Pakar Australia Ingatkan Bahaya Ketimpangan Digital, AI Harus Berpihak pada Manusia

Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:30:00 WIB
Profesor Farida Fozdar dari Curtin University, Australia, memaparkan tantangan AI dan Society 5.0 dalam konferensi ICSOPOLIS 2026 di Bengkulu, Rabu (28/10/2026).

BENGKULU – Teknologi semakin canggih. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini mampu membantu manusia menganalisis data hingga memperkirakan berbagai kemungkinan di masa depan. Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul ancaman baru. Teknologi justru berpotensi memperlebar kesenjangan sosial jika manfaatnya hanya dinikmati kelompok tertentu.

Persoalan itu menjadi sorotan Profesor Farida Fozdar dari Curtin University, Australia Barat, saat menjadi pembicara dalam International Conference on Social and Political Sciences (ICSOPOLIS) 2026 yang digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Bengkulu (UNIB) di Hotel Mercure Bengkulu, Rabu (28/10/2026).

Melalui presentasi bertajuk Visioning Futures: Challenges and Opportunities in Society 5.0, Farida mengingatkan bahwa keberhasilan perkembangan teknologi tidak semestinya hanya diukur dari kecanggihan sistem yang diciptakan. Hal yang lebih penting adalah siapa saja yang memperoleh manfaat dari teknologi tersebut.

Dalam paparannya, Farida menjelaskan bahwa Society 5.0 merupakan konsep masyarakat yang menempatkan manusia sebagai pusat perkembangan teknologi.

Jika pada era Society 4.0 manusia harus mencari dan mengakses data melalui berbagai sistem informasi, pada era Society 5.0 data dan teknologi diharapkan hadir untuk melayani kebutuhan manusia.

Namun, Farida mempertanyakan siapa sebenarnya manusia yang menjadi pusat perkembangan teknologi tersebut.

Ia mencontohkan penerapan konsep kota pintar atau smart city. Sebuah kota, menurut materi yang dipaparkannya, hanya dapat disebut pintar bagi kawasan yang telah terhubung dengan infrastruktur digital.

Begitu pula dengan algoritma yang dikembangkan menggunakan data dari kota-kota kaya. Sistem tersebut berpotensi lebih sesuai untuk melayani kebutuhan masyarakat di wilayah maju dibandingkan kelompok yang memiliki keterbatasan akses.

Tanpa kebijakan yang inklusif, perkembangan teknologi justru dapat mengulang ketimpangan sosial yang sudah ada dengan kecepatan lebih tinggi.

AI Bisa Digunakan untuk Memprediksi Masa Depan

Farida juga memaparkan peluang penggunaan AI dalam penelitian sosial dan politik.

Menurutnya, kemajuan teknologi memungkinkan ilmuwan sosial tidak hanya menjelaskan berbagai fenomena yang telah terjadi, tetapi juga mengeksplorasi kemungkinan perubahan pada masa depan.

Dalam presentasinya, Farida memperkenalkan kajian eksploratif mengenai pengembangan perangkat prediksi dan visualisasi dampak sosial-politik berbasis AI.

Kajian tersebut diarahkan untuk mengidentifikasi pilihan pengembangan sistem sekaligus membangun prototipe yang dapat membantu pengguna memperkirakan dampak berbagai skenario.

Sistem yang dirancang memanfaatkan large language models (LLM) dengan sumber informasi dari pemberitaan media, situs berita, dan publikasi akademik.

Melalui teknologi tersebut, pengguna diharapkan dapat mengajukan pertanyaan mengenai suatu peristiwa atau kebijakan, kemudian memperoleh gambaran kemungkinan dampaknya terhadap aspek sosial, teknologi, politik, dan ekonomi.

Hasil perkiraan tersebut direncanakan dapat ditampilkan dalam bentuk peta, teks, dan gambar.

Farida juga mengangkat sejumlah skenario perubahan global dalam 80 tahun mendatang, mulai dari disrupsi teknologi akibat AI dan otomatisasi, perubahan iklim, hingga perubahan pola kerja sama antarnegara.

Meski demikian, skenario tersebut merupakan bagian dari eksplorasi kemungkinan masa depan, bukan kepastian mengenai peristiwa yang akan terjadi.

Media Bisa Membentuk Persepsi

Tak hanya membahas teknologi, Farida turut menyoroti peran media dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap suatu persoalan.

Ia menggunakan contoh kebakaran lahan dan kabut asap di Indonesia. Satu peristiwa kabut asap dapat diberitakan melalui sejumlah sudut pandang berbeda.

Kabut asap bisa digambarkan sebagai bencana alam akibat musim kemarau. Namun, peristiwa yang sama juga dapat dipandang sebagai persoalan petani yang membakar lahan, aktivitas perusahaan, atau lemahnya penegakan hukum.

Setiap sudut pandang tersebut menghasilkan penekanan berbeda mengenai penyebab masalah dan pihak yang dianggap bertanggung jawab.

Melalui contoh tersebut, Farida menjelaskan bahwa media tidak sekadar menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Media juga memiliki kekuatan membentuk pemahaman publik melalui proses pembingkaian atau framing.

Karena itu, dalam era Society 5.0, media memiliki tanggung jawab penting untuk membantu masyarakat memahami persoalan secara lebih utuh.

Farida bahkan menempatkan media dan informasi sebagai bagian dari infrastruktur publik yang sama pentingnya dengan jaringan air bersih dan listrik.

Soroti Cara Australia Memandang Indonesia

Dalam kesempatan tersebut, Farida juga membahas hubungan antara pemberitaan media dan persepsi masyarakat Australia terhadap Indonesia.

Ia menunjukkan bahwa gambaran Indonesia dalam pemberitaan Australia kerap dikaitkan dengan pariwisata, terorisme, kasus narkoba, bencana alam, serta kedatangan pencari suaka melalui jalur laut.

Menurut paparan Farida, gambaran yang terbatas tersebut menjadi persoalan karena Indonesia dan Australia merupakan negara bertetangga yang memiliki hubungan penting dalam bidang perdagangan, keamanan, pendidikan, dan pariwisata.

Ia juga mengangkat pengalaman masyarakat Indonesia yang tinggal di Perth, Australia.

Melalui pengalaman warga Indonesia, Farida menunjukkan bahwa penerimaan sosial tidak hanya berkaitan dengan status kewarganegaraan atau aturan formal.

Interaksi sehari-hari, penghargaan terhadap perbedaan budaya, dan stereotip masyarakat turut memengaruhi rasa diterima dalam lingkungan sosial.

Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa media dan komunikasi memiliki peran penting dalam membangun pemahaman antarbudaya.

Gotong Royong Jadi Pesan untuk Era Society 5.0

Menutup presentasinya, Farida menyampaikan tiga prinsip penting dalam menghadapi perkembangan Society 5.0.

Pertama, masyarakat perlu mempertanyakan siapa yang sebenarnya menghadapi persoalan dan siapa yang harus bertanggung jawab menyelesaikannya.

Kedua, keberhasilan Society 5.0 harus diukur berdasarkan siapa saja yang memperoleh manfaat teknologi, bukan semata-mata tingkat kecanggihannya.

Ketiga, media dan informasi perlu diperlakukan sebagai infrastruktur publik yang penting bagi kehidupan masyarakat.

Menariknya, Farida menggunakan konsep gotong royong sebagai pesan penutup.

Dalam paparannya, gotong royong dimaknai sebagai kerja sama untuk menanggung beban bersama.

Teknologi dapat membantu meringankan beban manusia. Namun, keputusan mengenai siapa yang harus berperan dan bagaimana tanggung jawab dibagi tetap berada di tangan manusia.

Melalui pemikiran tersebut, Farida menegaskan pentingnya menempatkan nilai kemanusiaan, solidaritas, dan inklusivitas dalam perkembangan teknologi.

Pesan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa tantangan Society 5.0 bukan hanya menciptakan teknologi yang semakin pintar, melainkan memastikan kemajuan tersebut memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. ***

Terkini