BENGKULU – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu mendorong optimalisasi pencatatan asal barang ekspor crude palm oil (CPO) untuk memperkuat kontribusi komoditas unggulan terhadap perekonomian daerah. Langkah ini dinilai penting agar potensi ekspor kelapa sawit Bengkulu tercermin lebih akurat dalam data perdagangan nasional sekaligus membuka peluang peningkatan Dana Bagi Hasil (DBH) sawit.
Upaya tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Optimalisasi Ekspor CPO untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Bengkulu yang digelar di Aula Hotel Mercure Bengkulu, Senin (26/10/2026).
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, mengatakan pencatatan asal barang ekspor menjadi salah satu langkah strategis untuk memperjelas kontribusi Bengkulu dalam perdagangan komoditas nasional, khususnya kelapa sawit dan kopi.
Menurutnya, potensi produksi yang besar perlu didukung sistem pencatatan ekspor yang tepat agar identitas komoditas berdasarkan daerah asal dapat dikenali dengan jelas.
“Dengan pencatatan asal barang, semua pihak bisa melihat bahwa Bengkulu memiliki produksi CPO dan kopi yang besar. Profil ekonomi daerah akan semakin jelas dan potensi kita lebih terlihat,” kata Wahyu.
BI Dorong Koordinasi Lintas Instansi untuk Optimalkan Ekspor CPO Bengkulu
BI Bengkulu menilai optimalisasi pencatatan asal barang membutuhkan koordinasi antara pemerintah daerah, instansi terkait, perusahaan perkebunan, eksportir, dan asosiasi usaha.
Untuk mempercepat pelaksanaannya, BI mengusulkan pembentukan satuan tugas (satgas) percepatan ekspor. Satgas ini diharapkan dapat memperkuat koordinasi sekaligus mendorong kepatuhan pelaku usaha dalam mencantumkan asal komoditas pada dokumen ekspor sesuai ketentuan.
Wahyu menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterima BI dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan, dalam pembahasan tersebut terdapat skema DBH terkait ekspor CPO dengan besaran 4 persen.
Potensi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya pembenahan administrasi dan pencatatan asal barang. Meski demikian, peningkatan penerimaan daerah tetap bergantung pada ketentuan yang berlaku serta mekanisme perhitungan DBH yang ditetapkan pemerintah.
BI juga akan mendorong sosialisasi kepada daerah sentra produksi kelapa sawit, perusahaan perkebunan, dan asosiasi terkait agar dokumen keterangan asal barang diterbitkan sesuai ketentuan.
Ekspor Lewat Pelabuhan Luar Bengkulu Tetap Bisa Menggunakan Asal Barang Bengkulu
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam optimalisasi ekspor CPO adalah jalur pengiriman komoditas. Menurut Wahyu, ekspor produk asal Bengkulu tidak harus dilakukan melalui pelabuhan yang berada di wilayah provinsi tersebut.
Komoditas dapat dikirim melalui pelabuhan di daerah lain, seperti Lampung atau Tanjung Priok, selama asal barang dicatat secara benar dan didukung dokumen yang sesuai.
“Pengiriman bisa melalui Lampung atau Tanjung Priok. Namun, dokumen asal barangnya tetap diterbitkan di Bengkulu. Yang penting, asal komoditasnya jelas sebagai produk Bengkulu,” ujarnya.
Dengan mekanisme pencatatan yang tepat, komoditas yang diproduksi di Bengkulu diharapkan tetap dapat dikenali berdasarkan daerah asalnya meskipun proses pengiriman dan ekspor dilakukan melalui wilayah lain.
Produksi Sawit Bengkulu Capai 1,5 Juta Ton per Tahun
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Bengkulu, Ir. Mian, menyampaikan bahwa produksi kelapa sawit di Provinsi Bengkulu diperkirakan mencapai 1,3 juta hingga 1,5 juta ton per tahun.
Besarnya produksi tersebut dinilai belum sepenuhnya tercermin dalam pencatatan ekspor nasional. Karena itu, pembenahan data asal barang menjadi perhatian pemerintah daerah untuk memperjelas kontribusi ekonomi sektor perkebunan Bengkulu.
“Bengkulu punya CPO, tapi Teluk Bayur punya nama. Makanya, kita perlu menegaskan pencatatan asal barang agar potensi ekspor Bengkulu tercatat dengan baik,” ujar Mian.
Ia berharap pencatatan ekspor yang lebih akurat dapat memperkuat dasar bagi perjuangan memperoleh DBH sawit yang lebih proporsional. Tambahan penerimaan tersebut diharapkan dapat mendukung pembangunan daerah, terutama perbaikan dan peningkatan infrastruktur jalan.
Selain pembenahan pencatatan ekspor, Pemerintah Provinsi Bengkulu juga mendorong peningkatan produktivitas perkebunan melalui program peremajaan sawit (replanting), intensifikasi perkebunan, serta penggunaan bibit unggul.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan keluarga petani turut menjadi perhatian agar produktivitas perkebunan dapat terus berkembang.
Melalui sinergi BI Bengkulu, pemerintah daerah, dan pelaku usaha, optimalisasi pencatatan asal barang ekspor diharapkan mampu memperkuat profil perdagangan Bengkulu, meningkatkan visibilitas komoditas unggulan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.
Kata kunci SEO: Bank Indonesia Bengkulu, ekspor CPO Bengkulu, optimalisasi ekspor sawit, Dana Bagi Hasil sawit, DBH sawit Bengkulu, produksi kelapa sawit Bengkulu, ekonomi Bengkulu 2026.
Meta description: BI Bengkulu mendorong optimalisasi pencatatan asal barang ekspor CPO untuk memperjelas kontribusi sawit Bengkulu, memperkuat data perdagangan, dan membuka peluang peningkatan DBH sawit.
Kata kunci GEO: Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Pemerintah Provinsi Bengkulu, ekspor CPO di Bengkulu, produksi kelapa sawit Bengkulu, pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu.