JAKARTA – Di tengah tantangan serapan tenaga kerja yang dinamis, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengambil langkah taktis.
Program Magang Nasional kini tidak lagi sekadar kegiatan pelatihan, melainkan ditetapkan sebagai salah satu instrumen vital dalam 8 Paket Akselerasi Ekonomi 2025.
Langkah ini menjadi "angin segar" bagi lulusan baru (fresh graduate) jenjang Diploma dan Sarjana yang sering kali terbentur tembok "minimal pengalaman kerja" saat melamar pekerjaan.
Jembatan Menuju Dunia Industri
Data dari Kemenko Perekonomian menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Pada Batch 1 yang dimulai Oktober lalu, tercatat 1.668 perusahaan telah bergabung dengan menyediakan 26.181 lowongan. Namun, persaingan sangat ketat dengan jumlah pendaftar mencapai 156.159 orang.
"Ini adalah strategi link and match yang konkret. Kita tidak hanya bicara soal mengurangi pengangguran, tapi meningkatkan kualitas modal manusia (Human Capital). Peserta tidak hanya menonton, mereka terjun langsung mengerjakan proyek riil dengan bimbingan mentor profesional," ungkap sumber resmi Kemnaker.
Fasilitas Setara Karyawan
Berbeda dengan magang konvensional, program yang dapat diakses melalui portal maganghub.kemnaker.go.id atau SIAPKerja ini menawarkan insentif yang menggoda. Peserta yang lolos seleksi berhak mendapatkan:
- Uang Saku: Setara dengan Upah Minimum Provinsi/Kota (UMP/UMK) lokasi penempatan (rata-rata estimasi Rp3,3 juta).
- Jaminan Sosial: Perlindungan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM).
- Sertifikat Resmi: Pengakuan kompetensi dari industri dan negara.
Kejar Target 100.000 Peserta
Menyadari tingginya minat—terlihat dari membludaknya pendaftar di Batch 1 dan 2—pemerintah tancap gas. Batch 3 dijadwalkan akan segera dibuka pada Desember 2025.
Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan (Barenbang), Anwar Sanusi, dalam laporannya menyebutkan bahwa strategi ini diharapkan mampu menyerap hingga 100.000 talenta muda.
Bagi fresh graduate, program ini adalah "tiket emas". Tidak hanya menutup celah kesenjangan skill antara teori kampus dan praktik lapangan, tetapi juga memberikan portofolio valid yang sangat dicari oleh HRD perusahaan bonafide. ***
