JOMBANG – KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menawarkan gagasan transformasi Nahdlatul Ulama (NU) memasuki abad kedua dengan tiga arah utama, yakni berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat.
Gagasan itu disampaikan menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 di Jombang. Menurut Gus Rozin, momentum pergantian kepemimpinan perlu dimanfaatkan untuk memperkuat jam'iyyah agar semakin mampu melayani jamaah, menjaga persatuan, serta memberikan manfaat bagi bangsa dan masyarakat luas.
Ia berpandangan, perubahan yang dilakukan NU tidak boleh menjauhkan organisasi dari jati dirinya. Sebaliknya, transformasi harus berpijak pada fondasi yang diwariskan para pendiri NU, termasuk Qanun Asasi, Khittah NU 1926, serta nilai Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) An-Nahdliyyah.
“NU yang besar bukan hanya karena sejarahnya, tetapi karena kemampuannya terus menghadirkan kemaslahatan bagi umat di setiap zaman,” ujar Gus Rozin.
Berangkat dari Tradisi Pesantren
Gus Rozin tumbuh dalam lingkungan pesantren dan ditempa langsung oleh KH MA Sahal Mahfudh, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 1999-2014.
Dari sosok KH Sahal Mahfudh, ia memperoleh pemahaman bahwa tradisi keilmuan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi harus menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
Perjalanan pendidikannya ditempuh melalui pesantren, perguruan tinggi Islam, hingga Monash University di Australia.
Di lingkungan NU, Gus Rozin pernah mengemban sejumlah posisi, antara lain Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU, Katib Syuriyah PBNU, serta Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah. Ia juga mendapat amanah sebagai Ketua Majelis Masyayikh.
Pengalaman tersebut menjadi dasar bagi Gus Rozin untuk mendorong penguatan NU sebagai organisasi keagamaan sekaligus sosial yang mampu beradaptasi terhadap perkembangan zaman.
Tiga Arah Transformasi NU
Gus Rozin merumuskan visinya sebagai upaya mewujudkan Nahdlatul Ulama sebagai Jam'iyyah Diniyyah Ijtima'iyyah yang ta'aluf, berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat dalam menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan peradaban dunia.
Visi itu kemudian diterjemahkan ke dalam tiga pilar utama.
Pertama, NU yang berdaulat. Menurut Gus Rozin, kedaulatan organisasi harus dibangun melalui tata kelola yang profesional, mandiri, transparan, serta melibatkan partisipasi jamaah.
Kemandirian dinilai penting agar kebijakan organisasi dapat dijalankan berdasarkan kepentingan jamaah dan tujuan organisasi.
Kedua, NU yang bermartabat. Pilar ini menempatkan integritas, akhlak, musyawarah, penghormatan terhadap tradisi keulamaan, dan persatuan sebagai fondasi kepemimpinan.
Ketiga, NU yang bermanfaat. Manfaat organisasi, menurut Gus Rozin, harus dapat dirasakan secara konkret melalui penguatan pendidikan, pesantren, ekonomi, kesehatan, filantropi, ilmu pengetahuan, serta pelayanan sosial hingga tingkat ranting.
Semua itu ditempatkan dalam semangat khidmah atau pengabdian kepada jamaah.
Lima Prinsip Kepemimpinan
Selain tiga pilar transformasi, Gus Rozin mengusung lima prinsip dalam pengelolaan organisasi, yaitu akhlakul karimah, musyawarah, keadilan ('adalah), khidmah, dan maslahah.
“Memimpin dengan akhlak, bermusyawarah dalam mengambil keputusan, menegakkan keadilan dalam mengelola amanah, berkhidmah kepada jamaah, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat,” kata Gus Rozin.
Menurut dia, akhlak diperlukan untuk membangun keteladanan, sementara musyawarah menjadi instrumen untuk menghasilkan keputusan yang bijaksana.
Adapun prinsip keadilan diperlukan untuk membangun kepercayaan terhadap organisasi. Sementara itu, khidmah menjadi dasar hubungan antara pengurus dan jamaah, sedangkan maslahah ditempatkan sebagai ukuran dari keberhasilan kebijakan organisasi.
Dorong Kemandirian dan Transformasi Digital
Untuk menerjemahkan gagasan tersebut, Gus Rozin menawarkan sejumlah agenda strategis.
Salah satunya adalah penguatan ideologi Aswaja dan Khittah NU agar transformasi organisasi tetap memiliki pijakan nilai yang jelas.
Ia juga mendorong pembenahan tata kelola organisasi untuk membangun sistem yang lebih transparan dan akuntabel.
Pada sektor pendidikan, lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan NU dinilai perlu diintegrasikan dalam satu ekosistem sehingga dapat saling memperkuat, mulai dari pesantren hingga perguruan tinggi.
Sementara itu, kemandirian ekonomi organisasi akan didorong melalui optimalisasi aset, penguatan filantropi, dan pemberdayaan ekonomi jamaah.
Transformasi digital juga menjadi salah satu perhatian. Pemanfaatan data dan teknologi dinilai diperlukan untuk meningkatkan kualitas tata kelola, komunikasi organisasi, serta pelayanan kepada jamaah.
Agenda lain mencakup penguatan kaderisasi, pengembangan kepemimpinan ulama, perluasan pelayanan sosial, hingga pembangunan jejaring dan diplomasi NU di tingkat internasional.
Menurut Gus Rozin, tantangan NU memasuki abad kedua bukan sekadar mempertahankan kebesaran organisasi, melainkan memastikan kebesaran tersebut diterjemahkan menjadi manfaat nyata.
Karena itu, transformasi NU harus tetap bertumpu pada tradisi pesantren dan nilai Aswaja An-Nahdliyyah, tetapi pada saat yang sama mampu menjawab perkembangan sosial, ekonomi, politik, serta teknologi.
Dengan kerangka tersebut, Gus Rozin berharap NU pada abad kedua dapat semakin berdaulat dalam tata kelola, bermartabat dalam kepemimpinan, dan bermanfaat dalam pengabdian kepada jamaah, bangsa, dan masyarakat dunia. ***