evi melanjutkan pekerjaannya. Air di lantai mulai berkurang, barang-barang mulai kembali ke tempatnya, dan aktivitas perlahan kembali seperti biasa. Namun, pengalaman semalam masih terasa. Banjir bukan hanya meninggalkan genangan air, tetapi juga rasa khawatir yang sulit hilang begitu saja.

Di luar, langit mulai cerah. Matahari perlahan muncul, membantu mengeringkan sisa-sisa air yang masih tertinggal. Beberapa warga mulai menjemur kasur, pakaian, dan barang lainnya di halaman rumah. Aktivitas kembali berjalan, meskipun belum sepenuhnya normal.

Bagi Ibu Evi, hari itu akan dihabiskan dengan membersihkan dan merapikan rumah. Setelah itu, kehidupan akan kembali seperti biasa—sampai hujan berikutnya datang. “Kalau bisa, ya tidak mau kejadian lagi,” katanya pelan. Namun ia tahu, harapan itu tidak selalu mudah terwujud. Untuk sekarang, yang bisa ia lakukan hanyalah menjalani, bersiap, dan berharap keadaan ke depan bisa lebih baik.

Sementara itu, seorang aktivis lingkungan di indonesia, Senayah (21) menilai bahwa banjir yang kerap terjadi di kawasan permukiman seperti Ratu Agung bukan hanya disebabkan oleh curah hujan tinggi, tetapi juga oleh kondisi lingkungan yang semakin terbebani. Menurutnya, sistem drainase yang tidak optimal serta berkurangnya daerah resapan air menjadi faktor utama yang memperparah kondisi tersebut.

Ia menjelaskan bahwa banyak saluran air tersumbat oleh sampah rumah tangga, sehingga aliran air terhambat saat hujan deras turun dalam waktu lama. Hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, menurutnya, sangat berpengaruh dalam mencegah banjir. Selain itu, ia juga menyoroti semakin berkurangnya ruang terbuka hijau akibat pembangunan yang tidak memperhatikan keseimbangan lingkungan.

“Semakin sedikit tanah terbuka, air hujan tidak punya tempat untuk meresap. Akhirnya semua mengalir ke permukaan dan menumpuk di titik-titik rendah,” jelasnya.

Sebagai langkah penanganan, Senayah menyarankan adanya upaya bersama antara warga dan pemerintah. Dari sisi masyarakat, ia mendorong kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan, membuat lubang biopori, serta tidak menutup seluruh permukaan tanah dengan beton. Menurutnya, langkah kecil seperti itu akan berdampak besar jika dilakukan secara kolektif.

Sementara itu, dari sisi pemerintah, ia berharap ada perbaikan sistem drainase yang lebih terencana serta normalisasi saluran air secara rutin. Ia menegaskan bahwa banjir bukanlah persoalan sesaat, melainkan masalah yang memerlukan penanganan jangka panjang. Tanpa upaya serius untuk memperbaiki penyebab utamanya, kejadian serupa akan terus berulang dan warga akan kembali menghadapi situasi yang sama setiap musim hujan. ***

** Mahasiswa Jurnalistik, Unib