BENGKULU — Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Ketahun menyatakan siap menyediakan bibit tanaman secara gratis untuk mendukung pengembangan Green Campus dan kawasan eco-agrowisata Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari kolaborasi BPDAS Ketahun dengan Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dalam pengembangan kawasan kampus di eks-STQ sebagai ruang hijau, kawasan edukasi, sekaligus laboratorium alam.
Dalam pemetaan dan diskusi pengembangan kawasan, BPDAS Ketahun menyampaikan bahwa bibit yang dapat disediakan meliputi tanaman peneduh, tanaman produktif, dan tanaman konservasi. Jenis tanaman nantinya akan disesuaikan dengan fungsi setiap zona dan rencana tata hijau kawasan kampus.

Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Fadilah, mengatakan, dukungan tersebut dapat mempercepat realisasi konsep kampus hijau yang tidak hanya berorientasi pada penghijauan, tetapi juga pendidikan lingkungan dan keberlanjutan.
“Kami mengapresiasi komitmen BPDAS Ketahun untuk mendukung penyediaan bibit tanaman. Ini menjadi bagian penting dalam pengembangan Green Campus dan eco-agrowisata yang berbasis keberlanjutan, edukasi, serta penguatan nilai ekoteologi,” kata Fadilah.
Menurut Fadilah, kawasan eks-STQ dirancang tidak sekadar menjadi ruang terbuka hijau. Kawasan tersebut juga diproyeksikan sebagai tempat pembelajaran mahasiswa, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta edukasi lingkungan bagi masyarakat sekitar.
Karena itu, UIN FAS Bengkulu mendorong agar kolaborasi dengan BPDAS Ketahun dapat dilanjutkan dalam bentuk kerja sama kelembagaan dengan program yang terukur dan berkelanjutan.

Kasubbag Tata Usaha BPDAS Ketahun, Aprianty Pratiwi, S.P., M.Si., mengatakan, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam mendukung rehabilitasi lingkungan dan peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan daerah aliran sungai.
“BPDAS Ketahun siap mendukung pengembangan kawasan hijau UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu melalui penyediaan bibit sesuai kebutuhan dan fungsi kawasan,” ujar Aprianty.
Menurut dia, kampus dapat menjadi ruang percontohan penerapan rehabilitasi lingkungan sekaligus pusat edukasi bagi generasi muda dan masyarakat.
Dukungan tidak hanya diarahkan pada penyediaan tanaman. Manajer Persemaian Tahura, Ahmad Darmawi, mengatakan, aspek pemeliharaan setelah penanaman juga perlu menjadi perhatian agar program penghijauan memberikan dampak jangka panjang.
“Kami menyiapkan berbagai jenis bibit yang dapat disesuaikan dengan konsep Green Campus maupun eco-agrowisata, mulai dari tanaman peneduh, produktif, hingga konservasi,” kata Ahmad.
Ia berharap program tersebut tidak berhenti pada seremoni penanaman pohon, tetapi diteruskan dengan perawatan, pemantauan pertumbuhan tanaman, serta pemanfaatan kawasan sebagai sarana edukasi.
Kolaborasi UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dan BPDAS Ketahun selanjutnya direncanakan dituangkan dalam kerja sama resmi. Langkah tersebut diperlukan untuk memperjelas pembagian peran, program pemeliharaan kawasan, serta target pengembangan lingkungan dalam jangka panjang.
Pengembangan kawasan eks-STQ sebagai Green Campus dan eco-agrowisata diharapkan dapat memperkuat fungsi kampus sebagai pusat pendidikan sekaligus memberikan manfaat ekologis dan sosial bagi masyarakat di sekitarnya.