BENGKULU, – Di tengah dinamika ketidakpastian ekonomi global, penguatan sektor domestik berbasis syariah kini menjadi salah satu tumpuan baru bagi stabilitas daerah. Melalui sinergi kegiatan Bengkulu Road to Festival Ekonomi Syariah (BERKAH) dan Festival Edukasi Inklusi dan Inflasi (FLEKSI) 2026, Provinsi Bengkulu berupaya mengintegrasikan potensi lokal ke dalam ekosistem ekonomi syariah nasional yang kian inklusif.
Acara yang dipusatkan di Atrium Bencoolen Mall, Jumat (24/4/2026), bukan sekadar perayaan seremonial. Bagi Bank Indonesia, ini adalah langkah konkret untuk memastikan bahwa prinsip ekonomi syariah yang berkeadilan mampu menjadi motor pertumbuhan baru bagi pelaku UMKM dan lembaga pendidikan keagamaan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menekankan bahwa ekonomi syariah dan konvensional sejatinya adalah dua pilar yang saling menguatkan. "Keduanya harus tumbuh beriringan untuk mencapai tujuan pembangunan yang lebih besar dan berkelanjutan," ujarnya.
Kemandirian Pesantren
Salah satu sorotan utama dalam festival kali ini adalah keberhasilan pengumpulan dana wakaf produktif yang melampaui Rp 100 juta dalam kurun waktu kurang dari tiga minggu. Angka ini mencerminkan tingginya kepercayaan dan partisipasi publik terhadap model pembiayaan sosial Islam untuk mendukung kemandirian ekonomi pesantren.
Melalui program ini, pesantren tidak lagi hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga pusat inkubasi bisnis. Produk-produk seperti kopi, telur ayam, hingga sayuran hidroponik yang dipamerkan dalam Sharia Fair menjadi bukti nyata bahwa pesantren mampu berdikari secara ekonomi.
Menuju Pasar Halal Dunia
Langkah strategis ini sejalan dengan posisi Indonesia yang kini menempati peringkat ketiga dunia dalam Global Islamic Economy Indicator. Untuk mendukung posisi tersebut, BI Bengkulu secara konsisten mendorong sertifikasi halal bagi UMKM pangan serta pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha).
"Kami ingin memastikan bahwa produk lokal Bengkulu memiliki daya saing, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga merambah pasar halal global," tambah Wahyu.
Selain pameran produk, festival ini juga menjadi ruang literasi keuangan bagi masyarakat untuk lebih memahami inklusi keuangan dan pengendalian inflasi. Melalui berbagai kompetisi yang digelar, diharapkan lahir inovasi-inovasi baru dari generasi muda Bengkulu yang siap berkompetisi di ajang Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) di Jakarta mendatang.
