BENGKULU — Tekanan harga di Provinsi Bengkulu masih terasa pada September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) mencapai 3,38 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,85.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Provinsi Bengkulu Sahranudin, S.E., M.Si., menyampaikan inflasi tersebut terjadi karena seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks harga.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi kelompok dengan kenaikan tertinggi, yakni mencapai 7,25 persen. Berikutnya kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 4,52 persen, transportasi 4,39 persen, serta makanan, minuman dan tembakau sebesar 4,08 persen.
Sementara itu, inflasi tahunan di Kabupaten Mukomuko tercatat lebih tinggi, yakni 4,39 persen dengan IHK 113,21. Sedangkan Kota Bengkulu mencatat inflasi y-on-y sebesar 3,05 persen dengan IHK 111,40.
Sejumlah komoditas tercatat memberikan sumbangan terhadap inflasi tahunan. Di antaranya daging ayam ras, emas perhiasan, bensin, minyak goreng, Sigaret Kretek Mesin (SKM), ikan dencis, jasa laundry, kontrak rumah, bahan bakar rumah tangga dan bakso siap santap.
Namun, tidak semua harga bergerak naik. Beberapa komoditas justru memberikan tekanan deflasi, seperti cabai merah, bawang merah, santan segar, tarif rumah sakit, jengkol, tomat, telur ayam ras, bawang putih, popok bayi sekali pakai dan sepatu pria.
Secara bulanan, inflasi Bengkulu pada September 2026 tercatat 0,38 persen. Cabai merah menjadi salah satu komoditas yang memberikan andil cukup besar terhadap inflasi bulanan, bersama ikan tongkol/ikan ambu-ambu, ikan tuna, udang basah, roti manis dan sejumlah komoditas lainnya.
Di sisi lain, angkutan udara, daging ayam ras, jengkol, terong, bawang merah, minyak goreng, tomat, pir, kentang dan emas perhiasan menjadi beberapa komoditas yang memberikan sumbangan deflasi secara bulanan.
NTP Bengkulu Ikut Menguat
Di tengah tekanan harga konsumen, kondisi petani Bengkulu justru menunjukkan perbaikan. BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) September 2026 mencapai 206,79, meningkat 1,73 persen dibandingkan Agustus 2026 yang berada di angka 203,27.
Kenaikan tersebut dipengaruhi peningkatan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 2,19 persen. Sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya meningkat 0,46 persen.
Penguatan NTP terjadi pada empat subsektor. NTP tanaman pangan naik 1,04 persen, hortikultura melonjak 9,06 persen, tanaman perkebunan rakyat meningkat 1,50 persen dan peternakan naik 0,69 persen.
Sementara subsektor perikanan menjadi satu-satunya yang mengalami penurunan, yakni sebesar 0,62 persen.
BPS juga mencatat Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Bengkulu pada September 2026 mencapai 204,77 atau meningkat 1,93 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 200,89.
Data tersebut menunjukkan bahwa pada September 2026, pergerakan harga konsumen dan kondisi ekonomi petani di Bengkulu mengalami dinamika yang berbeda. Inflasi tetap terjadi, sementara daya tukar petani justru mengalami penguatan.
