×

Pencarian

Deforestasi Masif di Bentang Alam Seblat Mengancam Ekosistem Bengkulu

Oleh: Evita Dwi lestari  (Mahasiswi S1 Jurnalistik Universitas Bengkulu)

Bentang Alam Seblat di Bengkulu merupakan salah satu kawasan hutan tropis yang memiliki peran sangat penting bagi keberlanjutan ekosistem Sumatera yang terkenal dengan konservasi Seblat. Kawasan ini dikenal sebagai habitat berbagai flora dan fauna endemik, sekaligus menjadi ruang hidup utama bagi gajah Sumatera, spesies kunci yang kini berstatus terancam punah. Secara ekologis, hutan Seblat berfungsi sebagai penyedia sumber pakan, ruang hidup, serta koridor alami bagi satwa liar. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini menghadapi tekanan besar akibat deforestasi masif yang terjadi secara perlahan namun konsisten, sehingga menggerus tutupan hutan yang selama ini menjadi penopang keseimbangan alam dan kehidupan satwa.

Deforestasi di Bentang Alam Seblat dipicu oleh pembukaan lahan untuk kepentingansecara berlebihan, terutama alih fungsi hutan menjadi perkebunan skala besar. Berdasarkan berbagai laporan pemantauan lingkungan dan pemberitaan media, ribuan hektare hutan di kawasan ini telah hilang dalam kurun waktu yang relatif singkat. Hutan yang sebelumnya berfungsi sebagai kawasan lindung dan koridor satwa berubah menjadi area terbuka atau perkebunan monokultur. Kondisi ini tidak hanya menghilangkan pohon-pohon sebagai penyangga ekosistem, tetapi juga memutus keterhubungan antarhabitat, sehingga  hutan terfragmentasi dan tidak lagi utuh seperti sebelumnya.

Dampak paling nyata dari deforestasi tersebut dirasakan oleh gajah Sumatera yang sangat bergantung pada wilayah jelajah yang luas. Ketika hutan menyusut, ruang hidup gajah ikut menyempit dan memaksa satwa ini keluar dari habitat alaminya untuk mencari makan. Situasi ini kemudian memicu konflik antara manusia dan satwa, terutama ketika gajah memasuki lahan pertanian atau permukiman warga. Selain itu, hilangnya habitat juga mengganggu pola reproduksi dan interaksi antar kelompok gajah, yang dalam jangka panjang dapat mengancam keberlanjutan populasi mereka. Ancaman serupa juga dialami oleh satwa lain dan berbagai jenis tumbuhan hutan yang kehilangan ruang tumbuh akibat perubahan fungsi lahan.

Upaya perlindungan sebenarnya telah dilakukan oleh pemerintah melalui lembaga terkait seperti Balai Konservasi Sumber Daya Alam, termasuk penertiban perambahan dan penegakan hukum terhadap aktivitas ilegal. Namun, tantangan di lapangan masih sangat besar, mengingat luasnya kawasan, keterbatasan pengawasan, serta kuatnya dorongan ekonomi yang mendorong pembukaan hutan. Jika deforestasi di Bentang Alam Seblat terus dibiarkan, maka ancaman kepunahan satwa, rusaknya ekosistem, dan hilangnya fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan akan menjadi konsekuensi yang tidak terelakkan. Oleh karena itu, menjaga hutan Seblat bukan hanya soal melindungi gajah Sumatera, tetapi juga tentang mempertahankan keseimbangan alam dan masa depan lingkungan Bengkulu secara keseluruhan.  ***