Bersama Kapal Perempuan, Kemendukbangga/BKKBN Bengkulu Retas Sekat Kependudukan di Daratan Pesisir Samudera Hindia

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:53:00 WIB
Foto bersama : dr. H. Zamhir Setiawan.,M.Epid Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu foto bersama Direktur Kapal Perempuan Budhis Utami.,M.Hum dan jajaran tenaga lini lapangan BKKBN,(foto BKKBN).

Bengkulu-ikobengkulu.com,- Upaya memperkuat pembangunan kependudukan hingga ke wilayah pesisir terus digencarkan, kali ini Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu bersama Institut KAPAL Perempuan bergadeng tangan untuk meretas sekat isu-isu kependudukan di Bengkulu, sebuah provinsi di daratan pesisir Samudera Hindia. Kolaborasi antara IPeKB Indonesia Provinsi Bengkulu bersama Institut KAPAL Perempuan tersebut diawali dengan menggelar pelatihan penguatan kapasitas bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB).

Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari pada pekan ke-tiga Agustus 19 hingga 21 Agustus 2026 di Kantor kemendukbangga/BKKBN Bengkulu itu melibatkan sebanyak 25 PKB/PLKB perwakilan dari sejumlah daerah kabupaten  dan kota di Bumi Merah Putih. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi memperkuat peran PKB/PLKB sebagai ujung tombak program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (BANGGAKENCANA), khususnya dalam menjangkau masyarakat yang berada di kawasan pesisir dan wilayah dengan tantangan akses pelayanan pembangunan keluarga.

Institut KAPAL Perempuan adalah organisasi masyarakat sipil yang berfokus untuk mendukung kepemimpinan perempuan dan bekerja untuk memberdayakan perempuan, khususnya perempuan dalam komunitas miskin dan terpinggirkan, dan memastikan kebutuhan mereka dipertimbangkan dalam perencanaan pembangunan. Yang sejalan dengan program Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

Kondisi geografis dan demografis Bengkulu membutuhkan pendekatan pelayanan kependudukan dan pembangunan keluarga yang adaptif, kolaboratif, serta mampu menjangkau masyarakat hingga tingkat akar rumput. Sinergitas dua lembaga yang memiliki gerak dan langkah yang sejalan dalam stabilitas demografi akan membawa kesejahteraan sosial masyarakat melalui pengembangan isu-isu gender.

Transformasi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN memperluas fokus lembaga dari Keluarga Berencana dan pengendalian penduduk menjadi pengelolaan pembangunan keluarga menyeluruh sepanjang siklus hidup, guna mewujudkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas. Kemendukbangga/BKKBN akan mendorong isu-isu gender dengan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Kelas Ayah Idaman (AMAN) dan Kesehatan Reproduksi, hal itu disampaikan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu, dr. H. Zamhir Setiawan, M.Epid., dalam sambutannya pada pembukaan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Bagi PKB/PLKB Untuk Pembangunan keluarga Yang Transpormatif Gender, Rabu, (19/8/2026).

"Kemendukbangga/BKKBN bersama Kapal Perempuan memiliki visi yang sama dalam studi demografi yaitu Kelahiran (Fertilitas), Kematian (Mortalitas) dan sebaran penduduk(Mobilitas/Migrasi). Melalui tiga program GATI, AMAN dan Kespro dapat meningkatkan Age Specific Fertility Rate (ASFR)  usia 15–19 tahun, meningkatkan Media Usia Kawin Pertama (MUKP) 21 tahun, dapat menekan angka Kehamilan Tidak Diinginkan serta menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Teranyar ASFR usia 15–19 tahun di Provinsi Bengkulu 31 per 1.000 perempuan, menunjukkan tren penurunan dari periode Sensus Penduduk sebelumnya (38,17) -(BPS)."

dr. H.Zamhir menambahkan, Program GATI dan Kelas AMAN dikembangkan untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada anak yang sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam menekan pernikahan pada usia anak yang berdampak pada kematian ibu dan anak. "Tidak kalah penting, Kemendukbangga/BKKBN memalui penerapan delapan fungsi keluarga membimbing orang tua dan anak untuk membentuk generasi yang kuat, cerdas, serta terhindar dari berbagai masalah sosial," ujar dr. Zamhir Setiawan.

Menekan AKI dan AKB perlu adanya peran ayah /suami memberikan pendampingan kepada istri dalam memilih kontrasepsi pascapersalinan  dan pengasuhan pada anak sejak bayi hingga usia sekolah melalui program "Ayah Wajib Hadir" dalam mengantar hari pertama anak sekolah.

Direktur Institut KAPAL Perempuan, Budhis Utami., M.Hum., memiliki tujuan dan visi untuk membangun kesetaraan gender, yang sejalan dengan Kemendukbangga/BKKBN yaitu dengan peningkatan median usia kawin pertama 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun laki-laki. "Kita berkomitmen untuk terus membangun isu ini agar terus disosialisasikan terkait batas usia kawin pertama pada usia 21-25 tahun," kata Budhis Utami di Bengkulu, Rabu, (19.8.2026).

Ketua IPeKB Daerah Provinsi Bengkulu Helmi Suanda,S.Sos menyebutkan, penguatan kapasitas penyuluh KB bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Penyuluh KB dalam memahami dan menerapkan pendekatan gender transformatif dalam pembangunan keluarga. Sehingga kehadiran tenaga penyuluh prorgam Bangga Kencana dapat mengisi ruang yang sangat besar untuk menjadi agen perubahan sosial di tingkat keluarga dan masyarakat.

Disebutkan Helmi, ada beberapa tujuan krusial dalam penguatan kapasitas penyuluh bersama KAPAL Perempuan yaitu, agar penyuluh dapat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai konsep gender, kesetaraan gender, mengidentifikasi berbagai persoalan dan ketimpangan gender yang terjadi di tingkat keluarga maupun masyarakat, mengintegrasikan perspektif gender dalam pelaksanaan penyuluhan dan pendampingan keluarga, mengembangkan pendekatan komunikasi yang lebih partisipatif, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan laki-laki maupun perempuan dan pembangunan keluarga yang transformatif gender. (***)

Tags

Terkini