Bengkuluikobengkulu.com,- Peringatan Hari Kartini tahun 2026 menjadi momentum penting untuk kembali menyalakan semangat perjuangan perempuan Indonesia dalam berbagai bidang kehidupan. Di tengah derasnya arus perubahan zaman, nilai-nilai yang diwariskan Raden Ajeng Kartini tetap relevan sebagai inspirasi untuk terus maju, berkarya, dan berkontribusi bagi bangsa.
Kartini dikenal sebagai sosok yang memperjuangkan hak perempuan untuk memperoleh pendidikan dan kesempatan yang setara. Kini, semangat itu tercermin dari kiprah perempuan Indonesia yang hadir sebagai pemimpin, pendidik, tenaga kesehatan, pengusaha, hingga penggerak sosial di tengah masyarakat. Perempuan masa kini tidak hanya menjadi pendamping dalam keluarga, tetapi juga motor penggerak pembangunan nasional.
Pada 21-April-1016, halaman kantor Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu di ramaikan sejumlah karyawan di Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN setempat untuk menggelar upacara memperingati Hari Kartini. Di BKKBN Bengkulu upacara tersebut yang dikomandoi Endah Puspitasari, SKM.,M.E selaku Inspektur Upacara peringatan hari Kartini yang melahirkan semangat perempuan-perempiuan untuk memerdekan jiwa yang terbelenggu.
Inspektur Upacara membacakan amanat singkat Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia " Hari kelahiran Kartini telah diperingati bangsa Indonesia dari masa ke masa. Esensi semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini melalui pemikiran-pemikirannya terbukti bukan hanya menjadi pendobrak domestifikasi peran perempuan pada masanya, tetapi terus relevan dan memberi inspirasi bagi perempuan Indonesia yang bersifat lintas generasi dari masa ke masa hingga hari ini.
Lebih dari satu abad setelah Raden Ajeng Kartini menyuarakan gagasannya, kini telah merasakan berbagai kemajuan. Perempuan tidak lagi semata-mata menjalankan peran domestik rumah tangga, tetapi juga telah melangkah dalam menunaikan fungsi publiknya. Berbagai profesi publik telah dijalankan oleh perempuan. Negara telah memberikan ruang kepada perempuan secara luas dengan kebijakan afirmasi dengan semangat anti diskriminasi. Sektor swasta pun memiliki spirit yang sama. Meski demikian, berbagai tantangan menuju kesetaraan gender masih terus kita hadapi.
Capaian dalam Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Ketimpangan Gender (IKG) sebagai dua indikator keberhasilan pengarusutamaan gender di Indonesia mengonfirmasi hal ini. Berdasarkan data BPS pada angka IPG pada tahun 2024 tercatat sebesar 91,85, menunjukkan bahwa capaian pembangunan perempuan terus meningkat setiap tahun. Prempuan Indonesia masih mempunyai persoalan dalam akses terhadap ekonomi, pendidikan dan kesehatan.
Indeks Ketimpangan Gender (IKG) pada 2024 mengalami penurunan yang berada pada 0,421. Meskipun angka ini tetap menunjukkan adanya ketimpangan dalam aspek kesehatan reproduksi, pemberdayaan, dan partisipasi ekonomi perempuan. Perempuan yang melahirkan tidak di fasilitas kesehatan yang mencapai 24,8 persen, serta proporsi perempuan yang melahirkan pertama kali di usia kurang dari 20 tahun yang masih terjadi. Di bidang ketenagakerjaan, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan juga lebih rendah dibandingkan laki-laki, yaitu sekitar 56,42 persen, dibandingkan laki-laki sebesar 84,66 persen".
Kartini mewariskan komitmen menempatkan perempuan sebagai bagian penting dalam pembangunan. Oleh karena itu, upaya pemberdayaan perempuan perlu dilakukan secara sinergis oleh seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga masyarakat, akademisi, media,
hingga komunitas.(***)
