Bengkulu Masuki Puncak Musim Kemarau, Hujan Ringan Masih Berpotensi Terjadi

Selasa, 21 Juli 2026 | 16:44:32 WIB
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan Provinsi Bengkulu telah memasuki musim kemarau.

IKOBENGKULU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan Provinsi Bengkulu telah memasuki musim kemarau. Berdasarkan rilis terbaru BMKG Pulau Baai, puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026. Meski demikian, masyarakat diimbau untuk tidak salah memahami bahwa musim kemarau berarti tidak akan turun hujan sama sekali.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Fatmawati Bengkulu, Fajar Handoyo, menjelaskan bahwa kondisi cuaca di Bengkulu saat ini masih didominasi oleh angin monsun Australia atau angin dari arah tenggara. Angin tersebut membawa massa udara yang lebih kering sehingga menyebabkan curah hujan berkurang dibandingkan kondisi normal.

"Musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Hujan masih berpotensi terjadi, namun intensitasnya lebih rendah dibandingkan biasanya. Jadi masyarakat jangan sampai salah persepsi ketika masih turun hujan satu atau dua hari, karena itu tidak berarti musim kemarau telah berakhir," ujarnya saat di wawancarai pada Selasa (21/7/26).

Menurutnya, BMKG masih memprakirakan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang akan terjadi di sejumlah wilayah Bengkulu secara tidak merata. Berdasarkan pantauan terbaru, hujan telah terjadi di wilayah Mukomuko, Rejang Lebong, dan Bengkulu Utara dengan intensitas ringan hingga sedang.

Sementara itu, Kota Bengkulu yang berada di kawasan pesisir memiliki pola cuaca yang lebih dinamis. Fajar mengatakan hujan masih dapat terjadi, namun umumnya hanya berupa hujan ringan dengan durasi yang relatif singkat.

"Wilayah Kota Bengkulu berada di pesisir sehingga kondisi cuacanya cukup dinamis. Masih ada kemungkinan hujan, tetapi umumnya hanya hujan ringan," katanya.

Fajar menegaskan bahwa penetapan musim kemarau dilakukan berdasarkan kriteria meteorologi yang telah ditetapkan BMKG, bukan hanya karena ada atau tidaknya hujan dalam satu atau dua hari. Penentuan musim kemarau dihitung dari jumlah curah hujan dalam periode tertentu, termasuk akumulasi curah hujan selama satu dasarian atau sepuluh hari.

Selain berdampak pada kondisi cuaca, musim kemarau juga berpotensi mengurangi ketersediaan air di berbagai wilayah. Dominasi angin monsun Australia menyebabkan kelembapan udara menjadi lebih rendah sehingga pasokan uap air yang membentuk awan hujan juga berkurang.

Fajar mengingatkan bahwa kondisi tersebut dapat memengaruhi berbagai sektor, mulai dari pertanian, pengelolaan sumber daya air, hingga aktivitas masyarakat sehari-hari. Karena itu, setiap sektor diharapkan mulai melakukan langkah mitigasi untuk menghadapi potensi berkurangnya pasokan air selama puncak musim kemarau.

"Semua sektor perlu bersiap. Pertanian harus mengantisipasi jika kebutuhan air berkurang, pengelola sumber daya air juga perlu mengatur distribusi air dengan baik. Kita harus memitigasi sejak dini karena jumlah air yang tersedia diperkirakan akan lebih sedikit dibandingkan kondisi normal," jelasnya.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi prakiraan cuaca resmi dan tetap bijak menggunakan air selama musim kemarau berlangsung, mengingat puncak musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung hingga Agustus mendatang.

Tags

Terkini