"Gerakan Kembali ke Meja Makan" Memperkuat Ikatan Emosional Dan Pemenuhan Gizi Seimbang

Senin, 15 Juni 2026 | 16:14:00 WIB
Gerakan kembali ke meja makan untuk keluarga Indonesia

Bengkuluikobengkulu.com,-Gerakan kembali ke meja makan sejak beberapa tahun lalu terus digaungkan pada moment peringatan hari keluarga nasional. Gerakan tersebut tak hanya untuk memastikan keseimbangan gizi antar anggota keluarga namun lebih dari itu untuk memperkuat Ikatan emosional membangun komunikasi efektif, dan menanamkan nilai karakter anak.

 

Gerakan kembali ke meja makan adalah kampanye penting untuk menyisihkan waktu agar keluarga berkumpul, makan, dan berinteraksi setidaknya sekali sehari. Gerakan ini sangat krusial dalam pembangunan keluarga karena menjadi sarana utama memperkuat ikatan emosional dan membangun komunikasi efektif dalam keluarga.

 

" Ini sebuah inisiatif dalam program strategis pembangunan kependudukan untuk memperkuat 8 fungsi keluarga (agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, pendidikan, ekonomi, dan pembinaan lingkungan. Melalui gerakan ini keluarga dapat meluangkan waktu berkumpul dan berkomunikasi, khususnya demi tumbuh kembang anak. Sehingga anak-anak Indonesia merasakan pengasuhan yang maksimal dalam lingkungan keluarga,"kata Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu dr. Zamhir Setiawan., M.Epid kepada pewarta di Bengkulu, Senin,(15/6/2026).

 

Disampaikan Zamhir, di tengah tingginya kesibukan orang tua dan maraknya penggunaan gawai (gadget), gerakan ini menjadi sangat krusial bagi anak-anak. untuk memperkuat ketahanan keluarga di Bengkulu perlu gerakan ini menyentuh keluarga-keluarga di daerah ini.

 

" Berdasarkan hasil rekapitulasi data keluarga 2025 lalu, di Bengkulu terdapat 577.130 keluarga. Dan jumlah anak di Bengkulu mencapai 877.900 ribu jiwa (BPS-2026)".

 

Menurut dr. Zamhir, gerakan ini berhubungan erat dengan perkembangan dan pembangunan anak-anak Indonesia. Karena difokuskan pada pemenuhan hak anak dan penguatan ketahanan keluarga melalui beberapa aspek penting. Yang diantaranya kesehatan mental anak dan pendidikan karakter.

 

"Kesehatan mental anak menjadi ruang aman bagi anak untuk bercerita, berkeluh kesah, dan mencurahkan isi hati kepada orang tua. Sementara itu, pendidikan karakter dimana untuk melatih anak tentang tata krama makan, kedisiplinan, dan belajar mengonsumsi makanan sehat. Melalui beberapa hubungan dengan gerakan tersebut dengan anggota keluarga khususnya anak, maka tumbuh ikatan emosional terbangunnya rasa aman, dicintai, dan kedekatan psikologis yang kuat antara anak dan orang tua," kata Kepala BKKBN Bengkulu dr. Zamhir.

 

Ia menambahkan, gerakan kembali ke meja makan bukan sekadar mengajak keluarga makan bersama, tetapi menjadi upaya membangun kesadaran akan pentingnya pemenuhan gizi seimbang, komunikasi keluarga, dan pengasuhan yang berkualitas. Ketika orang tua dapat mengawasi langsung pola makan anak dan memastikan kecukupan gizinya, maka risiko stunting dapat ditekan sejak dini."

 

"Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi angka stunting di Provinsi Bengkulu berada di angka 18,8 persen. Capaian ini menunjukkan tren penurunan sebesar 1,4 persen dibandingkan angka sebelumnya yang berada di posisi 20,2 persen".(***)

Tags

Terkini