KOTA BENGKULU – Penunjukan Kota Bengkulu sebagai tuan rumah Rapat Kerja Komisariat Wilayah (Raker Komwil) II pada tahun 2028 membawa angin segar bagi perekonomian daerah. Di balik agenda formal pemerintahan, terdapat potensi ekonomi raksasa yang siap digarap.
Pemerintah Kota Bengkulu secara tegas menyatakan komitmennya untuk mengonversi kehadiran ribuan delegasi nasional tersebut menjadi pundi-pundi pendapatan bagi masyarakat lokal dan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Strategi utama yang diusung adalah inklusivitas ekonomi. Pemerintah Kota menyadari bahwa acara sebesar ini tidak boleh hanya dinikmati oleh pelaku usaha besar atau hotel berbintang saja.

Oleh karena itu, skema kolaborasi masif sedang disiapkan untuk merangkul para pelaku ekonomi kreatif, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), serta komunitas seni budaya. Mereka akan ditempatkan di garda terdepan sebagai penyedia jasa dan produk selama perhelatan berlangsung.
"Kami akan merangkul semua elemen. UMKM kuliner, pengrajin wastra, hingga seniman lokal akan dilibatkan untuk memeriahkan acara dan memaksimalkan dampak ekonominya," demikian poin strategis yang direncanakan pemerintah kota.
Langkah ini dinilai tepat untuk menciptakan multiplier effect (efek berganda). Ketika delegasi membelanjakan uangnya untuk oleh-oleh, kuliner khas, atau jasa transportasi, perputaran uang akan langsung dirasakan oleh masyarakat akar rumput.
Selain itu, komunitas seni akan diberikan panggung untuk tampil, menjadikan suasana Raker tidak kaku melainkan penuh warna budaya. Ini bukan hanya soal hiburan, tetapi juga komersialisasi potensi budaya yang bermartabat.
Pertunjukan seni yang menarik berpotensi membuka peluang kerja sama kebudayaan atau undangan pentas ke daerah lain bagi para seniman Bengkulu.
Dari sisi makro, lonjakan aktivitas ekonomi selama Raker Komwil II diharapkan mendongkrak realisasi PAD, khususnya dari sektor pajak hotel, restoran, dan hiburan. Pemerintah Kota memproyeksikan adanya kenaikan okupansi hotel dan omzet restoran yang signifikan pada tahun 2028 nanti.
Momentum ini juga menjadi stimulus bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kualitas produk dan layanannya sejak sekarang, agar memenuhi standar selera tamu nasional.
Visi Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi menjadikan event ini sebagai "magnet" juga bermakna ekonomi jangka panjang. "Jika para tamu terkesan dengan produk UMKM Bengkulu—seperti Kopi Bengkulu, Kain Besurek, atau kerajinan kulit lantung—mereka berpotensi menjadi pelanggan loyal atau bahkan membuka jalur distribusi baru di daerah asal mereka," ujarnya.
Dengan demikian, Raker Komwil 2028 bukan hanya pesta sesaat, melainkan investasi jangka panjang bagi ketahanan ekonomi kerakyatan di Kota Bengkulu. ***
