KEPAHIANG – Perang total melawan stunting di Kabupaten Kepahiang tidak hanya menyasar pada pemenuhan gizi anak pasca-lahir (hilir). Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Kepahiang kini kian agresif memotong mata rantai stunting dari sektor hulu, yakni menyasar para Calon Pengantin (Catin) melalui program taktis bertajuk "Jurus Catin".
Terobosan yang diinisiasi secara nasional oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) ini mewajibkan setiap pasangan yang akan menikah untuk melakukan deteksi dini kondisi kesehatan mereka minimal tiga bulan sebelum hari pernikahan.
Kepala DPPKBP3A Kabupaten Kepahiang, Linda Rospita, MH, menegaskan bahwa kesehatan seorang ibu saat sebelum menikah dan hamil sangat menentukan kualitas fisik serta kognitif anak yang akan dilahirkan kelak.
"Pencegahan stunting yang paling efektif itu dimulai sebelum janin ada di dalam kandungan. Melalui 'Jurus Catin' ini, kami ingin memastikan setiap pasangan di Kepahiang berada dalam kondisi prima dan siap secara medis untuk mencetak generasi yang sehat," ujar Linda/
Skrining Medis 3 Bulan Sebelum Akad Nikah
Linda memaparkan, berdasarkan panduan taktis "Jurus Catin", semua pasangan calon pengantin diwajibkan mendatangi fasilitas kesehatan terdekat—baik Puskesmas maupun klinik swasta—untuk menjalani empat pemeriksaan kesehatan dasar:
- Pemeriksaan Kadar Hemoglobin (HB): Untuk mendeteksi risiko anemia (kurang darah).
- Pengukuran Berat Badan: Menilai status kecukupan gizi harian.
- Pengukuran Tinggi Badan: Memetakan postur fisik ideal.
- Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA): Skrining indikasi Kekurangan Energi Kronis (KEK).
"Kenapa harus tiga bulan sebelum menikah? Karena jika dalam pemeriksaan ditemukan potensi anemia pada catin perempuan, kita masih punya waktu landai selama tiga bulan untuk memperbaiki kondisi kesehatannya secara medis sebelum mereka hamil," jelas Linda.
Digitalisasi Data Lewat Aplikasi Elsimil
Menariknya, seluruh hasil pemeriksaan medis tersebut tidak lagi dicatat secara manual di atas kertas. Pemerintah kini mengintegrasikan data kesehatan catin secara digital melalui aplikasi Elsimil (Elektronik Siap Nikah dan Hamil).
Melalui aplikasi ini, para calon pengantin di Kepahiang diimbau untuk mengunduh, mengisi data secara mandiri, dan mengikuti langkah serta petunjuk penapisan risiko stunting yang ada di dalamnya. Data tersebut nantinya akan dipantau langsung oleh 399 personel tim pendamping keluarga yang tersebar di 117 desa dan kelurahan.
"Aplikasi Elsimil ini menjadi radar digital kita. Jika hasil input data menunjukkan status 'berisiko', tim pendamping di lapangan akan langsung mendatangi catin untuk memberikan intervensi suplemen zat besi, vitamin, hingga edukasi pola asuh," tambah Linda.
Melalui kombinasi strategi kreatif "Jurus Catin" dan penguatan digitalisasi Elsimil di tahun 2026 ini, Pemkab Kepahiang optimis dapat mengunci gerbang stunting sejak dari masa persiapan keluarga.
"Mari cegah stunting sejak hulu. Kami mengimbau seluruh pemuda-pemudi Kepahiang, ingat: berencana itu keren. Periksakan kesehatan Anda tiga bulan sebelum menikah demi masa depan anak-anak kita," pungkas Linda. (adv)
