Bengkulu,ikobengkulu.com,-Pada 2026 tahun ini, Pemerintah Provinsi Bengkulu melalui Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) setempat. Dalam percepatan penurunan stunting (PPS) diawali dengan merilis jumlah keluarga berisiko stunting (KRS) yang segera diintervensi secara kolaboratif lintas sektor.
Berdasarkan hasil pemutakhiran pendataan keluarga (PPK) 2025. BKKBN mencatat keluarga berisiko stunting tahun ini sebanyak 56.851 keluarga dengan kategori ibu hamil, ibu menyusui, baduta dan remaja calon pengantin. Yang diantaranya terdapat 13.567 keluarga sebagai sasaran prioritas intervensi program gerakan orangtua asuh cegah stunting (Genting).
"Intervensi prioritas melalui Genting sebagai upaya strategis memperkuat fondasi keluarga bebas stunting," kata Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu Zamhari, S.H., M.H kepada pewarta di Bengkulu Selasa, (7/4/2026).
KRS adalah keluarga yang memiliki potensi melahirkan atau memiliki anak stunting yang umumnya ditandai dengan tiga kondisi dasar. Faktor ekonomi yang tergolong rendah, sarana sanitasi dan akses air bersih yang terbatas serta ditandai oleh pola asuh dan gizi belum optimal. Dan kelompok berpotensi KRS, ibu hamil, menyusui, baduta dan remaja calon pengantin
" Tahun ini intervensi Genting targetkan sasaran prioritas sebanyak 13.567 keluarga yang tersebar di sejumlah daerah kabupaten dan kota. Di Kabupaten Bengkulu Selatan sebanyak 1.002, Rejang Lebong mencapai 1.652 keluarga, Kabupaten Bengkulu Utara terdapat sebanyak 2.272 keluarga sasaran intervensi dan di Kabupaten Kaur sebanyak 1.121 keluarga.
Sementara itu, KRS lainnya tersebar di Kabupaten Seluma sebanyak 2.616, Kabupaten Mukomuko 1.244 keluarga, Kabupaten Lebong 848 keluarga, Kabupaten Kepahiang sebanyak 985, Bengkulu Tengah 884 keluarga dan di Kota Bengkulu sebanyak 943," kata Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu Zamhari, S.H., M.H kepada pewarta di Bengkulu, Senin,(6/4/2026).
“Penanganan stunting harus dimulai dari hulu, menyasar siklus kehidupan keluarga secara menyeluruh. Mulai dari sebelum menikah remaja calon pengantin, hamil, menyusui, baduta keluarga berisiko. Pendekatan ini memastikan pencegahan stunting dilakukan dari hulu ke hilir secara berkelanjutan.
" Melalui intervensi yang tepat pada KRS, kita optimis dapat menekan angka stunting sekaligus meningkatkan kualitas generasi masa depan dengan memerlukan aksi konvergensi melalui program gerakan orang tua asuh cegah stunting (Genting)".
Program GENTING sendiri mengedepankan peran serta masyarakat melalui konsep orang tua asuh yang memberikan dukungan kepada keluarga berisiko stunting, baik dalam bentuk bantuan nutrisi maupun pendampingan. Intervensi KRS di Bengkulu menjadi bukti bahwa upaya besar selalu dimulai dari langkah kecil—dari rumah ke rumah, dari keluarga ke keluarga. Di sanalah fondasi generasi bebas stunting dibangun, perlahan namun pasti.(***)