BENGKULU – Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Bengkulu mencatat kinerja positif pada penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) di awal tahun 2026. Hingga 28 Februari 2026, realisasi TKD telah menyentuh angka Rp1,9 triliun atau mencapai 22,71% dari total pagu APBN.
Kepala Kanwil DJPb Provinsi Bengkulu, Mohamad Irfan Surya Wardana, mengungkapkan bahwa capaian ini merupakan modal kuat bagi pergerakan ekonomi daerah, mengingat trennya yang terus meningkat dalam tiga tahun terakhir pada periode yang sama.
"Penyaluran ini didorong oleh realisasi Dana Alokasi Umum (DAU) dan BOSP yang cukup tinggi untuk mendukung sektor pendidikan dan kepastian penggajian ASN di daerah," ujar Irfan dalam Sarasehan Perekonomian Bengkulu yang digelar oleh Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu di Hotel Santika Bengkulu, Kamis (09/04/2026)
Soroti "Rapor Merah" Dana Desa
Meski secara akumulasi angka penyaluran terlihat menggembirakan, Irfan memberikan catatan kritis terhadap sejumlah instrumen anggaran yang justru belum bergerak sama sekali. Ia menyoroti keterlambatan pada sektor pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat desa.
"Kita harus memberikan atensi khusus pada Dana Desa dan DAK Fisik yang realisasinya masih nol persen. Hal ini disebabkan masih adanya kendala dalam pemenuhan persyaratan penyaluran dari pemerintah daerah," tegasnya.
Ketimpangan Belanja Daerah
Berdasarkan data DJPb, struktur belanja daerah di Bengkulu saat ini masih didominasi oleh aspek konsumtif birokrasi. Dari total Belanja Daerah sebesar Rp811,8 miliar, porsi Belanja Pegawai melambung hingga 88,38%.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan Belanja Modal yang hanya terserap 0,20%. Ketimpangan ini menjadi alarm bagi kualitas belanja daerah, mengingat belanja modal adalah motor utama pembangunan infrastruktur publik yang berdampak langsung pada masyarakat.
Selain itu, kemandirian fiskal Bengkulu terpantau masih rendah. Sebagian besar pendapatan daerah, yakni sebesar 87,89%, masih bergantung pada dana transfer pusat, sementara Pendapatan Asli Daerah (PAD) belum menunjukkan taji secara signifikan.***
