SCROLL PASIF SEBAGAI BENTUK PERUBAHAN INTERAKSI SOSIAL SERTA DAMPAKNYA TERHADAP KESEPIAN DIGITAL

Jumat, 29 Mei 2026 | 09:13:00 WIB
ilustrasi

Oleh: Muffi Ramadhani
Mahasiswa Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bengkulu
Mata Kuliah; Sosiologi Teknologi
Dosen Pengampu: Diyas Widiyarti, S.Sos., M.Si.

Tanpa disadari, banyak orang kini menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menggulir layar media sosial. Aktivitas yang terlihat sederhana tersebut perlahan menjadi kebiasaan sehari-hari, terutama melalui platform seperti TikTok, Instagram, dan Facebook. Mulai dari bangun tidur hingga sebelum tidur kembali, media sosial seolah menjadi ruang yang selalu menemani aktivitas masyarakat modern. Namun, di balik kemudahan akses dan banjir informasi tersebut, muncul perubahan dalam cara individu berinteraksi di era digital.
Salah satu kebiasaan yang semakin sering terjadi adalah scroll pasif, yaitu aktivitas mengonsumsi konten tanpa adanya keterlibatan aktif dalam interaksi sosial. Pengguna hanya melihat video, foto, atau unggahan orang lain tanpa memberikan komentar, tanggapan, maupun komunikasi timbal balik. Dalam perspektif sosiologi, kebiasaan ini dapat dipahami sebagai bentuk perubahan interaksi sosial, dari yang sebelumnya bersifat aktif dan dua arah menjadi lebih pasif dan satu arah. Jika sebelumnya media sosial dipandang sebagai ruang komunikasi yang memungkinkan individu saling berinteraksi, kini platform digital justru lebih sering digunakan sebagai ruang konsumsi konten. Individu lebih banyak menjadi penonton daripada pelaku dalam ruang digital. Mereka melihat dan mengamati kehidupan orang lain, tetapi tidak benar-benar terlibat dalam hubungan sosial yang bermakna. Akibatnya, interaksi sosial perlahan berubah menjadi aktivitas yang bersifat pasif dan dangkal.
Kebiasaan scroll pasif juga menciptakan apa yang dapat disebut sebagai ilusi koneksi. Individu merasa dekat dengan orang lain karena terus melihat aktivitas mereka setiap hari, padahal tidak ada hubungan sosial yang benar-benar terbangun. Tidak ada percakapan yang mendalam, tidak ada pertukaran makna, bahkan tidak ada keterlibatan emosional yang nyata. Kedekatan yang tercipta akhirnya hanya bersifat semu. Di sisi lain, media sosial juga mendorong munculnya social comparison atau perbandingan sosial. Konten yang tampil di media sosial umumnya menunjukkan sisi terbaik dari kehidupan seseorang, mulai dari pencapaian, gaya hidup, hingga hubungan sosial yang terlihat ideal. Tanpa disadari, individu mulai membandingkan dirinya dengan gambaran tersebut. Perbandingan sosial yang terjadi secara terus-menerus dapat memunculkan perasaan tidak cukup, tertinggal, bahkan rendah diri.
Dampak lanjutan dari kondisi tersebut adalah munculnya kesepian digital. Kesepian digital merujuk pada kondisi ketika individu merasa terisolasi secara sosial meskipun secara teknis tetap terhubung dengan banyak orang melalui media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa koneksi digital tidak selalu sejalan dengan kedekatan sosial yang nyata. Penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara intensitas penggunaan media sosial dengan tingkat kesepian individu (Rarung et al., 2024). Fenomena ini sejalan dengan pemikiran Sherry Turkle melalui konsep “alone together”, yaitu kondisi ketika individu tetap merasa sendiri meskipun terus terkoneksi secara digital (Turkle, 2011). Dalam kondisi tersebut, teknologi memang mampu memperluas koneksi, tetapi belum tentu mampu menghadirkan kedekatan emosional yang autentik. Dalam perspektif interaksi sosial George Herbert Mead, hubungan sosial terbentuk melalui proses komunikasi dan respons timbal balik antarindividu. Namun, dalam kebiasaan scroll pasif, proses interaksi tersebut menjadi berkurang karena individu lebih banyak menjadi penonton daripada terlibat aktif dalam komunikasi digital. Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan dalam pola interaksi sosial masyarakat di era digital. 
Berdasarkan survei APJII tahun 2024, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 221 juta jiwa dengan tingkat penetrasi internet sebesar 79,5 persen. Tingginya penggunaan internet tersebut menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Generasi Z menjadi kelompok yang paling banyak terkoneksi internet di Indonesia (Komite.id, 2024).
Lebih jauh lagi, kebiasaan scroll pasif tidak terlepas dari peran algoritma media sosial. Algoritma dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna dengan terus menyajikan konten yang relevan dan menarik. Sistem ini secara tidak langsung mendorong individu untuk terus melakukan scrolling tanpa henti. Dalam konteks ini, teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga membentuk pola perilaku dan cara individu berinteraksi di ruang digital. Kesepian digital sering kali dipandang sebagai persoalan individu semata. Padahal, jika dilihat lebih dalam, kondisi ini juga merupakan bagian dari perubahan sosial yang lebih luas. Perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat membangun dan mempertahankan hubungan sosial, dari yang sebelumnya berlangsung secara langsung menjadi semakin dimediasi oleh layar. 
Pada akhirnya, media sosial memang mampu mendekatkan banyak orang dalam satu ruang digital, tetapi tidak selalu mampu menghadirkan kedekatan yang nyata. Di tengah arus scrolling tanpa henti, manusia tetap membutuhkan hubungan sosial yang autentik, bukan sekadar koneksi digital yang semu.

Daftar Referensi
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. (2024). Jumlah pengguna internet Indonesia tembus 221 juta orang. APJII.
Komite.id. (2024). Hasil survei APJII: Pengguna internet di Indonesia tembus 221 juta, mendominasi Gen Z. Komite.id.
Rarung, C., Pali, C., & Opod, H. (2024). Hubungan loneliness dengan durasi penggunaan media sosial pada mahasiswa. Jurnal Kedokteran Komunitas dan Tropik.
Turkle, S. (2011). Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other. Basic Books.

Terkini