Tergerus Transportasi Online dan Kendaraan Pribadi, Angkot di Kota Bengkulu Sepi Penumpang

Sabtu, 04 Juli 2026 | 08:00:00 WIB
Sepinya penumpang ini dirasakan langsung oleh supir angkot yang biasa mangkal di kawasan Pasar Panorama.

IKOBENGKULU – Pengguna angkutan kota (angkot) di Kota Bengkulu saat ini sudah jauh berkurang. Berbeda dengan dulu, anak-anak sekolah tingkat SMP dan SMA sekarang rata-rata sudah menggunakan sepeda motor sendiri. Hal ini, ditambah dengan menjamurnya transportasi online, membuat pendapatan para supir angkot merosot tajam.

Sepinya penumpang ini dirasakan langsung oleh Edwan (67), supir angkot yang biasa mangkal di kawasan Pasar Panorama. Pria yang sudah menarik angkot sejak tahun 1998 ini merasa bahwa angkutan tradisional tersebut tidak akan bertahan lama lagi.

"Menurut saya, angkot sebentar lagi akan hilang dari jalanan. Ya, paling satu tahun lagi usianya. Sekarang sudah tidak ada lagi di jam-jam tertentu yang laku (penumpang). Sehari-hari bahkan pernah sama sekali tidak mendapatkan penumpang," ujar Edwan saat ditemui di kawasan Panorama, Jumat (3/7/2026).

Edwan menambahkan, saat ini ia hanya bisa mengandalkan pendapatan dari sektor informal. Salah satunya adalah jasa sewa (charter) bulanan dari rombongan anak sekolah yang pergi berenang sebanyak satu hingga dua kali sebulan.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ujang Sukino (64), supir angkot lain yang sudah beroperasi selama 11 tahun. Selain faktor transportasi digital, menurut Ujang, perubahan tata kota secara tidak langsung juga memotong rute jalan angkot yang dulu selalu ramai.

"Dulu pusat keramaian menumpuk di Pasar Panorama dan Pasar Minggu, sekarang di tiap kecamatan sudah ada pasar lokal seperti di Perundam. Jadi warga tidak perlu jauh-jauh lagi naik angkot," kata Ujang.

Dampak dari perubahan ini membuat pendapatan para supir merosot tajam. Ujang membeberkan bahwa saat ini pendapatan bersih yang bisa ia bawa pulang rata-rata di bawah Rp100.000, atau berkisar Rp50.000 per hari. Momen-momen yang dulunya ramai seperti awal bulan (bulan muda) atau saat Festival Tabut, kini sudah tidak lagi mendongkrak pendapatan mereka.

Faktor usia senja dan keterbatasan fisik membuat kedua supir angkot ini tidak memiliki pilihan pekerjaan lain selain bertahan dengan armada milik sendiri.

Terkait masa depan tentang angkutan umum ini, keduanya mengaku sudah tidak memiliki harapan muluk dan hanya bisa pasrah mengikuti perkembangan zaman yang ada.

"Harapan ke depan sudah tidak ada lagi. Sekarang zaman sudah maju, pasti ada yang menjadi korban perubahan teknologi. Kalau bisa balik lagi ke zaman dulu itu harapannya, tapi kalau sekarang sudah tidak bisa lagi, terima nasib saja," pungkas Ujang.

Kini, para supir angkot hanya bisa bertahan di tengah perubahan zaman dan sepinya penumpang yang lebih memilih kendaraan pribadi serta ojek online.

Penulis : Shabrina Putri

Terkini