IPeKB Masa Depan, Miliki Tiga Peran Kunci Penyuluh

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:25:00 WIB
Kepala perwakilan BKKBN Bengkulu dr. H. Zamhir Setiawan., M.Epid menyampaikan pesan tiga kunci menuju IPeKB masa depan, " Penyuluh yang Berintegritas, Kontrol Sosial, dan Dampak Teknologi Informasi "

Bengkulu,ikobengkulu.com,-Sembilan belas tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana (IPeKB), usia ini menjadi momentum untuk menoleh ke belakang, mensyukuri pengabdian yang telah dilalui, sekaligus menatap masa depan dengan semangat baru. Di balik perayaan Hari Ulang Tahun ke-19, tersimpan sebuah harapan besar agar profesi Penyuluh Keluarga Berencana terus menjadi garda terdepan dalam membangun keluarga Indonesia yang berkualitas.

 

IPeKB perlu memiliki integritas, kontrol sosial, dan kemampuan adaptasi untuk menjaga diri, mengawal program Bangga Kencana, serta menjadi teladan masyarakat dalam menghadapi kemajuan teknologi," itulah sebait pesan rindu buat IPeKB untuk masa depan keluarga Indonesia, yang disampaikan Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu dr. H. Zamhir Setiawan.,M.Epid pada apel rutin awal Agustus-2026 di halaman kantor perwakilan BKKBN Bengkulu, Senin,(3/8/2026).

 

Usia 19 tahun, usia yang cukup matang dan harus terus mengembangkan diri menjadi aparatur sipil negara (ASN). Hadir sebagai IPeKB masa depan dengan memiliki tiga peran kunci sebagai penyuluh yaitu penyuluh yang " berintegritas, kontrol siosial dan mengatasi dampak  teknologi informasi ".

 

Dikatakan Zamhir mengapa alasannya PKB/PLKB perlu berintegritas, untuk menjaga kedisiplinan dan kejujuran dalam melayani warga.Menjadi contoh yang baik di tengah masyarakat.Memastikan tugas penyuluhan berjalan jujur tanpa penyimpangan. Sehingga dapat menjawab tantangan dan kritikan terhadap kinerja PKB/PLB di lapangan. Selaku pelayan masyarakat, PKB/PLKB pasti ada kritikan membangun.

 

PKB/PLKB demgam sosial kontrolnya dapat mengawasi dan menyaring informasi yang masuk ke lingkungan kerja dan keluarga. Mencegah pengaruh buruk dari media sosial atau budaya luar yang negatif. Dan menjadikannya sebagai penengah dan pemberi solusi atas masalah sosial di desa. Serta PKB/PLKB dituntut untuk mampu beradaptasi teknologi, agar dapat memanfaatkan sarana digital untuk mempermudah penyuluhan. Meningkatkan kemampuan literasi digital agar tidak tertinggal zaman.Menyebarkan informasi program keluarga berencana secara kreatif lewat internet.

 

Untuk menjawab tantangan tersebut, tenaga penyuluh KB agar menunjukkan jati diri sebagai pengayom masyarakat. " PKB/ PLKB merupakan ujung tombak program Bangga Kencana di lini lapangan yang dengan tugas penyuluhan, penggerakan, dan pelayanan program Bangga Kencana. Bekerja dengan jati diri serta menggunakan atribut resmi dan Barang Milik Negara (BMN) sangat penting agar profesionalisme dan kehadiran petugas mudah dikenali serta dipercaya oleh masyarakat, seperti kendaraan motor dinas yang berlogo Kemendukbangga, baju dinas berlogokan penyuluh," imbau dr. Zamhir.

 

" Di Bengkulu terdapat PKB/PLKB sebanyak 286 orang yang bertugas melayani program bangga kencana kepada masyarakat di 1.513 desa /kelurahan terdapat di sejumlah daerah kabupaten dan kota di Bengkulu. Diantaranya di Kabupaten Seluma terdapat sebanyak 26 orang, Kabupaten Bengkulu Selatan terdapat 35 orang, Kabupaten Mukomuko 41 orang. Kabupaten Bengkulu Utara 46 orang, Kabupaten Rejang Lebong 36 orang, Kabupaten Kaur 30 orang, Kota Bengkulu 25 orang, Kabupaten Bengkulu Tengah 18 orang dan Kabupaten Lebong19 orang serta terdapat di Kabupaten Kepahiang sebanyak 11 orang".

 

Di era digital, tantangan penyuluh tidak lagi sekadar menyampaikan informasi mengenai keluarga berencana. Penyuluh kini harus mampu menghadapi banjir informasi di media sosial, meluruskan berbagai hoaks, mengedukasi masyarakat dengan pendekatan yang lebih humanis, sekaligus memanfaatkan teknologi sebagai sarana memperluas jangkauan pelayanan.

 

Menurutnya, teknologi telah mengubah pola komunikasi masyarakat. Penyuluh dituntut mampu memanfaatkan media digital untuk menyampaikan edukasi mengenai Program Bangga Kencana, percepatan penurunan stunting, kesehatan reproduksi, pembinaan remaja, hingga penguatan ketahanan keluarga. Namun di saat yang sama, penyuluh juga harus menjadi kontrol sosial dengan memberikan informasi yang benar, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

 

"Teknologi adalah alat untuk mempercepat pelayanan, tetapi nilai-nilai kemanusiaan tidak boleh hilang. Penyuluh KB harus menjadi pribadi yang berintegritas, mampu beradaptasi dengan perubahan, serta tetap hadir mendampingi masyarakat dalam setiap persoalan keluarga. Kepercayaan masyarakat adalah modal terbesar yang harus terus dijaga," kata Zamhir.

 

Ia menambahkan, tantangan pembangunan keluarga ke depan semakin kompleks. Perubahan pola hidup, rendahnya literasi digital keluarga, meningkatnya risiko pernikahan usia anak, hingga persoalan stunting membutuhkan penyuluh yang tidak hanya menguasai program, tetapi juga mampu menjadi komunikator, motivator, fasilitator, dan agen perubahan.

 

Selama hampir dua dekade, Penyuluh KB telah menjadi bagian dari denyut pembangunan keluarga di Bengkulu. Mereka hadir di desa-desa, menyapa pasangan usia subur, mendampingi remaja melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), membina keluarga melalui kelompok BKB, BKR, dan BKL, menggerakkan Kampung KB, serta mengawal berbagai program prioritas Kemendukbangga/BKKBN.

 

Momentum HUT ke-19 bukan sekadar seremoni organisasi. Ia adalah pengingat bahwa profesi penyuluh akan terus dibutuhkan, selama keluarga masih menjadi fondasi pembangunan bangsa. Ketika teknologi terus berkembang, tantangan semakin besar, dan perubahan sosial berlangsung begitu cepat, Penyuluh KB dituntut tetap menjadi penjaga nilai, penyampai harapan, serta jembatan antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan masyarakat.

 

Barangkali inilah "nyanyian rindu" yang sesungguhnya bagi IPeKB di usia ke-19: kerinduan akan lahirnya penyuluh-penyuluh yang cerdas memanfaatkan teknologi, teguh menjaga integritas, berani menjadi kontrol sosial, dan tulus mengabdi. Sebab pada akhirnya, pembangunan keluarga yang kuat selalu dimulai dari sosok penyuluh yang bekerja bukan hanya dengan pengetahuan, tetapi juga dengan hati.(***)

Tags

Terkini