Minyak Dunia Tembus 110 Dolar AS, Pemerintah Percepat Blok Masela Sebagai Benteng Ekonomi Nasional

Minggu, 12 April 2026 | 15:49:00 WIB
Proyek Lapangan Gas Abadi di Blok Masela di Laut Arafura, lepas pantai Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya, Maluku. (Foto: Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi)

JAKARTA – Di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengancam stabilitas jalur perdagangan Selat Hormuz, Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis dengan mempercepat pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) Blok Masela di Maluku.

Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Satya Hangga Yudha, menegaskan bahwa percepatan Lapangan Abadi ini merupakan upaya krusial dalam melindungi kedaulatan ekonomi nasional.

Hangga menyoroti bahwa dinamika internasional saat ini telah memicu lonjakan harga minyak mentah hingga menyentuh angka 110 dolar AS per barel. Kondisi ini memberikan tekanan berat pada neraca perdagangan akibat tingginya ketergantungan pada impor energi.

"Momentum pembangunan fisik yang telah dimulai sejak Februari 2026 menjadi bukti nyata bahwa proyek ini bukan lagi sekadar wacana administratif. Blok Masela akan berfungsi sebagai benteng energi domestik yang mampu menyuplai kebutuhan secara masif dan stabil," ujar Hangga dalam keterangan resminya, Sabtu (11/4/2026).

Skema Alokasi Strategis: 60% Ekspor, 40% Domestik

Untuk menjaga keseimbangan antara daya tarik investasi dan ketahanan nasional, pemerintah telah menetapkan skema alokasi produksi yang terukur.

Sebanyak 60 persen produksi akan diperuntukkan bagi pasar ekspor guna menjamin keekonomian proyek, sementara 40 persen tetap dialokasikan secara ketat untuk kebutuhan dalam negeri.

Proyek raksasa ini diproyeksikan memiliki kapasitas produksi yang luar biasa, meliputi:

  • 9,5 Juta Ton Per Tahun (MTPA) LNG.
  • 150 Juta Standar Kubik per Hari (MMSCFD) gas pipa.
  • 35.000 Barel minyak kondensat per hari.
  • Motor Ekonomi Indonesia Timur

Selain memperkuat cadangan devisa, pengembangan Blok Masela diharapkan menjadi motor penggerak peradaban ekonomi baru di wilayah timur Indonesia.

Hal ini mencakup pemberian hak kelola (participating interest) sebesar 10 persen bagi BUMD Maluku serta penciptaan lapangan kerja masif bagi tenaga kerja lokal.

"Melalui pengawalan ketat lintas kementerian, kita memastikan kedaulatan ekonomi kita tetap terjaga meski situasi geopolitik global sedang tidak menentu," pungkas Hangga.

Terkini