BENGKULU – Di tengah sejuknya pendingin udara Ruang Rektor UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Rabu (26/11) siang, ingatan Prof. Dr. KH. Zulkarnain, M.Pd, melayang ke masa silam. Sebuah masa ketika cahaya adalah barang mewah, dan gulita malam hanya bisa dilawan dengan nyala api sederhana.
"Saya masih merasakan betul bagaimana dulu penerangan hanya menggunakan obor," kenang Rektor dengan mata menerawang.
Bagi sang Rektor, listrik bukan sekadar aliran elektron yang menghidupkan lampu. Ia adalah simbol peradaban. Ia adalah jembatan yang mengubah malam yang sunyi menjadi waktu produktif untuk menimba ilmu.
"Sekarang, hampir seluruh aktivitas masyarakat bergantung pada listrik. Peran PLN sangat luar biasa," gumamnya pelan, namun penuh penekanan.
Siang itu, filosofi "cahaya" tersebut menemukan bentuk barunya. Bukan lagi sekadar menerangi rumah, PLN melalui Yayasan Baitul Maal (YBM) UP3 Bengkulu datang untuk "menerangi" jalan bagi para penuntut ilmu yang nyaris redup karena himpitan biaya.
Sebuah Asa Bernama "Cahaya Pintar"
Di hadapan Ibu Nurnazmah Koto, Ketua YBM PLN UP3 Bengkulu, sebuah naskah kerja sama ditandatangani. Program itu diberi nama yang sangat relevan: "Beasiswa Cahaya Pintar".
Ini bukan sekadar seremonial tanda tangan di atas kertas bermeterai. Bagi mahasiswa jenjang Strata Satu (S1) UIN Fatmawati Sukarno yang terpilih nanti, tanda tangan itu adalah napas lega. Ia adalah kepastian bahwa cita-cita mereka tidak perlu kandas di tengah jalan hanya karena dompet orang tua yang menipis.
Nurnazmah Koto berbicara dengan nada seorang ibu yang peduli. Di balik seragam korporatnya, ada misi kemanusiaan yang diemban. Dana yang dikelola YBM sejatinya adalah titipan—kumpulan zakat, infak, dan sedekah dari para pegawai PLN yang disisihkan dari gaji mereka.
“Melalui program ini, kami berharap dapat membantu mahasiswa agar tetap semangat menyelesaikan studi. Kami ingin mereka menjadi generasi penerus yang berkualitas serta berakhlak,” tutur Nurnazmah tulus.
Menyalakan Generasi Emas Bengkulu
Kolaborasi siang itu disaksikan oleh jajaran pimpinan kampus. Ada senyum merekah di wajah Wakil Rektor III Dr. Fatimah dan pejabat lainnya. Mereka paham betul, di sudut-sudut ruang kuliah, ada mahasiswa cerdas yang kerap cemas memikirkan biaya semester depan.
Kehadiran YBM PLN seperti oase. Jika dahulu PLN hadir mengusir gelapnya malam dengan listrik, kini mereka hadir mengusir "gelapnya" masa depan akibat putus sekolah.
"Program ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa kami yang benar-benar berhak," ujar Prof. Zulkarnain menutup pertemuan hangat tersebut.
Hari itu, di Kampus Hijau UIN Fatmawati Sukarno, sebuah lampu harapan telah dinyalakan. Cahayanya mungkin tidak menyilaukan mata, tetapi dipastikan akan menghangatkan semangat ratusan mimpi anak muda Bengkulu untuk terus menyala, terang benderang menyongsong masa depan.***
